iPhone Duo: Layar Lipat 7,6 Inci, tapi Ada 10 Fitur yang Harus Anda Relakan
Baca dalam 60 detik
- Apple resmi meluncurkan iPhone Duo, ponsel lipat pertama dengan layar 7,6 inci dan chip A20 Pro, namun menghilangkan sejumlah fitur kamera dan keamanan yang ada di iPhone 18 Pro.
- Dari telephoto 4x hingga Face ID, Duo mengorbankan kemampuan profesional demi bodi setipis 5,2mm, menempatkannya sebagai perangkat premium dengan harga di atas $2.000.
- Keputusan ini memicu pertanyaan: apakah konsumen Indonesia siap membayar mahal untuk perangkat lipat yang secara fungsional tertinggal dari varian Pro?

Apple akhirnya memasuki pasar ponsel lipat dengan iPhone Duo, perangkat yang membuka menjadi layar 7,6 inci—50% lebih luas dari iPhone 18 Pro Max—dan mengusung chip A20 Pro. Namun, di balik desain setipis 5,2mm, Apple harus mengorbankan sepuluh fitur yang selama ini menjadi andalan lini Pro. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang nilai jual ponsel seharga di atas $2.000 tersebut, terutama bagi pengguna yang mengandalkan kemampuan fotografi dan keamanan tingkat lanjut.
Perbedaan paling mencolok terletak pada sistem kamera. iPhone 18 Pro memiliki lensa telephoto 100mm dengan zoom optik 4x, yang dapat menghasilkan gambar 12MP pada jarak 200mm berkat desain tetraprism. Sementara iPhone Duo hanya mengandalkan kamera utama 48MP dan ultra-wide 48MP, dengan kemampuan zoom terbatas pada crop 2x dari sensor utama. Ketiadaan telephoto ini akan sangat terasa bagi penggemar fotografi olahraga, konser, atau satwa liar yang membutuhkan jangkauan jauh.
Dari sisi keamanan, iPhone Duo meninggalkan Face ID yang telah menjadi standar sejak iPhone X. Sebagai gantinya, Apple menghadirkan kembali Touch ID yang tertanam di tombol samping. Meskipun banyak pengguna lebih menyukai pemindai sidik jari, mereka yang terbiasa membuka kunci dengan tatapan mata harus beradaptasi dengan kebiasaan lama. Selain itu, tombol Action yang dapat dikustomisasi juga absen, digantikan oleh tombol Camera Control dan tombol samping yang merangkap sensor sidik jari dan power.
Fitur lain yang hilang adalah LiDAR Scanner, yang selama ini membantu autofokus dalam kondisi minim cahaya dan mendukung aplikasi augmented reality. Ketiadaannya mungkin tidak disadari pengguna kasual, tetapi bagi mereka yang sering melakukan pemindaian objek 3D atau memotret di malam hari, ini menjadi keterbatasan serius. Begitu pula dengan ProRAW dan format DNG yang tidak lagi tersedia; pengguna hanya bisa memilih HEIF dan JPEG. Untuk editor profesional yang mengandalkan fleksibilitas pasca-produksi, ini adalah pukulan telak.
"Apple tampaknya ingin menyoroti keunikan Duo, seperti Duo Preview dan Duo FaceTime, yang hanya bisa dilakukan karena bentuk lipatnya. Namun, mereka yang sudah berinvestasi di ekosistem Vision Pro akan kehilangan kemampuan merekam video dan foto spasial," ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Dalam hal perekaman video, iPhone 18 Pro mendukung codec ProRes dan ProRes RAW, serta fitur genlock untuk sinkronisasi dengan kamera eksternal. iPhone Duo hanya mampu merekam dalam HEVC dan H.264. Bagi pembuat film pendek atau iklan yang memerlukan color grading profesional, Duo bukanlah pilihan tepat. Kemampuan kontrol manual seperti pengaturan aperture dan shutter speed juga tidak ada, meskipun widget kustomisasi tetap tersedia.
Kamera depan iPhone Duo terbagi menjadi dua: 12MP Center Stage di layar luar dan kamera resolusi lebih rendah di bawah layar dalam. Sementara iPhone 18 Pro memiliki kamera depan 18MP dengan aperture f/1.9 dan autofokus. Meski Apple menunjukkan rekayasa cerdas dengan memungkinkan selfie saat tertutup dan video call saat terbuka, kualitasnya tidak sebanding dengan sensor Pro.
Terakhir, aperture variabel yang menjadi andalan iPhone 18 Pro (f/1.48 hingga f/4.0) tidak dimiliki Duo. Kamera utamanya terpaku pada f/1.6. Meski aperture ini tergolong mumpuni, ketiadaan fleksibilitas dalam mengatur kedalaman bidang dan cahaya masuk membuat Duo kurang gesit dalam kondisi pencahayaan menantang.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran iPhone Duo menimbulkan dilema. Harga yang diperkirakan menembus Rp30 juta membuatnya hanya terjangkau segmen atas. Namun, dengan fitur yang dikorbankan, apakah perangkat ini layak menjadi daily driver? Pasar ponsel lipat di Indonesia sendiri masih niche, dengan Samsung dan Oppo mendominasi. Apple perlu meyakinkan bahwa layar lipat dan ekosistemnya mampu menutupi kekurangan fungsional. Pertanyaannya, apakah pengguna setia iPhone Pro rela turun kasta demi layar yang lebih besar?



