Intervensi Treasury AS Redakan Tekanan Obligasi Global, Dolar Melemah dan Emas Menguat
Baca dalam 60 detik
- Departemen Keuangan AS menggandakan dukungan likuiditas untuk obligasi jangka panjang, memicu penurunan imbal hasil dan pelemahan dolar.
- Langkah ini merespons kekhawatiran investor atas utang pemerintah yang membengkak, yang sebelumnya mendorong imbal hasil ke level tertinggi dalam dua dekade.
- Dampaknya terasa di pasar global: emas dan kripto menguat, sementara pasar saham AS mencatat kenaikan moderat.

Langkah tak terduga dari Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk memperbesar dukungan likuiditas di pasar obligasi jangka panjang berhasil meredam gejolak yang sebelumnya melanda pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang langsung merosot hingga 10 basis poin, menyeret imbal hasil Eropa ikut turun, sekaligus memicu pelemahan dolar dan lonjakan harga emas serta aset kripto.
Keputusan ini diumumkan di tengah kekhawatiran yang memuncak atas membengkaknya utang pemerintah AS yang telah mencapai US$32 triliun. Sehari sebelumnya, imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir dua dekade, mendekati 5,34 persen, mencerminkan kecemasan investor terhadap inflasi yang persisten dan beban utang yang terus meningkat. Dengan menggandakan nilai pembelian kembali obligasi menjadi minimal US$4 miliar per operasi, Treasury berupaya menenangkan pasar yang mulai meragukan daya serap terhadap surat utang lama yang kurang likuid.
Menurut Michael Lorizio, kepala perdagangan suku bunga dan mortgage di Manulife Investment Management, langkah ini merupakan pengakuan eksplisit dari pemerintah bahwa ada ketidakseimbangan permintaan, terutama untuk obligasi "off-the-run" di segmen paling ujung kurva imbal hasil. Program buyback yang diluncurkan sejak Mei 2024 ini memang dirancang untuk meningkatkan likuiditas, namun efektivitasnya dipertanyakan ketika imbal hasil terus meroket.
Penurunan imbal hasil ini langsung berdampak pada pasar saham AS. Indeks Nasdaq naik 0,31 persen, S&P 500 menguat 0,41 persen, dan Dow Jones bertambah 0,29 persen. Namun, yang lebih mencolok adalah pergerakan di pasar valuta dan komoditas. Indeks dolar AS anjlok 0,75 persen ke level 98,90, sementara euro dan yen menguat signifikan. Emas melonjak, dan Bitcoin melesat 5,63 persen ke US$68.191,56, sementara Ethereum naik 9,23 persen.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran sentimen investor yang mulai meragukan daya tahan fiskal AS. Jeremy Stretch, kepala strategi G10 FX di CIBC, menilai bahwa aksi jual di segmen panjang obligasi telah menjadi masalah bagi kelas aset lain, dan Treasury dipaksa merespons. "Jelas, Menteri Keuangan harus memperhatikan risiko tersebut dan telah melakukan penyesuaian. Itulah mengapa imbal hasil obligasi 30 tahun turun tajam dan dolar melemah," ujarnya.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi masih membayangi. Risalah rapat Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan para pejabat semakin cemas, dengan beberapa siap menaikkan suku bunga dan banyak yang mengisyaratkan perlunya kenaikan jika inflasi tak kunjung turun ke target 2 persen. Ketua Fed, Kevin Warsh, yang bulan lalu mempertahankan suku bunga, justru membuat pasar tidak nyaman karena tidak memberikan sinyal jelas tentang arah kebijakan ke depan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi ganda. Pelemahan dolar dapat meredakan tekanan pada rupiah dan mengurangi beban impor, terutama energi. Namun, ketidakpastian kebijakan Fed dan potensi kenaikan suku bunga global dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan imbal hasil obligasi AS sebagai acuan dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar obligasi domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah intervensi Treasury ini cukup untuk menstabilkan pasar dalam jangka panjang, atau hanya sekadar meredakan gejala sementara. Dengan utang AS yang terus membengkak dan inflasi yang masih di atas target, tekanan struktural pada imbal hasil jangka panjang kemungkinan akan berlanjut. Pasar akan mencermati setiap sinyal dari pertemuan Jackson Hole dan data inflasi berikutnya untuk mengukur arah kebijakan moneter global.



