Nuno Akui West Ham Kecewakan 62.000 Suporter Usai Takluk dari Charlton
Baca dalam 60 detik
- West Ham baru mengoleksi satu poin dari dua laga perdana Championship usai kalah 1-2 dari Charlton di kandang.
- Nuno menyalahkan ketidakakuratan penyelesaian akhir meski timnya mendominasi penguasaan bola hingga 77 persen.
- Jadwal padat menanti: duel Carabao Cup melawan Southampton dan dua laga liga kontra Watford serta Wolves.

Manajer West Ham United, Nuno Espirito Santo, secara blak-blakan mengakui bahwa anak asuhnya telah mengecewakan puluhan ribu suporter yang memadati London Stadium. Pengakuan itu muncul setelah The Hammers tumbang 1-2 dari Charlton Athletic pada pekan kedua Championship, Sabtu (16/8) waktu setempat. Kekalahan ini kian mempertegas start buruk tim asal London timur itu di kasta kedua sepak bola Inggris.
Padahal, target West Ham musim ini jelas: segera kembali ke Premier League setelah terdegradasi pada Mei lalu. Namun, dari dua laga awal, mereka hanya mampu mengumpulkan satu poin. Pada laga pembuka, tim besutan Nuno sebenarnya sempat unggul dua gol di Burnley, tetapi akhirnya harus puas berbagi angka. Kini, di hadapan publik sendiri, mereka justru dipaksa menyerah oleh tim tamu yang tampil efisien.
Kekalahan ini terasa pahit karena West Ham mendominasi jalannya pertandingan. Data statistik mencatat, mereka menguasai bola hingga 77 persen dan melepaskan total expected goals (xG) 2,96, berbanding jauh dengan milik Charlton yang hanya 0,57. Namun, penyelesaian akhir yang buruk menjadi biang keladi. Bahkan, penalti di masa injury time yang dieksekusi Taty Castellanos gagal berbuah gol, memupus harapan untuk menyamakan kedudukan.
Nuno, yang sebelumnya menukangi Wolves dan Nottingham Forest, tidak menampik bahwa tekanan di West Ham sangat besar. "Ini West Ham, tekanannya setiap hari," ujarnya. Ia menambahkan, kekecewaan terbesarnya adalah gagal memberikan kemenangan bagi 62.000 penonton yang hadir. "Mereka pantas menang, dan kami tidak mampu memberikannya," sesalnya.
Dari sisi taktik, pelatih asal Portugal itu menilai timnya sudah menciptakan banyak peluang, tetapi gagal memanfaatkannya. "Kami harus bertahan lebih baik. Kami punya banyak penguasaan bola dan mencoba membongkar pertahanan mereka, itu tidak mudah," katanya. Ia juga menegaskan bahwa musim ini West Ham akan tampil dominan dan lebih sering memegang kendali permainan, dengan fokus pada kombinasi di sepertiga akhir dan duel satu lawan satu.
Kegagalan West Ham ini menjadi pengingat bahwa promosi dari Championship bukanlah perkara mudah, meski di atas kertas mereka difavoritkan. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik karena banyak pemain Asia Tenggara yang merintis karier di liga-liga Eropa. Namun, yang lebih relevan adalah bagaimana tekanan ekspektasi tinggi justru sering menjadi bumerang bagi tim yang baru terdegradasi, sebuah pola yang juga kerap terjadi di kompetisi domestik Indonesia ketika tim besar harus berjuang di kasta kedua.
Nuno menegaskan bahwa timnya akan terus mengulang proses latihan dan menjaga keyakinan pada filosofi permainan yang diusung. "Kami akan bangkit," janjinya. Namun, jadwal ke depan tidak memberi banyak ruang bernapas. Setelah laga melawan Southampton di ajang Carabao Cup, West Ham akan berhadapan dengan Watford dan Wolves yang hingga pekan kedua belum terkalahkan. Dua laga itu akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketangguhan mental skuad asuhan Nuno.
Pertanyaannya kini, mampukah West Ham segera menemukan ketajaman di lini depan dan memperbaiki kerapuhan pertahanan yang mulai terlihat? Atau justru tekanan dari tribun akan semakin membebani langkah mereka menuju promosi? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: setiap laga berikutnya akan menjadi penentu nasib Nuno di kursi panas London Stadium.



