Hayden Panettiere Meninggal: Laporan Polisi Ungkap Kehadiran Mantan Kekasih di Detik-Detik Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Laporan polisi yang dirilis NBC News mengonfirmasi Brian Hickerson, mantan kekasih Hayden Panettiere, berada di lokasi saat aktris tersebut mengalami henti jantung dan meninggal dunia.
- Hickerson, yang memiliki riwayat kekerasan dalam rumah tangga, menunjukkan emosi hanya setelah Panettiere dinyatakan meninggal, sementara saudaranya tampak sangat terpukul.
- Kasus ini menyoroti kompleksitas hubungan Panettiere dengan Hickerson, yang sempat diwarnai vonis penjara dan restraining order, serta membuka diskusi tentang kekerasan dalam rumah tangga di industri hiburan.

Laporan polisi terkait kematian aktris Hayden Panettiere akhirnya mengungkap fakta baru: Brian Hickerson, kekasih yang kerap putus-nyambung dengannya, hadir di lokasi ketika sang bintang mengalami henti jantung di sebuah apartemen di Carolina Selatan, Minggu (16/8). Kehadiran Hickerson di momen-momen terakhir itu menjadi sorotan utama, mengingat hubungan keduanya diwarnai berbagai kontroversi, termasuk kasus kekerasan dalam rumah tangga yang sempat menjerat pria tersebut.
Dokumen insiden polisi yang diperoleh NBC News, meski banyak bagiannya disunting, menyebutkan bahwa Hickerson menunjukkan kepada petugas sebuah "kantong berisi obat-obatan" yang sedang dikonsumsi Panettiere. Petugas yang merespons, Matthew Bryan, mengaku pertama kali berbicara dengan Zach Hickerson, saudara Brian, yang tampak "sangat emosional" saat tim medis berusaha menyelamatkan nyawa aktris berusia 36 tahun itu. Namun, Brian justru tidak menunjukkan reaksi berarti hingga Panettiere dinyatakan meninggal dunia. Rekaman kamera tubuh petugas yang merekam kejadian tersebut hingga kini belum dirilis ke publik.
Kematian Panettiere, yang dikenal lewat perannya di serial "Heroes" dan "Nashville", sontak mengejutkan industri hiburan. Namun, di balik duka tersebut, publik kembali diingatkan pada dinamika hubungannya dengan Hickerson yang penuh liku. Keduanya mulai menjalin hubungan pada 2018, tetapi bahtera asmara mereka kerap diwarnai laporan kekerasan domestik. Pada April 2021, Hickerson sempat dipenjara selama 45 hari setelah mengaku tidak keberatan atas dua dakwaan kejahatan terkait cedera pada pasangan. Vonis tersebut juga mewajibkannya menjalani masa percobaan empat tahun, mengikuti 52 sesi kelas kekerasan dalam rumah tangga, serta dikenakan restraining order selama lima tahun yang melarangnya mendekati Panettiere.
Panettiere sendiri pernah mengungkapkan pengalamannya menjalani hubungan yang tidak sehat tersebut dalam memoar terbarunya, "This Is Me: A Reckoning". Ia menyebut proses menulis ulang pengalaman itu sebagai sesuatu yang "brutal, traumatis, dan emosional". Dalam wawancaranya dengan Us Weekly, ia mengaku merasa malu dan sulit menerima kenyataan bahwa dirinya yang selama ini dikenal kuat bisa terjerat dalam situasi semacam itu. "Saya selalu melihat diri saya sebagai wanita yang tangguh. Gagasan bahwa saya bisa membiarkan hal seperti ini terjadi pada saya sungguh mengejutkan," ujarnya.
Menariknya, di tengah catatan kelam tersebut, Hickerson beberapa kali memberikan pernyataan yang kontradiktif. Awal tahun ini, ia menyebut Panettiere sebagai "orang termanis di dunia" dan memujinya sebagai aktris paling berbakat yang pernah ia temui. Namun, ia juga mengakui bahwa hubungan mereka tidak akan berjalan baik dan ia akan menjadi "orang bodoh" jika tidak mundur demi membiarkan Panettiere berkembang dalam kariernya. Meski demikian, pada Mei lalu, Hickerson masih mengungkapkan harapannya untuk menikahi Panettiere suatu hari nanti. Ketika ditanya soal kemungkinan tersebut di Bandara Internasional Los Angeles, Panettiere hanya tertawa dan menegaskan bahwa pernikahan di antara mereka tidak akan pernah terjadi.
Kisah Panettiere dan Hickerson menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di kalangan selebritas, yang kerap kali tersembunyi di balik gemerlap panggung. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap mencuat dan menjadi perhatian publik, mendorong diskusi tentang perlindungan korban dan penegakan hukum yang lebih tegas. Kepergian Panettiere meninggalkan duka mendalam, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang pentingnya mendukung korban kekerasan untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat.
Ke depannya, publik masih menanti apakah rekaman kamera tubuh petugas akan dirilis dan memberikan gambaran lebih jelas tentang momen-momen terakhir Panettiere. Pertanyaan yang menggantung: akankah kasus ini mendorong perubahan dalam cara industri hiburan menangani isu kekerasan domestik, atau justru tenggelam dalam pusaran duka sesaat?



