Aston Villa Terjepit Regulasi Keuangan: Enam Pilar Juara Europa League Hengkang, Emery di Ujian Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Klub asal Birmingham itu meraup sekitar 212 juta pound dari penjualan pemain musim panas ini, termasuk rekor transfer pemain Inggris senilai 117 juta pound untuk Morgan Rogers.
- Kepatuhan terhadap aturan rasio biaya skuad UEFA dan batasan kerugian Premier League memaksa Villa melepas pemain kunci, meski berhasil meraih trofi Europa League 2025.
- Masa depan Unai Emery menjadi sorotan; ia harus merombak tim dengan pemain muda dan berbiaya rendah, sementara kekhawatiran tentang kepergiannya mulai mengemuka.

Kurang dari tiga bulan setelah mengakhiri puasa gelar selama tiga dekade, Aston Villa justru menghadapi ancaman bubarnya skuad juara. Enam dari sebelas pemain yang tampil pada final Europa League melawan Freiburg telah hengkang atau dalam proses meninggalkan Villa Park, dengan Ezri Konsa menjadi nama terbaru yang dikabarkan pindah ke Arsenal senilai 51 juta pound. Keputusan ini bukan sekadar strategi, melainkan konsekuensi logis dari jerat regulasi keuangan yang membelenggu klub.
Musim panas ini menjadi ujian terbesar bagi Unai Emery sejak mengambil alih tim yang saat itu berada di peringkat 14 pada 2022. Selain Konsa, Villa telah kehilangan Youri Tielemans dan Morgan Rogersโdua pencetak gol di final Istanbulโdengan Rogers menjadi pemain Inggris termahal setelah diboyong Chelsea senilai 117 juta pound. Lucas Digne juga telah dijual ke Paris Saint-Germain, sementara masa depan kiper Emi Martinez masih menggantung setelah gagal pindah ke Juventus dan kedatangan penggantinya, Zion Suzuki. Klub Arab Saudi, Al-Hilal, dikabarkan masih berniat menguji ketahanan Villa untuk Ollie Watkins sebelum tenggat 1 September.
Di balik keputusan ini, terdapat tekanan ganda dari UEFA dan Premier League. Villa harus mematuhi rasio biaya skuad (SCR) yang membatasi pengeluaran hingga 70 persen dari pendapatan terkait sepak bola. Klub bahkan telah dua kali didenda UEFA, dengan total sanksi mencapai 28,9 juta pound, meski sebagian ditangguhkan. Di sisi lain, aturan Profit and Sustainability Rules (PSR) Premier League membatasi kerugian maksimal 105 juta pound dalam tiga tahun. Catatan keuangan Villa menunjukkan kerugian besar pada 2023 dan 2024, meski akhirnya membukukan laba 17 juta pound pada Juni 2025 berkat pendapatan dari Liga Champions.
Seorang mantan eksekutif Villa menyebut penjualan ini sebagai "keniscayaan karena aturan". Menurutnya, ambisi klub dibatasi secara tidak adil, memaksa terjadinya perputaran pemain yang sangat besar. "Sebagian karena PSR, sebagian karena permintaan pemain. Kombinasinya menjadi masalah besar bagi Emery," ujarnya. Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa belanja transfer Villa musim lalu hanya 71 juta pound, jauh di bawah klub-klub elite seperti Manchester City, Chelsea, dan Arsenal yang masing-masing mengeluarkan lebih dari 200 juta pound.
Namun, di tengah kepungan masalah, optimisme tetap ada. Kekalahan tipis dari Paris Saint-Germain pada Piala Super Eropa pekan lalu menunjukkan daya saing Villa dan kemampuan adaptasi Emery. Kapten John McGinn menegaskan bahwa struktur klub tetap utuh, berbeda dengan Manchester City, Liverpool, atau Chelsea yang berganti manajer. "Kami punya struktur, standar, dan aturan yang membuat kami sukses. Saya sangat antusias dengan Aston Villa yang baru," kata McGinn.
Villa kini mengubah arah dengan merekrut pemain muda berbakat. Brian Madjo, penyerang 17 tahun yang memenangkan sengketa registrasi dengan FIFA, langsung mencetak gol pada debutnya melawan PSG. Joao Gomes, Zion Suzuki, dan Matteo Ruggeri menjadi tambahan anyar, sementara Johan Manzambi memecahkan rekor transfer klub. Strategi ini dijalankan di bawah arahan Roberto Olabe yang menggantikan Monchi sebagai presiden operasional sepak bola. Namun, mantan pengambil keputusan Villa mengingatkan bahwa klub mungkin berada di ujung rantai kesepakatan transfer, dengan target yang saling bergantung.
Pada akhirnya, Emery tetap menjadi aset terbesar Villa. Ia telah membuktikan kemampuannya merombak tim sebelumnya, tetapi tantangan kali ini lebih berat. Seperti diungkapkan mantan eksekutif Villa, "Ada banyak harapan dan ambisi yang bertumpu pada manajer. Dia kartu as yang tersisa. Tekanan sangat besar, dan Anda bertanya-tanya apakah dia berpikir untuk pindah ke tempat dengan sumber daya lebih besar." Pertanyaan besarnya: mampukah Emery bertahan dan membangun kembali Villa dari puing-puing kebijakan finansial yang ketat, atau akankah ia menyerah pada kelelahan menghadapi tuntutan yang terus meningkat?



