Algoritma Media Sosial Perparah Rasisme ke Pemain Inggris di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Studi Hope Not Hate menemukan 5.500+ cuitan rasis ke pemain Inggris selama Piala Dunia 2026, dengan algoritma X yang dianggap memperkuat penyebarannya.
- Jude Bellingham menjadi target paling banyak, sementara Bukayo Saka dan Kobbie Mainoo menerima proporsi rasisme tertinggi; Djed Spence juga alami Islamofobia.
- Kelompok advokasi mendesak Ofcom untuk menindak tegas algoritma yang memicu kebencian dan menetapkan acara olahraga besar sebagai 'berisiko tinggi'.

Pelecehan rasis yang menyasar para pemain timnas Inggris di media sosial selama Piala Dunia 2026 tidak terjadi secara alami; sebuah laporan baru mengungkap bahwa algoritma rekomendasi platform X justru memperkuat dan menyebarluaskan konten kebencian tersebut demi mengejar keuntungan.
Hope Not Hate, kelompok aktivis yang fokus pada isu kebencian, menganalisis lebih dari 300.000 unggahan di X selama turnamen berlangsung. Hasilnya, mereka menemukan lebih dari 5.500 unggahan yang secara eksplisit bernada rasis ditujukan kepada pemain Inggris. Temuan ini mempertegas bahwa media sosial bukan sekadar wadah pasif, melainkan aktor aktif yang dapat memperbesar dampak ujaran kebencian.
Menurut Patrik Hermansson, peneliti senior Hope Not Hate, unggahan yang memicu kemarahan dan emosi kuat cenderung menghasilkan lebih banyak interaksi. Interaksi tersebut membuat pengguna betah berlama-lama di platform, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan iklan. "X sebenarnya diuntungkan oleh kebencian ini," ujarnya. "Algoritmanya secara efektif mengangkat konten tersebut ke beranda pengguna, bukan menyimpannya di sudut-sudut gelap."
Data menunjukkan Jude Bellingham menjadi pemain yang paling sering menjadi sasaran, sementara Bukayo Saka dan Kobbie Mainoo menerima proporsi rasisme tertinggi jika dibandingkan dengan total unggahan yang menyebut nama mereka. Djed Spence, yang telah memeluk Islam, juga menerima gelombang ujaran kebencian bernuansa anti-Muslim yang terpisah.
Hope Not Hate menilai pendekatan yang ada saat ini terlalu fokus pada penanganan setelah konten negatif tersebar. Langkah seperti pemblokiran akun oleh pemain atau pelaporan unggahan dianggap tidak menyentuh akar masalah: bagaimana algoritma justru memperkuat penyebaran kebencian. "X tidak menganggap serius isu rasisme," tegas Hermansson. "Tidak ada perubahan atau perbaikan selama bertahun-tahun."
Dalam responsnya, juru bicara Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) menegaskan bahwa semua pemain berhak bermain tanpa terpapar konten yang penuh kebencian dan diskriminasi. FA mendesak penyedia layanan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menciptakan lingkungan daring yang lebih aman.
Kelompok advokasi tersebut mendesak Ofcom, regulator media Inggris, untuk menggunakan kewenangannya berdasarkan Undang-Undang Keamanan Daring secara lebih efektif. Mereka meminta Ofcom melarang algoritma yang memicu kebencian dan menetapkan acara olahraga besar sebagai kategori "berisiko tinggi". Jika itu terjadi, platform wajib menerapkan aturan keamanan sejak desain, menghapus konten kebencian secara proaktif, dan menurunkan peringkat unggahan yang berpotensi viral.
Ofcom merespons dengan menyatakan akan terus menekan perusahaan teknologi untuk membuat layanan mereka lebih aman. Mereka juga mengumumkan kemitraan dengan kepolisian dan badan sepak bola menjelang Piala Dunia untuk memerangi pelecehan daring.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting. Dengan maraknya penggunaan media sosial dan tingginya animo masyarakat terhadap sepak bola, risiko ujaran kebencian berbasis SARA di ruang digital juga mengintai. Regulasi seperti UU ITE dan pembentukan lembaga pengawas siber yang efektif menjadi krusial untuk melindungi atlet dan publik dari dampak buruk algoritma yang tidak terkendali.
Pertanyaan yang menggantung: apakah platform media sosial akan mengubah desain algoritmanya demi keselamatan pengguna, atau tetap memprioritaskan keuntungan jangka pendek? Jawabannya akan menentukan apakah ruang digital menjadi medan pertarungan yang sehat atau ladang subur bagi kebencian.



