GP Bahrain di Sepang Kacau: Gangguan Power Unit Picu Red Flag
Baca dalam 60 detik
- Red flag dikibarkan sebelum start GP Bahrain di Sirkuit Sepang setelah sejumlah mobil mengalami masalah power unit saat lap formasi basah.
- Verstappen dan Hamilton sempat kehilangan akselerasi, sementara pembalap Audi Gabriel Bortoleto juga dilaporkan bermasalah.
- Insiden ini menjadi ujian pertama regulasi 2026 dalam kondisi hujan dan memicu pertanyaan tentang kesiapan teknis tim.

Start Grand Prix Bahrain di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, terpaksa dibatalkan sementara setelah sejumlah mobil mengalami gangguan power unit saat menjalani lap formasi dalam kondisi lintasan basah, Minggu. Race control mengibarkan bendera merah sebelum balapan sempat dimulai, menandai kekacauan teknis pada balapan pertama musim ini yang digelar di tengah hujan tropis lebat.
Insiden bermula ketika Max Verstappen, yang start dari posisi pole, melaporkan hilangnya akselerasi pada mobil Red Bull-nya. Pembalap asal Belanda itu sempat tertahan sebelum akhirnya bisa melanjutkan laju. Tak lama berselang, Lewis Hamilton yang menempati posisi kedua mengalami keluhan serupa pada Ferrari-nya. Hamilton terlihat merayap di lap formasi pertama sementara pembalap lain melintasinya, sebelum satu lap kemudian ia kembali bergerak.
Masalah tidak berhenti di dua pembalap terdepan. Gabriel Bortoleto, pembalap Audi, dan sejumlah nama lain juga dilaporkan mengalami kendala serupa. Melihat eskalasi gangguan yang meluas, race control memutuskan menghentikan prosedur start dan mengibarkan bendera merah. Keputusan ini diambil untuk mencegah risiko lebih besar mengingat lintasan yang licin dan jarak pandang terbatas.
Insiden ini menjadi sorotan karena merupakan balapan basah pertama di bawah regulasi teknis 2026. Regulasi tersebut dirancang untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi, namun kondisi ekstrem di Sepang mengungkap kerentanan sistem power unit terhadap cuaca. Para insinyur tim kini dituntut untuk cepat beradaptasi dengan setelan mobil yang belum sepenuhnya teruji di lintasan basah.
"Kami melihat beberapa mobil kehilangan tenaga secara tiba-tiba. Ini bukan situasi yang ideal, tetapi keselamatan tetap prioritas," ujar seorang sumber di race control, seperti dikutip Motorsport.com.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat bahwa balapan di kawasan tropis selalu menyimpan tantangan tersendiri. Sirkuit Sepang, yang pernah menjadi tuan rumah Grand Prix Malaysia hingga 2017, kembali menyorot perhatian setelah absen dari kalender F1. Cuaca ekstrem di Asia Tenggara kerap menjadi faktor penentu, dan insiden kali ini menegaskan bahwa kesiapan teknis serta strategi tim harus mempertimbangkan variabel cuaca secara lebih serius.
Dari sisi kompetisi, gangguan power unit yang dialami beberapa tim dapat memengaruhi peta persaingan musim ini. Red Bull dan Ferrari, yang diunggulkan, harus memastikan masalah ini tidak berulang. Sementara Audi, yang baru bergabung, mendapat tekanan tambahan untuk membuktikan reliabilitas mesinnya. Jika masalah serupa muncul di balapan berikutnya, bukan tidak mungkin klasemen akan berubah drastis.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi mengenai waktu restart balapan. Race control masih melakukan inspeksi menyeluruh terhadap kondisi lintasan dan mobil-mobil yang terdampak. Pertanyaannya, apakah regulasi 2026 perlu direvisi untuk mengakomodasi balapan basah, ataukah ini sekadar insiden teknis yang bisa diatasi dengan penyesuaian cepat? Yang jelas, GP Bahrain di Sepang telah membuka musim dengan drama yang tidak terduga.



