Russell T. Davies Ungkap Penyebab Kematian Doctor Who: Kelambatan BBC, Bukan Kreativitas
Baca dalam 60 detik
- Mantan showrunner Russell T. Davies menuding kelambatan pengambilan keputusan BBC sebagai penyebab utama Doctor Who masuk lelang kompetitif.
- Kegagalan kemitraan dengan Disney dan regenerasi kontroversial Ncuti Gatwa menjadi Billie Piper memperburuk posisi serial di mata publik.
- Masa depan Doctor Who kini bergantung pada tim baru, sementara tekanan finansial BBC diprediksi terus membayangi waralaba ini.

Mantan showrunner Doctor Who, Russell T. Davies, akhirnya membuka suara soal nasib serial sci-fi ikonik BBC tersebut. Dalam memoar terbarunya, The Queerest of Folk, yang kutipannya dimuat di The Guardian, Davies menyalahkan kelambatan birokrasi BBC sebagai faktor utama yang membuat Doctor Who kini berada di ambang lelang kompetitif. Bukan soal kreativitas atau arah cerita yang berani, melainkan ketidakmampuan institusi raksasa itu bergerak cepat di tengah krisis.
Davies, yang membangkitkan kembali Doctor Who pada 2005, mengungkap bahwa kemitraan dengan Disney selama dua musim justru menjadi awal kemunduran. Kerja sama itu dinilai tidak cocok sejak awal, dan ketika berakhir, tidak ada langkah tegas dari BBC untuk menyelamatkan serial. Alih-alih bergerak, para eksekutif terjebak dalam pertimbangan panjang yang membuat produksi terkatung-katung. Menurut Davies, BBC sebagai "institusi besar" harus terus berhadapan dengan tekanan media kanan dan pemilik modal yang siap menyerang setiap keputusan.
Situasi diperparah dengan kepergian sejumlah tokoh kunci, termasuk Charlotte Moore, yang disebut Davies sebagai salah satu pendukung terbesar Doctor Who. Tanpa sosok-sosok yang memahami nilai serial ini, proses pengambilan keputusan semakin lambat. Davies dan timnya pun terjebak dalam ketidakpastian, meski telah menyiapkan berbagai skenario, termasuk akhir cerita untuk Dokter Kelima Belas, Ncuti Gatwa.
Dalam memoar tersebut, Davies mengungkap bahwa ia sempat menggelar rapat Zoom dengan eksekutif BBC untuk meyakinkan mereka agar Gatwa beregenerasi menjadi Rose Tyler, diperankan Billie Piper. Ide itu dianggap bisa menarik perhatian publik. Piper setuju, dan Davies menulis, "itu berhasil, karena semua orang kembali memperhatikan pertunjukan ini." Namun, ia tidak merinci apakah perhatian tersebut mayoritas positif. Faktanya, regenerasi itu justru memicu perdebatan di kalangan penggemar.
"Rencana baru ini membebaskan pertunjukan," tulis Davies dalam memoarnya. "Masa depan bisa direncanakan oleh tim baru. Bersih, berani, dan cerah."
Meski BBC menyukai ide spesial Natal dengan Dalek di desa Inggris tua, semuanya tetap berjalan lambat. Piper kemudian sibuk dengan proyek Wednesday, Davies mengerjakan acara barunya, Tip Toe, dan masalah keuangan BBC semakin memburuk. Davies akhirnya menyerah. Menghabiskan dana besar untuk satu spesial sebelum lelang kompetitif dianggap tidak masuk akal.
Keputusan Davies untuk mundur dan menyerahkan tongkat estafet kepada tim baru menimbulkan pertanyaan besar. Ia meninggalkan tugas berat menangani kembalinya Piper, yang hingga kini belum jelas kelanjutannya. Klaim Davies bahwa arah baru akan "bersih" pun patut diragukan, mengingat warisan cerita yang ia tinggalkan cukup rumit.
Bagi penggemar Doctor Who di Indonesia, kisah ini menjadi cermin bagaimana industri hiburan global menghadapi tekanan institusional dan komersial. Serial yang telah berusia lebih dari enam dekade ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga waralaba bernilai tinggi. Ketika pemegang kebijakan lambat merespons, dampaknya tidak hanya pada kualitas cerita, tetapi juga pada kelangsungan ekosistem kreatif di dalamnya.
Ke depan, Doctor Who akan memasuki era baru di bawah kepemimpinan yang belum diketahui. Apakah tim baru mampu membawa angin segar, atau justru mewarisi masalah struktural yang sama? Satu hal yang pasti, tekanan finansial BBC tidak akan hilang dalam waktu dekat, dan para Whovian di seluruh dunia hanya bisa berharap serial kesayangan mereka tidak menjadi korban berikutnya dari birokrasi yang berlarut-larut.



