Singapura-India Perluas Kerja Sama Semikonduktor dan Ketahanan Pangan: Peluang bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Menteri kedua negara membahas investasi semikonduktor, pelatihan tenaga kerja, dan jaminan pasokan pangan dalam pertemuan tingkat menteri keempat di Singapura.
- Kesepakatan baru mencakup keamanan pangan, warisan maritim, serta eksplorasi kerja sama di bidang telekomunikasi dan penyiaran.
- Langkah ini berpotensi memperkuat posisi Singapura sebagai hub regional, sekaligus membuka peluang bagi negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, dalam rantai pasok semikonduktor.

Singapura dan India kembali menegaskan komitmen strategis mereka dengan membahas kerja sama di bidang semikonduktor, ketahanan pangan, dan pengembangan keterampilan dalam pertemuan tingkat menteri keempat yang digelar di Singapura, Kamis (20/8). Deputi Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong menyebut diskusi berlangsung produktif dan kedua pihak saling terbuka, sebuah modal penting untuk mempercepat kolaborasi bilateral.
Pertemuan yang berlangsung di Shangri-La Hotel itu dihadiri delegasi India yang dipimpin Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman, Menteri Luar Negeri S. Jaishankar, Menteri Perdagangan dan Industri Piyush Goyal, serta Menteri Negara untuk Perdagangan dan Teknologi Informasi Jitin Prasada. Sementara itu, Singapura mengirimkan Gan Kim Yong, Menteri Hukum K. Shanmugam, Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan, Menteri Digital Josephine Teo, dan Menteri Transportasi Jeffrey Siow. Delegasi India juga sempat bertemu Perdana Menteri Lawrence Wong untuk memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif (CSP) yang telah dinaikkan statusnya sejak September 2024.
Salah satu sorotan utama adalah perkembangan investasi semikonduktor di India. Sejak penandatanganan nota kesepahaman (MOU) pada 2024, sejumlah produsen semikonduktor telah menanamkan modal di India dan berencana mengajak pemasok mereka, termasuk perusahaan-perusahaan Singapura, untuk turut serta. Gan menekankan pentingnya mempermudah akses pasar bagi perusahaan asing serta membangun pusat pelatihan tenaga kerja yang digerakkan oleh industri. "Kami berharap dapat mendirikan pusat pelatihan semikonduktor, khususnya," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pelatihan harus berbasis kebutuhan industri.
Di sektor digital, kerja sama antara sistem pembayaran PayNow Singapura dan Unified Payments Interface (UPI) India dinilai berjalan baik. Kedua negara juga berharap Project Nexusโinisiatif menghubungkan pembayaran digital lintas negaraโsegera terealisasi. Selain itu, Bursa Efek Singapura (SGX) tengah menjajaki kolaborasi dengan Bursa Efek Nasional India untuk memperkenalkan derivatif dan pencatatan ganda, yang dapat memperluas akses modal bagi perusahaan India sekaligus memperkuat posisi SGX di kawasan.
Dalam hal ketahanan pangan, kedua negara sepakat untuk menjajaki kerja sama yang lebih erat guna memastikan pasokan pangan dari India ke Singapura tidak terganggu saat krisis, seperti yang terjadi selama pandemi COVID-19. Singapura kini tengah membahas hal serupa dengan India, setelah sebelumnya memiliki perjanjian dengan Australia dan Selandia Baru. Di sisi lain, Singapura juga menunjukkan minat untuk berkolaborasi di bidang teknologi antariksa dan nuklir, meskipun keputusan untuk mengadopsi energi nuklir belum diambil. "Penting bagi kami untuk mengikuti perkembangan teknologi ini," kata Gan.
Dalam bidang penerbangan, kedua negara tengah menyusun nota kesepahaman untuk membangun pusat perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO). Langkah ini dinilai penting mengingat Singapore Airlines memiliki saham di Air India, sehingga kapabilitas MRO perlu ditingkatkan. "Kami berharap MOU dapat segera ditandatangani untuk menjadi kerangka kerja sama MRO," ungkap Gan.
Selain itu, Singapura dan India juga menandatangani dua MOU lainnya: satu di bidang keamanan pangan yang melibatkan Singapore Food Agency dan Food Safety and Standards Authority of India, serta satu lagi di bidang warisan maritim antara Kementerian Kebudayaan Singapura dan Kementerian Pelabuhan India. Kedua MOU ini bertujuan memperkuat pertukaran informasi teknis, pelatihan, dan partisipasi dalam forum internasional. Tak ketinggalan, kedua negara menandatangani letter of intent untuk kerja sama di bidang telekomunikasi dan penyiaran, termasuk perlindungan konsumen dan regulasi penyiaran.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara dengan industri semikonduktor yang sedang berkembang, Indonesia dapat belajar dari model pelatihan tenaga kerja yang diusulkan Singapura dan India. Selain itu, meningkatnya konektivitas digital dan perdagangan di kawasan dapat membuka pasar baru bagi produk Indonesia. Namun, persaingan untuk menarik investasi asing di sektor teknologi juga semakin ketat. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok semikonduktor global?



