Evakuasi Udara Korban Gempa NTT: TNI AU dan BNPB Selamatkan Lansia di Sikka
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan lanjut usia berusia 78 tahun dievakuasi lewat jalur udara dari Sikka, NTT, Sabtu lalu.
- Operasi ini menandai sinergi cepat antara TNI AU dan BNPB dalam merespons kondisi darurat pascagempa.
- Ke depan, kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci percepatan pemulihan layanan kesehatan di daerah terdampak.

Seorang warga lanjut usia di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berhasil dievakuasi melalui jalur udara oleh personel TNI Angkatan Udara bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Sabtu (22/8). Korban yang diketahui bernama Maria Goreti Lelu (78) langsung diterbangkan ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan perawatan intensif.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, mengungkapkan bahwa kondisi pasien cukup kritis saat ditemukan. Berdasarkan pemeriksaan awal, perempuan asal Kajukeri, Rokatenda, Alok Timur itu mengalami sesak napas, nyeri dada kiri, palpitasi, batuk, serta edema bilateral pada tungkai. Tim medis yang berada di lokasi sempat memberikan dukungan oksigen dan terapi emergensi sebelum proses evakuasi dilakukan.
Proses penyelamatan ini melibatkan personel Batalyon Kesehatan TNI AU (Yonkesau) dan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) yang bertugas membawa korban menuju helikopter BNPB. Setelah itu, penerbangan dilanjutkan ke RSUD Dr. T.C. Hillers di Maumere untuk penanganan lebih lanjut. Langkah ini menjadi contoh nyata bagaimana koordinasi lintas institusi dapat mempercepat akses layanan kesehatan di daerah terpencil yang terdampak bencana.
Menurut I Nyoman, keberhasilan evakuasi ini merupakan bukti kuatnya kolaborasi antara TNI AU dan BNPB. Ia menegaskan bahwa personelnya akan terus bersinergi dengan berbagai pihak untuk mendukung pemulihan wilayah NTT pascagempa. Sebelumnya, TNI AU juga telah menyiagakan enam pesawat angkut logistik, sementara KRI dr. Soeharso dikerahkan untuk memperkuat layanan kesehatan di Manggarai. Bahkan, TNI AD turut mengerahkan kapal untuk mengangkut bantuan logistik ke wilayah terdampak.
Bencana gempa yang melanda NTT beberapa waktu lalu memang menuntut respons cepat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia. Akses darat yang terputus akibat kerusakan infrastruktur membuat evakuasi udara menjadi pilihan paling efektif. Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan logistik dan personel medis di daerah rawan bencana, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki karakteristik geografis serupa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana memastikan keberlanjutan layanan kesehatan bagi korban gempa, tidak hanya saat tanggap darurat tetapi juga pada fase pemulihan jangka panjang. Akankah kolaborasi antara TNI dan BNPB ini menjadi model standar dalam penanganan bencana di seluruh Indonesia? Yang jelas, upaya penyelamatan nyawa seperti ini harus terus diperkuat dan direplikasi di daerah-daerah rawan lainnya.



