Lukaku Buka Suara: 2025 Tahun Terburuk, Tuding Napoli Bohong Soal Kondisi Fisik
Baca dalam 60 detik
- Lukaku menyebut 2025 sebagai tahun terkelam dalam kariernya, dihantam cedera, ditinggal sang ayah, dan konflik dengan Napoli.
- Ia membantah tudingan tidak bugar yang dilontarkan klub Serie A itu, menilai itu sebagai upaya boikot sebelum hengkang ke Fenerbahce.
- Striker 33 tahun itu menargetkan pensiun pada 2030, dengan rencana kembali ke Belgia setelah kontraknya di Turki berakhir.

Romelu Lukaku akhirnya angkat bicara mengenai tahun 2025 yang ia sebut sebagai periode paling kelam dalam hidupnya. Penyerang asal Belgia itu secara terbuka membantah klaim Napoli yang menyebut dirinya tidak fit, seraya menegaskan bahwa pernyataan tersebut hanyalah dalih untuk meminggirkannya sebelum ia memutuskan pindah ke Fenerbahce.
Dalam wawancara dengan media Belgia, Het Laatste Nieuws, Lukaku mengungkapkan rentetan peristiwa yang membuat hidupnya berantakan: cedera paha serius yang dideritanya pada laga uji coba melawan Olympiacos pada Agustus 2025, kekambuhan yang berkepanjangan, hingga perseteruan dengan staf medis Napoli karena ia memilih pulang ke Belgia untuk menjalani perawatan. Di tengah kekacauan itu, sang ayah meninggal dunia pada September 2025, dan keluarganya bahkan harus menghadapi upaya pemerasan terkait pemulangan jenazah untuk pemakaman.
"Itu tahun terburuk dalam hidup saya," ujar Lukaku, seperti dikutip dari media Belgia. Ia juga mengungkapkan alasan di balik keputusannya meninggalkan Napoli: "Saya mendengar berbagai hal dan keputusan sudah dibuat di sana. Jika memang begitu, lebih baik saya pergi." Ia dengan tegas membantah tuduhan tidak bugar yang dilontarkan klub Italia tersebut. "Itu tidak benar. Mereka mungkin mengatakannya di Italia untuk memboikot saya, tapi saya 100 persen fit," tegasnya.
"Ini pengalaman baru, tapi di level yang bagus. Saya butuh motivasi, jadi ini langkah terbaik bagi saya. Saya ingin terus bermain sekompetitif mungkin. Saya berada di liga yang kuat, bersaing untuk gelar, mungkin bahkan bermain di Liga Champions," ungkapnya. Di usianya yang kini 33 tahun, Lukaku masih memiliki ambisi besar. Ia berharap dapat bertahan di Fenerbahce selama dua musim, dengan opsi perpanjangan kontrak yang bisa membuatnya bertahan hingga usia 35 tahun.
Lukaku juga telah merencanakan masa depannya. "Mudah-mudahan saya bisa menjalani dua tahun itu, dan setelah itu saya akan pulang ke rumah," katanya. Ia menegaskan akan tetap fit hingga usia 35 tahun, dan bertekad terus bermain hingga 2030, termasuk bersama tim nasional Belgia. "Setelah itu, permainan selesai!" serunya. Ia menolak anggapan bahwa usia menjadi penghalang, dengan menyebut banyak pemain yang mampu tampil hingga usia 40 tahun. "Jika Anda terus mendengarkan opini orang, Anda akan tidak bahagia. Saya menjaga diri saya dengan baik dan sekarang saya kembali," pungkasnya.
Kisah Lukaku ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap lapangan hijau, ada tekanan dan drama yang jarang terlihat. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan karier pemain sekelas Lukaku bisa menjadi pelajaran tentang ketangguhan mental dan pentingnya fokus pada tujuan jangka panjang. Pertanyaannya, akankah Lukaku mampu membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan di panggung Eropa, atau justru akan meredup di usia senjanya? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, semangatnya untuk terus berkompetisi patut diacungi jempol.



