Gibran Turun ke NTT: Tinjau Langsung Penanganan Gempa dan Bawa Trauma Healing untuk Korban
Baca dalam 60 detik
- Wapres Gibran Rakabuming Raka tiba di Maumere, NTT, untuk memantau langsung penanganan pascagempa magnitudo 7,7 yang menewaskan 71 orang dan mengungsikan puluhan ribu warga.
- Kunjungan ini menegaskan prioritas pemerintah pada pemulihan psikososial, dengan melibatkan enam mahasiswa untuk trauma healing, di tengah distribusi bantuan yang masih mengandalkan jalur darat.
- Dengan dana Rp44 miliar yang telah digelontorkan dan sembilan HEOC yang diaktifkan, fokus ke depan adalah memastikan layanan kesehatan dan logistik menjangkau daerah terpencil seperti Manggarai.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendarat di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis siang, untuk meninjau langsung proses pemulihan pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan sebagian wilayah tersebut. Kedatangannya yang hanya berselang beberapa hari setelah bencana mengguncang, mengirim sinyal kuat bahwa pemerintah menempatkan penanganan darurat dan pemulihan psikologis korban sebagai prioritas utama.
Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 13.00 WITA itu, Gibran tidak sendirian. Ia didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno, dan yang menarik perhatian, enam mahasiswa yang direkrut khusus untuk menjalankan trauma healing atau pemulihan trauma bagi para penyintas. Langkah ini menunjukkan pergeseran pendekatan dari sekadar bantuan fisik menuju pemulihan mental, sebuah aspek yang kerap terabaikan dalam penanganan bencana di Indonesia.
Skala dampak gempa ini masih terasa berat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Rabu (19/8) pukul 20.00 WIB, korban jiwa mencapai 71 orang. Sementara itu, jumlah pengungsi di seluruh NTT mencapai 59.647 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Manggarai. Angka-angka ini menggambarkan beban logistik dan layanan dasar yang sangat besar, terutama di daerah-daerah yang aksesnya terbatas.
Distribusi bantuan sendiri berjalan dengan mengandalkan kombinasi moda transportasi. Hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB, tercatat 165 ton logistik telah dikirim melalui udara, dan total barang bantuan yang terkirim sejak 15-18 Agustus 2026 mencapai 398 ton. Meski jalur udara menjadi andalan untuk menjangkau daerah terisolir, pemerintah menegaskan bahwa jalur darat tetap menjadi moda utama, sebuah keputusan yang menimbulkan pertanyaan tentang kecepatan penyaluran ke titik-titik pengungsian yang sulit dijangkau.
Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengaktifkan sembilan fasilitas Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk memperkuat koordinasi dan memastikan kebutuhan medis pascagempa dapat ditangani dengan cepat. Ini termasuk penanganan trauma psikologis yang kini menjadi fokus tambahan, mengingat banyak korban, terutama anak-anak, mengalami gangguan stres pascatrauma.
Pemerintah pusat telah mengucurkan dana sekitar Rp44 miliar untuk penanganan bencana di NTT, menurut keterangan Kementerian Keuangan per Rabu (19/8). Angka ini akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan di lapangan, terutama untuk rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang. Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana memastikan dana tersebut tepat sasaran dan tidak tersendat di birokrasi, sebuah tantangan klasik dalam penanganan bencana di tanah air.
Kunjungan Gibran kali ini juga menjadi sorotan karena melibatkan mahasiswa dalam proses pemulihan. Ini bisa menjadi model baru dalam penanganan bencana yang mengedepankan partisipasi generasi muda. Namun, efektivitas trauma healing oleh mahasiswa yang mungkin belum memiliki pengalaman lapangan perlu dievaluasi, terutama dalam menghadapi kasus-kasus trauma berat.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan tidak hanya bantuan darurat, tetapi juga rencana pemulihan jangka panjang yang mencakup perbaikan infrastruktur, layanan kesehatan mental berkelanjutan, dan pemulihan ekonomi masyarakat. Apakah kehadiran Wapres dengan rombongan mahasiswa ini akan mempercepat proses tersebut, atau hanya menjadi seremonial belaka? Waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, tekanan terhadap pemerintah untuk bertindak cepat dan tepat kini semakin besar.



