Api Melalap Desa Adat Sade: Warisan 600 Tahun Sasak yang Terancam Hilang
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran melanda Desa Adat Sade di Lombok Tengah pada 22 Agustus 2026, menghanguskan rumah-rumah tradisional berbahan alang-alang.
- Peristiwa ini tidak hanya merenggut harta benda warga, tetapi juga mengancam kelestarian artefak budaya dan tradisi menenun khas Sasak.
- Upaya restorasi dan perlindungan warisan budaya menjadi sorotan, mengingat Sade merupakan ikon pariwisata di koridor Mandalika.

Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (22/8) malam tidak hanya menghanguskan puluhan rumah tradisional, tetapi juga membawa duka mendalam bagi masyarakat Sasak yang telah menjaga warisan leluhur selama berabad-abad. Peristiwa ini terjadi hanya 13 hari setelah desa tersebut ramai dikunjungi wisatawan, menandakan betapa cepatnya sebuah ikon budaya bisa berubah menjadi puing.
Desa Sade, yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-14, selama ini menjadi salah satu tujuan wisata utama di jalur menuju Kuta Mandalika. Rumah-rumah adatnya yang beratap alang-alang, serta tradisi menenun nyesek yang diwariskan turun-temurun, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, bahan-bahan alami yang mudah terbakar justru membuat api menjalar dengan cepat, meluluhlantakkan apa yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Salah seorang warga, Amaq Imi, menuturkan bahwa kebakaran terjadi secara tiba-tiba ketika sebagian warga sedang tertidur. Banyak barang berharga, termasuk kain tenun, uang, dan telepon seluler, tidak sempat diselamatkan. Kejadian ini tidak hanya menghancurkan tempat tinggal, tetapi juga mengancam keberlangsungan pengetahuan adat yang melekat pada aktivitas menenun, yang bagi perempuan Sasak merupakan penanda kedewasaan sebelum menikah.
Kebakaran ini menyoroti kerentanan situs warisan budaya di Indonesia yang umumnya berbahan organik. Berbeda dengan bangunan cagar budaya dari batu atau beton, rumah tradisional Sade yang terbuat dari kayu dan alang-alang memerlukan perhatian khusus dalam hal pencegahan kebakaran. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi pengelola destinasi wisata budaya lainnya di tanah air, seperti Desa Wae Rebo di NTT atau Kampung Naga di Jawa Barat, yang memiliki karakteristik serupa.
Di tengah duka, muncul pertanyaan besar mengenai langkah restorasi ke depan. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penyelamatan artefak budaya yang mungkin masih bisa diselamatkan, termasuk cerita-cerita lisan warga yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Sade. Seperti yang ditegaskan dalam laporan awal, bagian terpenting adalah menyelamatkan artefak-artefak kebudayaan, termasuk narasi-narasi yang hidup di masyarakat.
Bagi Indonesia, kehilangan Desa Sade bukan sekadar kerugian material. Desa ini adalah laboratorium hidup budaya Sasak yang mendukung sektor pariwisata di kawasan ekonomi khusus Mandalika. Dengan dibukanya MotoGP dan berbagai event internasional, Sade menjadi salah satu daya tarik utama yang memperkuat citra Lombok sebagai destinasi kelas dunia. Kerusakan ini berpotensi mengurangi daya tarik wisatawan, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan masyarakat lokal dan devisa negara.
Ke depan, diperlukan strategi komprehensif yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan komunitas adat untuk merancang sistem mitigasi kebakaran yang tidak mengubah keaslian arsitektur. Penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) yang tersembunyi, pelatihan tanggap darurat bagi warga, serta pembentukan tim pemadam kebakaran desa menjadi langkah konkret yang bisa diadopsi. Namun, yang tidak kalah penting adalah mendokumentasikan pengetahuan tradisional sebelum semuanya hilang.
Akankah Desa Adat Sade bangkit kembali dengan wajah yang sama, atau justru berubah menjadi bentuk yang berbeda? Pertanyaan ini menggantung di tengah upaya pemulihan yang masih berlangsung. Satu hal yang pasti, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya adalah aset yang rapuh, membutuhkan perlindungan yang serius, bukan hanya sekadar objek wisata semata.



