Ritchie Blackmore: Reuni Deep Purple Mungkin Terakhir Kali Kami Bertemu
Baca dalam 60 detik
- Gitaris legendaris Ritchie Blackmore tampil bersama Deep Purple untuk pertama kalinya dalam 33 tahun pada konser di New York, 12 Agustus lalu.
- Blackmore mengaku momen tersebut terasa emosional dan mungkin menjadi pertemuan terakhir dengan rekan-rekan lamanya karena usia dan kondisi kesehatannya.
- Reuni ini menandai rekonsiliasi setelah puluhan tahun hubungan yang renggang, sekaligus menjadi kejutan manis bagi para penggemar setia rock klasik.

Ritchie Blackmore, gitaris pendiri Deep Purple yang telah 33 tahun tidak tampil bersama band legendaris itu, akhirnya naik panggung lagi dalam konser di Wantagh, New York, pada 12 Agustus lalu. Momen yang seharusnya menjadi nostalgia belaka justru berubah menjadi pertemuan yang sarat makna, bahkan Blackmore sendiri mengaku bisa jadi itu adalah kali terakhir ia bertatap muka dengan rekan-rekan lamanya.
Dalam wawancara dengan majalah Guitar Player, pria berusia 81 tahun itu mengungkapkan bahwa penampilannya membawakan lagu ikonik "Smoke on the Water" bukan sekadar aksi panggung. "Saya tidak bisa pemanasan, tapi saya tidak di sana untuk memainkan nada yang sempurna. Saya di sana untuk bertemu teman-teman lama yang sudah 40 tahun tidak saya jumpai, dan kami semua semakin tua. Saya pikir kami menyadari ini mungkin terakhir kalinya kami saling melihat," ujarnya.
Perjalanan karier Blackmore bersama Deep Purple memang penuh liku. Ia hengkang pertama kali pada 1975 untuk membentuk Rainbow, lalu kembali lagi pada 1984 hingga akhirnya keluar untuk kedua kalinya di tengah tur dunia pada 1993. Sejak itu, ia tidak pernah tampil bersama band yang membesarkan namanya tersebut. Penampilan di New York pekan lalu menjadi reuni pertamanya setelah lebih dari tiga dekade.
Ide untuk tampil bersama datang secara spontan. "Suatu pagi saya terbangun dan berpikir, sehari sebelum konser mereka, akan baik bagi para penggemar jika saya naik panggung untuk satu lagu, mungkin 'Smoke', dan menunjukkan bahwa kami tidak saling membenci," cerita Blackmore. Istrinya, Candice, menghubungi vokalis Ian Gillan untuk menanyakan kemungkinan tersebut. Jawaban Gillan singkat namun menghangatkan hati: "Itu membuatku tersenyum." Setelah mendapat lampu hijau dari seluruh personel, jadilah penampilan kejutan itu.
Meski mengaku gugup dan sempat kehilangan posisi nada, Blackmore menegaskan bahwa penampilannya bukan tentang kesempurnaan teknis. "Saya di sana untuk menyembuhkan luka, tapi ternyata tidak ada luka. Semua orang seperti tentara yang bertemu lagi di front barat. Sangat emosional," katanya. Ian Gillan, di atas panggung, menyambutnya dengan penuh hormat: "Kembalinya pendiri band, legenda besar, Ritchie Blackmore yang abadi."
Di balik kehangatan reuni ini, ada kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan. Blackmore sebelumnya membatalkan sejumlah konser akibat serangan vertigo parah pada akhir 2025. Ia juga mengidap asam urat, radang sendi di jari dan kaki, serta pernah memiliki riwayat masalah jantung. Meski demikian, semangatnya untuk bertemu rekan lama tetap membara. "Saya sudah 25 tahun tidak bermain musik rock... akan menyenangkan bertemu orang-orang tua itu lagi," ujarnya sebelum konser.
Bagi penggemar musik rock di Indonesia, reuni ini menjadi pengingat bahwa ikatan musik bisa melampaui konflik dan waktu. Di tengah maraknya konser nostalgia yang digelar di Tanah Air, momen seperti ini menunjukkan bahwa para legenda masih memiliki daya tarik kuat, sekaligus menjadi pelajaran bahwa rekonsiliasi selalu mungkin terjadi. Pertanyaannya, apakah akan ada lagi kesempatan menyaksikan para legenda ini bersatu, atau ini benar-benar yang terakhir?



