Gelombang Eksodus Midfielder: Reijnders Hengkang ke Al-Qadsiah, Man City Kehilangan Skuad Inti
Baca dalam 60 detik
- Tijjani Reijnders resmi dijual Manchester City ke Al-Qadsiah dengan nilai transfer ยฃ52 juta setelah hanya semusim di Premier League.
- Kepergian Reijnders menyusul Rodri dan Bernardo Silva, menandai perombakan besar-besaran lini tengah The Citizens pada bursa musim panas ini.
- Man City dikabarkan tengah memburu pengganti, termasuk Ayyoub Bouaddi dari Lille dan Enzo Fernandez dari Chelsea, untuk mengantisipasi tuntutan kompetisi musim depan.

Manchester City kembali kehilangan pilar lini tengahnya. Tijjani Reijnders, gelandang asal Belanda, resmi bergabung dengan Al-Qadsiah, klub kaya asal Arab Saudi, dengan nilai transfer mencapai ยฃ52 juta. Kepindahan ini menjadi bagian dari gelombang eksodus pemain di skuad asuhan Enzo Maresca, yang tengah melakukan perombakan besar-besaran.
Reijnders sejatinya baru bergabung dengan City pada musim panas lalu dari AC Milan dengan banderol ยฃ46,5 juta. Namun, penampilannya yang kurang konsisten membuatnya kesulitan menembus skuad utama, terutama di bawah asuhan pelatih baru. Selama semusim di Etihad Stadium, pemain berusia 28 tahun itu mencatatkan 50 penampilan di semua kompetisi dengan sumbangan tujuh gol, serta membantu tim meraih gelar FA Cup dan Carabao Cup pada musim terakhir Pep Guardiola.
Kepindahan ini tak lepas dari minimnya menit bermain yang didapat Reijnders. Ia bahkan tidak dimasukkan dalam skuad saat City kalah 0-3 dari Arsenal pada Community Shield akhir pekan lalu. Pelatih Enzo Maresca tampaknya lebih memilih pemain lain di lini tengah, sehingga Reijnders pun memilih mencari tantangan baru. Di Al-Qadsiah, ia akan bermain di bawah asuhan Brendan Rodgers, pelatih asal Irlandia Utara yang pernah menukangi Liverpool dan Celtic.
Kepergian Reijnders menambah daftar panjang pemain tengah yang hengkang dari City pada bursa transfer musim panas ini. Sebelumnya, Rodri telah dijual ke Barcelona dengan nilai ยฃ65 juta, sementara Bernardo Silva memilih pindah ke Real Madrid secara gratis setelah kontraknya habis. Kondisi ini membuat lini tengah City nyaris kehilangan semua pemain kuncinya dalam satu musim. Manajemen klub pun bergerak cepat mencari pengganti. Kabar terakhir menyebutkan City tengah dalam pembicaraan lanjutan dengan Lille untuk merekrut gelandang Maroko, Ayyoub Bouaddi, dan masih berharap mendapatkan Enzo Fernandez dari Chelsea.
Bagi pengamat sepak bola, fenomena ini menarik untuk disimak. Keputusan City melepas banyak pemain bintang di usia produktif menunjukkan adanya strategi jangka panjang, mungkin untuk meremajakan skuad atau menyeimbangkan keuangan klub. Namun, risiko yang dihadapi adalah hilangnya pengalaman dan kualitas di lapangan, yang bisa berdampak pada performa tim di kompetisi domestik maupun Eropa. Musim depan akan menjadi ujian nyata bagi Maresca dalam meracik tim baru.
Bagi Indonesia, pergerakan transfer ini menjadi cermin bagaimana klub-klub Eropa kini berhadapan dengan kekuatan finansial Liga Arab Saudi. Ketertarikan pemain top pindah ke Timur Tengah bukan lagi sekadar isu, melainkan tren yang mengubah peta persaingan sepak bola global. Hal ini juga berdampak pada pasar transfer di Asia, termasuk Indonesia, di mana klub-klub lokal harus bersaing dengan tawaran gaji fantastis dari liga-liga kaya.
Dengan kepergian para bintang, Manchester City memasuki era baru yang penuh ketidakpastian. Pertanyaannya, akankah Maresca mampu membangun kembali lini tengah yang solid? Atau justru keputusan ini menjadi bumerang bagi ambisi City mempertahankan gelar? Musim depan akan menjadi jawabannya.



