Goh Sze Fei-Nur Izzuddin Tembus Perempatfinal Piala Dunia untuk Pertama Kali: Mentalitas Underdog Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Pasangan ganda putra Malaysia, Goh Sze Fei-Nur Izzuddin, akhirnya memecah kebuntuan dengan lolos ke perempatfinal Kejuaraan Dunia 2026 setelah tiga kali gagal di babak yang sama.
- Kemenangan atas wakil Taiwan, Chou Hsiang-chieh-Wang Chi-lin, tidak hanya mengamankan tiket perempatfinal, tetapi juga membalas kekalahan mereka di German Open Februari lalu.
- Dengan mengusung pendekatan rileks dan status underdog, Sze Fei-Izzuddin siap menghadapi tantangan lebih berat, termasuk calon lawan juara bertahan asal Korea Selatan.

Ganda putra Malaysia, Goh Sze Fei-Nur Izzuddin, akhirnya menembus babak perempatfinal Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026 di New Delhi untuk pertama kalinya dalam karier mereka. Pada laga Kamis (20/8), pasangan yang pernah menempati peringkat satu dunia ini menaklukkan wakil Taiwan, Chou Hsiang-chieh-Wang Chi-lin, dengan skor 21-17, 21-17. Capaian ini menjadi penanda kebangkitan setelah tiga edisi sebelumnya selalu kandas di ronde ketiga.
Kemenangan ini bukan sekadar tiket ke delapan besar, melainkan juga balas dendam atas kekalahan mereka dari pasangan yang sama di German Open pada Februari lalu. Sze Fei-Izzuddin datang ke New Delhi dengan pendekatan baru di bawah arahan pelatih Fairuzizuan Tazari, mantan tunggal putra peringkat empat dunia. Mereka memilih untuk menikmati setiap pertandingan tanpa beban berlebih, sebuah strategi yang tampaknya membuahkan hasil.
"Kami puas dengan performa hari ini, tapi masih ada ruang untuk perbaikan. Kami hanya ingin bermain seperti underdog dan memberikan yang terbaik. Tidak ada yang hilang, jadi nikmati saja permainannya," ujar Sze Fei dalam wawancara usai laga bersama BWF. Sikap rendah hati ini kontras dengan status mereka sebagai mantan unggulan teratas, namun justru menjadi senjata ampuh untuk meredam tekanan.
Jejak Sze Fei-Izzuddin di Kejuaraan Dunia memang penuh liku. Debut mereka di Huelva 2021 berakhir di tangan Lee Yang-Wang Chi-lin, kemudian di Tokyo 2022 mereka takluk dari rekan senegaranya, Aaron Chia-Soh Wooi Yik, yang akhirnya menjadi juara dunia pertama Malaysia. Sempat bercerai pada 2023, mereka kembali bersatu dan tampil di Paris 2024, tetapi lagi-lagi tersingkir di ronde ketiga oleh Lee Jhe-huei-Yang Po-hsuan. Kini, tembok itu akhirnya roboh.
Di perempatfinal, Sze Fei-Izzuddin akan berhadapan dengan pemenang antara unggulan pertama Kim Won-ho-Seo Seung-jae dari Korea Selatan yang juga juara bertahan, atau pasangan Inggris Ben Lane-Sean Vendy. Kedua lawan potensial ini dikenal kerap menyulitkan mereka. Namun, dengan modal kepercayaan diri yang baru, mereka optimistis bisa memberikan perlawanan sengit.
Bagi Indonesia, pencapaian ini menjadi pengingat akan ketatnya persaingan ganda putra Asia. Meski tidak ada wakil Indonesia di sektor ini pada babak tersebut, performa Sze Fei-Izzuddin menunjukkan bahwa mentalitas dan strategi adaptif sangat menentukan. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya pendekatan psikologis dalam turnamen besar, sesuatu yang kerap menjadi sorotan bagi atlet-atlet Indonesia yang juga berjuang di panggung internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Sze Fei-Izzuddin mampu mempertahankan konsistensi ini dan melangkah lebih jauh. Jika berhasil mengalahkan lawan yang lebih diunggulkan, bukan tidak mungkin mereka menjadi kuda hitam yang merebut medali. Namun, jalan masih panjang dan tantangan akan semakin berat. Mampukah mereka membuktikan bahwa status underdog justru menjadi kekuatan terbesar mereka?



