Brook Tunjukkan Kedewasaan, tapi Jalan Menuju Kapten Inggris Masih Panjang
Baca dalam 60 detik
- Harry Brook mencetak 91 run tanpa tekanan pada hari kedua Tes pertama melawan Pakistan, menandai perubahan pendekatan yang lebih tenang.
- Keputusan ECB menunjuk Joe Root sebagai kapten Tes menyoroti masalah kematangan Brook, meski ia dianggap bakat langka setara Kevin Pietersen.
- Dengan Ashes 2025-26 di depan, Brook punya peluang membuktikan diri sebagai kandidat kapten masa depan, tetapi persaingan dari Jacob Bethell mengintai.

Harry Brook akhirnya menunjukkan performa yang selama ini dinantikan para pengamat kriket Inggris. Pada hari kedua Tes pertama melawan Pakistan di Multan, ia mencetak 91 run dari 93 bola dengan tenang, tanpa satu pun ayunan liar yang kerap menjadi ciri khasnya di masa lalu. Inilah momen yang bisa menjadi titik balik karier pemain berusia 25 tahun itu, terutama setelah ia gagal dipercaya menjadi kapten tim.
Penampilan Brook ini muncul hanya beberapa pekan setelah ia dilewatkan sebagai kandidat kapten Tes Inggris. Manajer pelaksana ECB, Rob Key, dan jajaran lainnya sempat mempertimbangkannya secara serius, namun akhirnya memilih Joe Root. Keputusan itu, menurut analis kriket Jonathan Agnew, tidak lepas dari masalah kematangan yang kerap ditunjukkan Brook, baik di lapangan maupun di luar lapangan.
Brook memang diakui sebagai salah satu talenta terbaik Inggris sejak era Kevin Pietersen dan David Gower. Namun, kegagalannya di Ashes musim dingin laluโsaat ia kerap terjebak dalam pukulan agresif yang berujung pada kehilangan wicketโmenjadi catatan besar. Agnew menilai, pendekatan barunya yang lebih sabar ini adalah blueprint yang harus dipertahankan Brook sepanjang karier Tes-nya.
Keputusan menunjuk Root sebagai kapten bukan tanpa alasan. Peran kapten Tes tidak hanya soal strategi di lapangan, tetapi juga kemampuan mewakili negara dan berbicara soal isu-isu sensitif, seperti yang terjadi dalam kasus Zimbabwe dan Afghanistan. Brook belum menunjukkan kapasitas itu. Namun, masa jabatan Root diprediksi tidak akan lama, mungkin hanya sampai Ashes tahun depan. Ini membuka peluang bagi Brook untuk membuktikan diri di sisa waktu yang ada.
Di sisi lain, muncul nama Jacob Bethell yang dinilai memiliki jiwa kepemimpinan kuat. Jika Brook tidak segera menunjukkan kedewasaan, bukan tidak mungkin ia akan tersalip. Namun, dengan performa seperti yang ia tunjukkan di Multan, Brook memberi sinyal bahwa ia serius memperbaiki diri.
Selain Brook, penampilan Jordan Cox yang mencetak 73 run juga patut diapresiasi. Cox menunjukkan disiplin dan kelas yang sama, meski ia kecewa karena terjebak dalam miskalkulasi terhadap spinner Usman Ali. Sementara itu, Joe Root tampil solid sebagai jangkar inning, memberikan stabilitas yang selama ini kurang dalam era Bazball.
Dua hari yang tenang ini menjadi angin segar setelah beberapa bulan penuh gejolak bagi kriket Inggris. Namun, Agnew mengingatkan agar Inggris tidak membuang semua filosofi positif yang dibawa Brendon McCullum dan Ben Stokes. Tim harus tetap mempertahankan agresivitas, tetapi dengan kalkulasi yang matang, bukan sekadar nekat.
Pakistan sendiri dinilai melakukan kesalahan dalam pemilihan tim. Mereka tidak menyertakan seamer tambahan, sehingga lini serangan mereka kekurangan pace. Ini menjadi keuntungan besar bagi Inggris yang sedang dalam fase reset. Dengan keunggulan 185 run, Inggris berpeluang memenangkan seri ini dan memulai era baru di bawah kepemimpinan Root dengan hasil positif.
Bagi penggemar kriket Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti, terutama karena gaya bermain Brook yang agresif namun terkendali bisa menjadi inspirasi bagi pemain muda di Asia. Sementara itu, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Brook mempertahankan konsistensi ini hingga Ashes mendatang, atau akankah ia kembali ke kebiasaan lamanya? Hanya waktu yang bisa menjawab.



