Terobosan NUS: Obat RX-5902 Matikan 'Saklar Utama' Kanker Payudara Agresif
Baca dalam 60 detik
- Peneliti NUS Medicine menemukan obat RX-5902 yang mampu menonaktifkan regulator DP103, memutus siklus pertumbuhan sel kanker payudara triple-negatif.
- Uji laboratorium menunjukkan penurunan ukuran tumor hingga 90% dan perpanjangan masa hidup model, membuka peluang terapi personal berbasis biomarker DP103.
- Temuan ini berpotensi merevolusi pengobatan kanker payudara agresif, termasuk di Indonesia, dengan skrining pasien yang lebih tepat sasaran.

Tim peneliti dari Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore (NUS Medicine), berhasil mengidentifikasi obat yang mampu mematikan 'saklar utama' pertumbuhan tumor pada kanker payudara triple-negatif, subtipe kanker yang dikenal agresif dan sulit diobati. Temuan ini membuka jalan bagi terapi yang lebih personal dan efektif, terutama bagi pasien muda yang paling rentan terhadap penyakit ini.
Kanker payudara triple-negatif menyumbang sekitar 15–20 persen dari seluruh kasus kanker payudara dan secara tidak proporsional menyerang wanita di bawah usia 40 tahun. Berbeda dengan subtipe lain, kanker ini tidak memiliki tiga reseptor utama—estrogen, progesteron, dan HER2—yang biasanya menjadi target obat-obatan konvensional. Akibatnya, pilihan pengobatan menjadi sangat terbatas, dan risiko kekambuhan dini serta metastasis (penyebaran ke organ lain) sangat tinggi.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cell Death And Disease, tim yang dipimpin oleh Asisten Profesor Alan Prem Kumar dari NUS Centre for Cancer Research (N2CR) ini mengungkap peran penting protein DP103 sebagai regulator utama dalam jalur sinyal Wnt. DP103 menciptakan lingkaran setan: sel kanker terus tumbuh, menyebar, dan kebal terhadap pengobatan, sekaligus mempertahankan sel punca kanker yang menjadi biang kekambuhan.
Obat yang diuji, RX-5902 (juga dikenal sebagai Supinoxin), bekerja dengan menghambat DP103, sehingga memutus siklus keganasan tersebut. Dalam analisis terhadap 21 sampel—termasuk jaringan tumor pasien, sel kanker yang ditumbuhkan di laboratorium, dan organoid dari pasien lokal—obat ini berhasil menurunkan viabilitas sel punca kanker sebesar 40–60 persen dan mengurangi pertumbuhan tumor hingga sekitar 50 persen pada model laboratorium. Bahkan, pada model tikus, ukuran tumor menyusut hingga 90 persen tanpa merusak sel sehat, dan 50 persen dari model yang dirawat bertahan hidup hingga 70 hari atau lebih, sementara kelompok kontrol tidak ada yang mencapai angka tersebut.
Menurut Kumar, temuan ini menunjukkan bahwa DP103 dapat berfungsi sebagai biomarker diagnostik untuk mengidentifikasi pasien yang paling mungkin mendapat manfaat dari RX-5902. "Alih-alih memperlakukan semua pasien dengan cara yang sama, uji klinis di masa depan dapat berfokus pada mereka yang tumornya memiliki kadar DP103 tinggi, di mana terapi ini diperkirakan memberikan dampak terbesar," ujarnya. Penulis pertama studi, Cai Wanpei, menambahkan bahwa RX-5902 mencegah protein beta-catenin memasuki inti sel, sehingga mematikan gen yang mendorong pertumbuhan dan penyebaran kanker, serta memicu apoptosis (kematian sel alami).
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang signifikan. Angka kejadian kanker payudara di Indonesia mencapai sekitar 42 per 100.000 penduduk, dan sebagian besar terdiagnosis pada stadium lanjut. Subtipe triple-negatif sering kali ditemukan pada pasien muda, dengan prognosis yang buruk. Jika terapi berbasis DP103 terbukti efektif dalam uji klinis, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan skrining biomarker untuk memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat sejak awal, mengurangi beban ekonomi dan sosial akibat penyakit ini.
Peneliti juga mencatat bahwa sinyal Wnt yang abnormal turut mendorong beberapa jenis kanker lainnya, sehingga temuan ini berpotensi meluas ke pengobatan kanker agresif lain. Langkah berikutnya bagi tim adalah memvalidasi DP103 sebagai biomarker prediktif pada kelompok pasien yang lebih besar, serta mengembangkan terapi yang menargetkan regulator ini untuk uji klinis. Mereka juga akan mengeksplorasi kombinasi RX-5902 dengan terapi yang sudah ada untuk meningkatkan hasil pengobatan.
Dengan semakin dekatnya era pengobatan presisi, pertanyaan yang muncul adalah: seberapa cepat temuan laboratorium ini dapat diterjemahkan menjadi terapi yang terjangkau dan dapat diakses oleh pasien di negara berkembang seperti Indonesia? Jawabannya akan menentukan apakah terobosan ini benar-benar mengubah lanskap pengobatan kanker payudara di kawasan Asia Tenggara.



