Kakao Corp Pangkas Bisnis, KakaoTalk Dipisah ke Entitas Baru KakaoAI: Target Pendapatan Rp 68 Triliun pada 2030
Baca dalam 60 detik
- Kakao Corp akan memisahkan bisnis platform KakaoTalk ke perusahaan baru bernama KakaoAI, dengan target pencatatan saham di Bursa Korea pada Januari 2027.
- Langkah ini diambil untuk mengatasi diskon konglomerat dan meningkatkan fokus bisnis, dengan KakaoAI menangani AI, iklan, dan e-commerce, sementara KakaoX mengelola investasi di fintech, konten, dan mobilitas.
- Kakao menargetkan pendapatan KakaoAI mencapai 6 triliun won (sekitar Rp 68 triliun) pada 2030 dengan margin operasi di atas 30 persen, serta pembelian kembali saham senilai 300 miliar won.

Kakao Corp, pengelola aplikasi pesan instan terbesar di Korea Selatan, mengumumkan rencana pemisahan unit bisnis berbasis aplikasi obrolan menjadi perusahaan baru yang diberi nama sementara KakaoAI. Langkah ini diambil untuk menjawab kritik pasar mengenai struktur konglomerat yang dinilai kurang efisien, sekaligus memperkuat spesialisasi bisnis di tengah persaingan teknologi global yang semakin ketat.
Dalam pengajuan regulasi yang dirilis Jumat lalu, perusahaan yang berbasis di Seoul ini menyatakan akan memisahkan unit platform KakaoTalk, yang mencakup layanan AI, periklanan, dan e-commerce, ke dalam entitas baru bernama KakaoAI. Sementara itu, perusahaan induk yang akan berganti nama menjadi KakaoX akan tetap memegang portofolio investasi di bidang fintech, konten, dan mobilitas. Rencana pemisahan ini dijadwalkan efektif pada 1 Januari 2027, dengan KakaoAI akan mencatatkan sahamnya di Bursa Korea pada 27 Januari 2027.
Keputusan ini merupakan respons atas fenomena yang lazim disebut sebagai 'diskon konglomerat', di mana nilai pasar perusahaan induk sering kali lebih rendah dibandingkan nilai gabungan anak perusahaannya. Dengan memisahkan bisnis yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi, Kakao berharap dapat meningkatkan valuasi dan menarik minat investor yang selama ini ragu terhadap kompleksitas struktur bisnisnya. Analis menilai langkah ini juga sejalan dengan tren global di mana perusahaan teknologi besar mulai memecah diri untuk fokus pada inti bisnis yang paling menguntungkan.
Kakao juga menetapkan target ambisius untuk KakaoAI, yakni pendapatan minimal 6 triliun won (sekitar Rp 68 triliun) pada 2030 dengan margin operasi di atas 30 persen. Sementara itu, KakaoX ditargetkan membukukan pendapatan minimal 10 triliun won pada tahun yang sama. Sebagai perbandingan, pendapatan konsolidasi Kakao pada 2025 tercatat sebesar 8,1 triliun won, yang menunjukkan bahwa target tersebut menuntut pertumbuhan signifikan dalam lima tahun ke depan.
Selain pemisahan, perusahaan juga berkomitmen untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai 300 miliar won selama tiga tahun setelah pemisahan. Langkah ini diharapkan dapat menenangkan investor yang khawatir terhadap prospek jangka pendek, sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap kinerja keuangan perusahaan ke depan.
Bagi pasar Indonesia, langkah Kakao ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya restrukturisasi bisnis untuk meningkatkan nilai perusahaan. Di tengah maraknya konglomerat teknologi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pemisahan unit bisnis yang memiliki fokus berbeda dapat menjadi strategi untuk menarik investasi dan meningkatkan transparansi. Namun, perlu diingat bahwa restrukturisasi semacam ini juga membawa risiko, seperti biaya transisi yang tinggi dan potensi gangguan operasional.
Ke depan, keberhasilan Kakao dalam menjalankan rencana ini akan menjadi ujian apakah pemisahan bisnis benar-benar dapat mengatasi diskon konglomerat dan mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah langkah serupa akan diadopsi oleh raksasa teknologi lain di Asia, dan bagaimana dampaknya terhadap lanskap industri digital regional?



