Fabregas Tegaskan Liga dan Coppa Italia Prioritas, Liga Champions Hanya Bonus bagi Como
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Como, Cesc Fabregas, menyebut tiket Liga Champions musim ini sebagai hadiah tak terduga bagi tim yang baru dua tahun lalu masih di Serie B.
- Ia menegaskan fokus utama tetap Serie A dan Coppa Italia, sementara Eropa dianggap pengalaman baru yang harus dinikmati tanpa beban.
- Fabregas memuji bakat muda Mattia Liberali yang direkrut dengan biaya 6 juta euro, dan menilai pemain 19 tahun itu siap tampil di level tertinggi.

Menjelang laga pembuka Serie A melawan Udinese, pelatih Como, Cesc Fabregas, dengan tegas menempatkan kompetisi domestik sebagai prioritas utama. Ia menyebut keikutsertaan timnya di Liga Champions musim ini sebagai 'hadiah tak terduga' yang tidak boleh membuat tim lengah. Como, yang musim lalu finis di posisi keempat, akan memulai musim 2026-27 dengan bertandang ke Stadion Friuli, Sabtu (17.30 WIB).
Fabregas menggarisbawahi bahwa setiap musim dimulai dari nol, dan pencapaian musim lalu tidak otomatis menjamin kesuksesan musim ini. "Kami sangat senang memulai, tapi setiap musim dimulai dari awal," ujarnya kepada DAZN Italia. "Kami menambah beberapa pertandingan ekstra di Liga Champions, tapi Serie A dan Coppa Italia adalah hal terpenting. Liga Champions adalah hadiah tak terduga bagi tim yang dua tahun lalu masih di Serie B."
Bagi Como, tampil di Eropa adalah pengalaman baru yang menuntut adaptasi. Fabregas mengakui bahwa bermain tiga kali seminggu adalah tantangan yang belum pernah dihadapi para pemainnya. "Tidak ada dari kami yang pernah bermain di Eropa, apalagi Liga Champions, jadi bermain tiga kali seminggu adalah pengalaman baru. Kami perlu terus mencari motivasi dan energi segar," tambahnya.
Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu juga menekankan pentingnya membangun identitas klub yang kuat, bukan sekadar mengejar hasil jangka pendek. "Kami tidak boleh lupa bahwa klub ini mulai dari nol beberapa tahun lalu. Kami mencoba membangun identitas yang bisa bertahan 5, 10, 15, 20 tahun ke depan. Ada tim yang bagus satu tahun, lalu dua atau tiga musim kemudian turun ke Serie B. Saya tidak ingin itu terjadi. Saya ingin membangun fondasi yang kokoh di Como," tegasnya.
Soal rekrutan anyar, Fabregas memberikan sorotan khusus kepada Mattia Liberali. Gelandang muda Italia itu diboyong dengan biaya 6 juta euro, menolak tawaran kembali ke Milan, klub yang membesarkannya. Liberali langsung masuk dalam skuad utama dan duduk di bangku cadangan saat melawan Udinese. "Dia pemain yang sangat saya percaya. Dia orang Italia, berbakat, jadi kami juga bisa membantu negara untuk meningkatkan talentanya. Kami juga sedang membangun akademi muda," kata Fabregas.
Fabregas memuji mentalitas Liberali yang dinilainya sudah siap tampil di level tertinggi. "Liberali menjalani pramusim yang hebat, menunjukkan kualitasnya di Emirates dan Anfield. Usianya baru 19 tahun, tapi Anda bisa melihat beberapa pemain sudah siap, mereka punya api di mata mereka. Yang lain mungkin kurang matang dan butuh waktu, tapi dia memberi saya kepercayaan diri," ungkapnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, fenomena Como menarik untuk dicermati. Klub yang baru promosi ke Serie A pada 2024 itu kini tampil di Liga Champions, membuktikan bahwa manajemen yang solid dan visi jangka panjang bisa membawa klub kecil bersaing di level tertinggi Eropa. Ini menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang kerap kesulitan membangun konsistensi.
Kehadiran Liberali juga menjadi sinyal bahwa Como tidak hanya mengandalkan pemain asing, tetapi serius mengembangkan talenta lokal. Dengan pendekatan ini, Como berharap bisa menjadi kekuatan baru di Italia, bukan sekadar tim musiman. Pertanyaannya, akankah Como mampu menjaga performa dan tidak terjerumus seperti klub-klub lain yang pernah merasakan manisnya Eropa lalu jatuh ke jurang degradasi?



