Rekor Abadi: Kazuyoshi Miura Cetak Sejarah di Piala Kaisar di Usia 59 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Legenda hidup sepak bola Jepang, Kazuyoshi Miura, kembali menorehkan tinta emas dengan menjadi pencetak gol tertua di Piala Kaisar.
- Dua penalti yang dieksekusi dengan tenang membawa Fukushima United melaju, sekaligus memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Shinji Ono.
- Semangat pantang menyerah Miura menjadi inspirasi tidak hanya bagi pesepak bola Jepang, tetapi juga bagi atlet profesional di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di usia yang tak lagi muda, Kazuyoshi Miura membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Legenda sepak bola Jepang yang akrab disapa "King Kazu" ini baru saja mencatatkan namanya dalam buku rekor Piala Kaisar sebagai pencetak gol tertua sepanjang sejarah turnamen, pada usia 59 tahun, 5 bulan, dan 24 hari. Momen bersejarah itu terjadi saat klubnya, Fukushima United, melumat Oyama Soccer Club dengan skor telak 7-0 pada babak pertama turnamen, Rabu (20/8) di Fukushima, Jepang timur laut.
Dua gol yang dicetak Miura melalui titik penalti, masing-masing pada menit ke-12 dan ke-55, bukan sekadar angka. Gol pertamanya langsung memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh mantan gelandang tim nasional Jepang, Shinji Ono, yang mencetak gol di turnamen yang sama pada usia 41 tahun pada 2021. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan kerja keras Miura tidak pernah pudar, bahkan di usia yang sudah menginjak kepala enam.
"Jika saya tidak bermain dalam pertandingan, saya tidak bisa mencetak gol. Saya akan terus bekerja keras setiap hari agar bisa berada di lapangan," ujar Miura usai pertandingan, seperti dikutip Kyodo News. Pernyataan ini mencerminkan etos kerja yang telah menjadi ciri khasnya sepanjang karier. Miura juga mengungkapkan kebanggaannya karena latihan penalti yang dilakukannya membuahkan hasil. "Saya selalu berlatih penalti, jadi saya senang itu terbayar," katanya.
Kiprah Miura di dunia sepak bola bukanlah cerita yang singkat. Pria kelahiran Prefektur Shizuoka ini merupakan salah satu tokoh kunci dalam kebangkitan popularitas sepak bola Jepang setelah J.League diluncurkan pada awal 1990-an. Ia menjadi pemain Jepang pertama yang merumput di Serie A Italia bersama Genoa pada musim 1994-1995, sebuah pencapaian yang membuka jalan bagi generasi pesepak bola Jepang berikutnya untuk berkarier di Eropa. Setelah itu, ia menjelajahi berbagai klub di Jepang dan beberapa negara lain, menunjukkan bahwa hasratnya terhadap sepak bola tidak pernah surut.
Fenomena Miura ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks perkembangan sepak bola di Indonesia. Di tengah gencarnya program naturalisasi pemain muda untuk Timnas Indonesia, kisah Miura justru memberikan perspektif berbeda: bahwa pengalaman dan jam terbang tinggi seorang pemain senior tetap memiliki nilai yang tak ternilai. Meski kecepatan dan stamina mungkin menurun, kecerdasan membaca permainan dan ketenangan dalam mengambil keputusan adalah kualitas yang tidak bisa diajarkan dengan mudah. Kehadiran pemain senior seperti Miura di lapangan bisa menjadi mentor alami bagi pemain muda, seperti yang terlihat di klub-klub Eropa yang kerap mempertahankan pemain veteran sebagai pemimpin di ruang ganti.
Keinginan Miura untuk terus bermain di babak berikutnya Piala Kaisar menunjukkan bahwa ambisinya belum berakhir. Ia seakan ingin membuktikan bahwa rekor yang baru saja dipecahkannya bukanlah puncak, melainkan batu loncatan untuk terus berkarya. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa di usia yang semakin senja? Atau justru kita akan menyaksikan lebih banyak lagi rekor yang ia ukir? Yang jelas, semangat "King Kazu" adalah pengingat bahwa sepak bola adalah tentang hasrat, bukan sekadar usia.



