Gempa NTT: KRI dr. Soeharso Jadi Rumah Sakit Apung, Operasi Ortopedi Pertama Berhasil
Baca dalam 60 detik
- KRI dr. Soeharso-990 menjalankan operasi ortopedi pertama untuk korban gempa NTT, menandakan kesiapan alutsista dalam tanggap bencana.
- Kapal perang yang disulap menjadi rumah sakit apung ini mempercepat akses layanan kesehatan di daerah terpencil yang terdampak gempa.
- Keberhasilan operasi tersebut menjadi preseden bagi pemanfaatan aset militer dalam penanganan bencana alam di Indonesia.

Di tengah kekacauan pascagempa berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, sebuah kapal perang berubah menjadi ruang operasi darurat. Sabtu pagi (22/8), tim medis TNI Angkatan Laut berhasil melakukan operasi ortopedi pertama di atas KRI dr. Soeharso-990, menyelamatkan seorang warga lanjut usia yang tertimpa reruntuhan rumahnya. Langkah ini menegaskan peran ganda alutsista militer sebagai garda terdepan dalam krisis kemanusiaan.
Korban, Arnol Dus (68), mengalami patah tulang bahu kiri dan panggul setelah dinding rumahnya roboh pada 15 Agustus lalu. Ia menjadi salah satu dari ratusan korban yang membutuhkan penanganan medis serius, sementara fasilitas kesehatan darat di NTT kewalahan. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran KRI dr. Soeharso-990 yang berlabuh di dekat lokasi bencana menjadi penyelamat. Kapal yang dirancang sebagai rumah sakit terapung ini dilengkapi peralatan medis lengkap dan tim dokter spesialis, termasuk Letkol Laut (K) dr. Pieter Giarso, Sp.OT., dokter ortopedi yang memimpin operasi.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama I Tunggul, menjelaskan bahwa operasi berlangsung sekitar pukul 08.00 WIT dan berjalan sukses. โIni adalah wujud nyata komitmen TNI AL dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana,โ ujarnya. Kapal tersebut akan terus disiagakan untuk memberikan layanan kesehatan, sebuah keputusan yang dinilai tepat mengingat akses darat ke sejumlah daerah di NTT masih terputus akibat kerusakan infrastruktur.
Keberadaan KRI dr. Soeharso-990 dalam operasi kemanusiaan ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan militer dalam menghadapi bencana alam, yang kerap melanda Indonesia. Menurut analis pertahanan, penggunaan kapal perang sebagai rumah sakit apung bukan hanya solusi darurat, tetapi juga investasi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan nasional. โIni menunjukkan bahwa alutsista tidak hanya untuk perang, tetapi juga untuk menyelamatkan nyawa,โ kata seorang pengamat militer yang enggan disebutkan namanya.
Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa ini memberikan secercah harapan di tengah duka. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah Indonesia sudah memiliki strategi jangka panjang untuk penanganan bencana yang melibatkan aset militer secara optimal? Dengan frekuensi bencana alam yang tinggi, kebutuhan akan rumah sakit terapung dan tim medis siaga bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Ke depan, pemerintah perlu mengevaluasi kesiapan logistik dan personel untuk operasi serupa. Koordinasi antara TNI, BNPB, dan pemerintah daerah juga harus diperkuat agar respons terhadap bencana tidak hanya bergantung pada keberuntungan. Keberhasilan operasi di KRI dr. Soeharso-990 bisa menjadi model, tetapi tanpa perencanaan yang matang, kapal ini hanyalah solusi sementara di tengah persoalan yang jauh lebih kompleks.



