Fine Dining Bertemu Teater: Nouri dan Checkpoint Theatre Ciptakan Pertunjukan 10 Hidangan yang Mengisahkan Perjalanan Hidup Chef Ivan Brehm
Baca dalam 60 detik
- Kolaborasi pertama di Singapura antara restoran bintang Michelin dan grup teater menghadirkan pengalaman makan 10 hidangan yang dipadukan dengan drama panggung.
- Pertunjukan 'A Matter of Taste' mengajak pengunjung menyusuri memoar Chef Ivan Brehm melalui setiap sajian, dengan harga S$348++ per orang.
- Perpaduan seni kuliner dan teater ini menawarkan refleksi mendalam tentang makanan sebagai bentuk seni dan keintiman, serta berpotensi menginspirasi industri kuliner di Asia Tenggara.

Singapura mencatat babak baru dalam dunia kuliner dan seni pertunjukan. Restoran Nouri, yang diganjar bintang Michelin, berkolaborasi dengan Checkpoint Theatre untuk menciptakan pengalaman bersantap yang belum pernah ada sebelumnya: sebuah drama panggung yang mengalir di antara sepuluh hidangan, mengisahkan perjalanan hidup sang chef, Ivan Brehm. Inisiatif ini bukan sekadar 'dinner theatre' konvensional, melainkan sebuah perpaduan yang menuntut penonton untuk merasakan makanan dan cerita secara bersamaan.
Kolaborasi ini lahir dari gagasan Huzir Sulaiman, direktur artistik bersama Checkpoint Theatre, yang mengusulkan naskah berdasarkan kehidupan Brehm. Awalnya, Brehm mengaku terkejut. "Semua orang kaget, tapi mereka juga tahu kami agak gila," ujarnya. Proyek ini, yang diberi judul 'A Matter of Taste', berlangsung selama tiga jam dan menampilkan Brehm sebagai narator sekaligus aktor, dibantu oleh Ramzie Tahar yang memerankan karakter lain sambil turut menyiapkan hidangan di dapur terbuka.
Setiap babak dalam drama ini mewakili satu tahap penting dalam karier Brehm, dari masa kecilnya di Brasil hingga pengalamannya bekerja di dapur-dapur terkenal seperti Per Se di AS, Fat Duck di Inggris, dan Mugaritz di Spanyol. Penonton diajak menikmati hidangan yang terinspirasi dari memori tersebut, seperti sup jeruk yang menjadi awal mula kecintaannya pada kuliner, atau pai gembala dan sayap kerbau yang mengingatkannya pada masa sekolah kuliner di Amerika. Setiap sajian disertai musik latar yang dipilih khusus untuk memperkuat emosi dan narasi.
Bagi Brehm, proyek ini bukan sekadar hiburan. Ia menekankan bahwa makanan adalah kerajinan yang bisa menjadi seni ketika dimaknai dan diputuskan dengan sadar. "Ketika Anda mulai memasak dan mempertanyakan, memberi makna pada apa yang Anda buat, makanan bisa menjadi artistik," katanya. Lebih jauh, ia melihat kolaborasi ini sebagai upaya untuk menciptakan karya yang lebih besar dari sekadar gabungan dua bidang. "Jika Anda bisa membuat karya seni yang berdiri untuk sesuatu, itu menarik dan mendebarkan," tambahnya.
Bagi Indonesia, kolaborasi ini menjadi cermin bahwa industri kuliner dan seni pertunjukan di kawasan ini semakin berani bereksperimen. Meskipun belum ada restoran di Indonesia yang melakukan hal serupa, tren ini bisa menjadi inspirasi bagi para chef dan seniman untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif dan personal. Terlebih, dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner dan budaya, format seperti ini berpotensi menarik wisatawan dan memperkaya ekosistem kreatif.
Huzir Sulaiman mengaku terkejut dengan respons penonton. "Saya tahu ini pertunjukan yang bagus, tapi saya tidak menyangka akan begitu menyentuh orang. Ada yang tertawa, ada yang menangis. Semalam, tamu di Meja 11 bilang ini pengalaman terbaik dalam hidup mereka," ujarnya. Ia menambahkan bahwa seni kuliner memiliki keunikan karena masuk ke dalam tubuh, berbeda dengan teater yang hanya melibatkan mata dan telinga. "Ini memberi nutrisi, seperti 'Nouri'," katanya, merujuk pada nama restoran yang berarti 'nutrisi' dalam bahasa Arab.
Bagi Brehm, memasak adalah tindakan pengabdian dan keintiman. "Semua yang kita sentuh, semua yang kita siapkan, berakhir di perut seseorang. Tidak ada yang lebih intim daripada itu," ujarnya. Ia berharap proyek ini mengingatkan para chef akan tanggung jawab mereka. "Ini pekerjaan yang indah tapi juga sensitif, yang kadang kita tidak anggap seserius yang seharusnya," tambahnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah format ini akan menjadi tren baru di Asia, atau tetap menjadi pengalaman eksklusif di Singapura. Dengan semakin banyaknya restoran yang mencari cara untuk membedakan diri, kolaborasi lintas disiplin seperti ini bisa menjadi jawaban. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara kualitas kuliner dan narasi yang autentik. Apakah Indonesia siap menyusul?



