NASA, Jerman, dan Kanada Jalin Kemitraan Riset Pertanian Bulan, Fondasi Koloni Manusia di Luar Angkasa
Baca dalam 60 detik
- Tiga badan antariksa menandatangani pernyataan niat untuk mengembangkan modul pertanian bulan yang diuji di Bumi.
- Teknologi ini diharapkan memasok nutrisi kru, mendaur ulang air, dan menghasilkan oksigen selama misi jangka panjang.
- Keberhasilan riset ini akan menentukan kelayakan hunian permanen di Bulan dan menjadi batu loncatan menuju Mars.

NASA bersama Canadian Space Agency (CSA) dan German Aerospace Center (DLR) resmi menjalin kerja sama riset untuk mengembangkan pertanian di Bulan. Kesepakatan yang dituangkan dalam pernyataan niat bersama itu menjadi langkah awal menuju pembangunan sistem pangan mandiri bagi awak misi antariksa, sekaligus fondasi bagi kehadiran manusia jangka panjang di satelit alami Bumi tersebut.
Inti dari kolaborasi ini adalah pembuatan demonstrator berbasis Bumi yang dinamai Lunar Agriculture Module-Ground Test Demonstrator. Fasilitas tersebut dirancang untuk menumbuhkan tanaman dalam kondisi atmosfer dan lingkungan terkendali yang menyerupai habitat di Moon Base—pangkalan yang direncanakan NASA dan mitranya di dekat Kutub Selatan Bulan. Tujuannya jelas: memastikan tanaman dapat bertahan hidup dan berproduksi di lingkungan ekstrem sebelum benar-benar ditanam di permukaan Bulan.
Bagi awak yang menjelajah jauh dari Bumi, pasokan pangan segar bukan sekadar pelengkap. Tanaman menyediakan nutrisi lengkap, memperkaya variasi menu, dan yang tak kalah penting, berperan dalam siklus hidup tertutup: menyerap karbon dioksida, memproduksi oksigen, serta mendaur ulang air. NASA menegaskan kemampuan ini akan semakin krusial seiring misi manusia melangkah lebih jauh ke luar angkasa, termasuk rencana perjalanan ke Mars.
Langkah ini bukan proyek ambisius tanpa dasar. Sejumlah eksperimen sebelumnya telah menanam sayuran di Stasiun Antariksa Internasional (ISS), namun skala dan tujuannya berbeda. Kali ini, fokusnya adalah menciptakan ekosistem pertanian yang dapat diandalkan untuk misi berdurasi panjang, di mana pasokan dari Bumi menjadi tidak praktis. Jika berhasil, teknologi ini tidak hanya menopang kehidupan di Bulan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada logistik peluncuran yang mahal dan berisiko.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran strategis. Sebagai negara dengan program antariksa yang sedang tumbuh, Indonesia dapat memetik manfaat dari riset serupa di bidang pertanian ekstrem—misalnya untuk lahan marginal atau daerah terpencil. Kolaborasi internasional semacam ini juga membuka peluang bagi peneliti dan insinyur Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok teknologi pendukung kehidupan, dari sensor lingkungan hingga sistem hidroponik cerdas. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini bergabung dalam BRIN dapat menjajaki kerja sama teknis, terutama dalam pengembangan tanaman tahan kondisi ekstrem yang relevan dengan ketahanan pangan nasional.
"Kemampuan menumbuhkan pangan di luar Bumi adalah kunci untuk memperpanjang durasi misi dan mewujudkan kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan," demikian pernyataan NASA dalam siaran persnya, seperti dikutip dari laman resmi.
Dengan arah kebijakan yang kian konkret, pertanyaannya kini bukan lagi apakah manusia bisa bertani di Bulan, melainkan seberapa cepat ekosistem pertanian bulan dapat diwujudkan. Keberhasilan demonstrator ini akan menjadi penentu apakah visi koloni manusia di Bulan dan Mars dapat direalisasikan dalam beberapa dekade mendatang, atau tetap menjadi mimpi panjang yang menunggu terobosan teknologi berikutnya.



