Kopi dan Kursi Lipat: Fenomena Kafe Pinggir Jalan Johor Bahru yang Menjadi Magnet Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Kafe pinggir jalan di Johor Bahru yang buka hingga larut malam dengan kursi lipat dan nuansa alami telah menjadi tren sejak 2024, menarik pengunjung dari Singapura.
- Fenomena ini berakar dari kebiasaan nongkrong generasi muda saat pandemi, didukung oleh tata kota Johor Bahru yang longgar dan biaya operasional rendah.
- Kehadiran kafe-kafe ini berpotensi memperkuat pariwisata regional dan menginspirasi pelaku usaha di Indonesia untuk mengadopsi konsep serupa.

Fenomena kafe pinggir jalan di Johor Bahru yang menyajikan kopi dengan kursi lipat dan nuansa terbuka telah menjadi magnet baru bagi wisatawan, terutama dari Singapura, sejak dua tahun terakhir. Lebih dari sekadar tempat nongkrong, kafe-kafe ini merepresentasikan gaya hidup muda yang mencari ruang santai di luar hiruk-pikuk pusat kota.
Berbeda dengan kafe konvensional yang identik dengan bangunan permanen, kafe pinggir jalan ini justru mengusung konsep mobile dan sederhana. Banyak yang beroperasi dari van, kontainer, atau bahkan tenda darurat di lahan kosong. Jam operasionalnya pun ekstrem, kebanyakan buka mulai senja hingga dini hari, bahkan ada yang sampai pukul 5 pagi. Hal ini menjawab kebutuhan anak muda yang ingin melepas penat setelah beraktivitas seharian, tanpa dibatasi waktu.
Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Akarnya bisa ditelusuri pada masa pandemi COVID-19, ketika generasi Z mulai membagikan momen nongkrong di kursi lipat dengan latar pemandangan menenangkan di media sosial. Johor Bahru yang memiliki geografi luas dan regulasi longgar menjadi lahan subur bagi tumbuhnya usaha-usaha kecil semacam ini. Istilah "healing chair" sempat populer di internet, namun para pelaku dan pengunjung lebih akrab menyebutnya sebagai "port lepak" atau sekadar kafe pinggir jalan.
Menariknya, konsep ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi berbagai varian. Ada yang tetap mempertahankan kesederhanaan, seperti kafe yang didirikan oleh Mohd Rasif (45) di Taman Sri Amar. Setelah restorannya tutup pada Desember tahun lalu, ia memulai usaha kafe di dekat rumahnya pada Maret dan kini memiliki pelanggan setia. Ada pula yang memilih lokasi strategis di dekat jalan tol untuk menjaring pengendara, seperti yang dilakukan Farid Shahbudin (38) di Taman Perling. Ia mengaku sekitar 25-30 persen pelanggannya adalah warga Singapura yang sedang dalam perjalanan menuju Second Link.
Kisah lain datang dari Norazdi "Didi" Nordin (45) yang mengubah mobil Vellfire-nya menjadi kafe berjalan. Setelah dua restorannya di Klang Valley gulung tikar akibat pandemi, ia memutuskan pindah ke Johor dan memulai usaha dari gerobak pada Juli 2023, sebelum akhirnya beralih ke mobil yang dimodifikasi. Kini, ia bahkan menggunakan mesin kopi Italia untuk menyajikan minuman kepada pelanggan yang datang, termasuk dari kalangan komunitas motor dan mobil.
Di sisi lain, ada kafe yang mencoba memadukan konsep indoor dan outdoor, seperti Renjana di Kampung Dato Sulaiman Menteri. Pemiliknya, Mohd "Wan" Redzuan, yang sempat kehilangan pekerjaan sebagai koki saat pandemi, membangun kafe ini secara bertahap selama empat tahun. Meski tersembunyi dari jalan utama, Renjana berhasil menarik pengunjung melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. "Butuh waktu sekitar setahun bagi orang untuk menemukan kami," ujarnya. Kini, kafe tersebut menyediakan meja indoor untuk keluarga dan kursi lipat di area kerikil untuk kelompok kecil.
Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara. Bagi warga Singapura yang hanya berjarak sepelemparan batu, kafe-kafe ini menawarkan pengalaman berbeda dengan suasana yang lebih santai dan harga yang terjangkau. Sebagai contoh, tiramisu latte di Ranting Kafe hanya dihargai RM12 (sekitar Rp40 ribu), jauh lebih murah dibandingkan di kafe-kafe di pusat kota Singapura.
Namun, di balik popularitasnya, ada tantangan yang dihadapi para pelaku usaha. Perizinan seringkali menjadi kendala, seperti yang dialami Farid yang masih menunggu persetujuan dan sudah beberapa kali didatangi inspektur. "Mereka bilang, 'Mungkin jangan keluarkan 20 meja, oke?' Kami lebih santai di sini, jadi kami orang JB bisa coba saja lah," ujarnya dengan nada bercanda. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun regulasi longgar, bukan berarti tanpa pengawasan.
Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi inspirasi. Kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, atau Malang memiliki potensi serupa dengan banyaknya anak muda yang gemar nongkrong. Namun, perlu diperhatikan aspek perizinan dan tata ruang agar usaha serupa bisa berkembang tanpa melanggar aturan. Selain itu, kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah daerah bisa menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem kafe pinggir jalan yang sehat dan berkelanjutan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tren ini akan bertahan atau hanya menjadi fase sesaat. Dengan semakin banyaknya kafe yang bermunculan, persaingan pun semakin ketat. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh para pemilik kafe di Johor Bahru, semangat untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan adalah kunci utama. Mampukah tren ini bertahan dan bahkan menyebar ke negara lain, termasuk Indonesia? Waktu yang akan menjawab.



