Peggy Webber, Aktris Legendaris Era Radio yang Beradu Peran dengan Orson Welles dan Hitchcock, Tutup Usia di 100 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Peggy Webber, bintang radio yang namanya melekat di era keemasan drama audio Amerika, meninggal dunia di usia 100 tahun di Napa, California, akibat usia lanjut.
- Kariernya membentang dari kolaborasi dengan Orson Welles dalam film Macbeth (1948) hingga peran kecil di film Hitchcock The Wrong Man (1956), menandai jejak penting dalam transisi industri hiburan dari radio ke layar lebar.
- Kepergiannya menutup babak akhir generasi aktor yang hidup di dua era: puncak radio dan awal televisi, sekaligus menjadi pengingat akan kekayaan warisan budaya audio yang kini mulai dilupakan.

Dunia hiburan Amerika kembali kehilangan salah satu ikonnya. Peggy Webber, aktris yang namanya harum di era keemasan radio dan sempat beradu peran dengan sutradara legendaris Orson Welles serta Alfred Hitchcock, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu lalu di sebuah fasilitas hunian lansia di Napa, California. Usianya genap 100 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh putranya, Rob Sinskey, kepada The Hollywood Reporter.
Webber bukan sekadar aktris biasa. Sepanjang kariernya, ia membintangi ribuan episode drama radio, sebuah pencapaian yang nyaris mustahil ditandingi aktor modern. Namanya melejit lewat peran-peran di The Adventures of Sherlock Holmes, The Man Called X, The Story of Dr. Kildare, dan Escape. Ia juga sempat memerankan Ilsa, karakter yang dipopulerkan Ingrid Bergman di film Casablanca, dalam versi serial radio NBC pada 1944. Di layar lebar, ia meninggalkan jejak lewat film Macbeth arahan Welles pada 1948, di mana ia tampil sebagai Lady Macduff dengan sentuhan glamor yang menyimpang dari pakem tradisional.
Keputusan Welles memilih Webber bukan tanpa cerita. Dalam wawancara dengan Time Magazine, Webber mengenang bagaimana sang sutradara yang tengah kelelahan justru memberinya kebebasan interpretasi. "Dia bilang, 'Saya tidak ingin Lady Macduff yang tradisional. Saya ingin sosok muda yang glamor, mungkin 21 tahun,'" kenang Webber. Ia pun membawakan dialog dengan aksen Skotlandia sesuai permintaan, dan langsung mendapat peran itu. Kisah ini menunjukkan bagaimana Webber dipercaya untuk membawa angin segar pada karya klasik, sebuah kualitas yang membuatnya diminati para sineas besar.
Selain Welles, Webber juga bekerja dengan Hitchcock dalam film The Wrong Man (1956) sebagai Miss Dennerly. Ia juga membintangi film horor The Screaming Skull (1958) dan tampil di sejumlah serial televisi populer seperti M Squad (1957โ1960) dan Dragnet (1967โ1970). Namun, kontribusi terbesarnya tetap di ranah radio, medium yang kala itu menjadi primadona hiburan massal sebelum televisi mengambil alih.
Kepergian Webber menandai punahnya generasi aktor yang mengawali karier di era radio, sebuah periode yang kerap dianggap sebagai laboratorium kreativitas akting. Di Indonesia, warisan radio drama juga pernah berjaya lewat sandiwara radio pada 1970-an hingga 1980-an, sebelum tergerus televisi dan kini platform digital. Kisah Webber bisa menjadi cermin bagi industri kreatif Tanah Air: bagaimana medium yang dianggap usang justru melahirkan bakat-bakat lintas generasi.
Rob Sinskey, putra Webber, menyatakan ibunya meninggal karena sebab alamiah. Sebelumnya, Webber tinggal di Los Angeles, namun dievakuasi menyusul kebakaran hutan besar pada Januari 2025. Peristiwa itu memaksanya pindah ke Napa, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang. Meski demikian, jejak kariernya tetap abadi dalam arsip rekaman radio dan film yang masih bisa dinikmati hingga kini.
Pertanyaannya kini, mampukah industri hiburan modern, termasuk di Indonesia, kembali menghidupkan format audio drama yang pernah menjadi tulang punggung kreativitas akting? Ataukah kisah Webber hanya akan menjadi catatan kaki sejarah yang perlahan memudar?



