Pancatera dan Empat Hostnya: Dari Podcast Perempuan hingga Ruang Publik yang Mengundang Perhatian
Baca dalam 60 detik
- Pancatera, inisiatif podcast In Her View, menampilkan empat perempuan dengan latar belakang media dan advokasi yang beragam.
- Popularitas mereka meningkat setelah foto bersama Presiden Prabowo dan Didit Hediprasetyo menjadi viral di media sosial.
- Ke depan, Pancatera berpotensi menjadi jembatan antara isu perempuan dan kebijakan publik, dengan anggota yang aktif di berbagai bidang.

Empat perempuan di balik podcast In Her View, yang tergabung dalam wadah bernama Pancatera, mendadak menjadi sorotan setelah foto kebersamaan mereka dengan Presiden Prabowo Subianto dan putranya, Didit Hediprasetyo, di Istana Negara beredar luas di media sosial. Momen itu memicu rasa ingin tahu publik terhadap sosok di balik ruang diskusi yang selama ini konsisten mengangkat pengalaman perempuan Indonesia.
Pancatera bukan sekadar podcast hiburan. Sejak awal, format ini dirancang sebagai ruang aman bagi perempuan untuk berbicara tentang karier, relasi, identitas, hingga kesehatan mental. Keempat host-nyaโMarissa Anita, Caroline Soerachmat, Kai Soerja, dan Karina Basrewanโmembawa perspektif yang saling melengkapi, mulai dari dunia penyiaran, advokasi lingkungan, hingga pengembangan kepemimpinan.
Yang menarik, perhatian publik terhadap Pancatera datang di tengah meningkatnya diskursus tentang representasi perempuan di ruang publik Indonesia. Kehadiran mereka di Istana Negara, meski hanya sebuah pertemuan, dianggap sebagian kalangan sebagai sinyal bahwa suara perempuan mulai dilibatkan dalam percakapan-percakapan penting di tingkat nasional.
Marissa Anita, misalnya, bukan nama asing di industri perfilman dan televisi. Peraih Piala Citra untuk kategori Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik lewat film Ali & Ratu Ratu Queens ini juga aktif sebagai komunikator dan pelatih kepemimpinan. Sementara itu, Kai Soerja membawa pengalaman panjang sebagai penyiar dan konsultan, dengan perhatian khusus pada isu kesetaraan gender di olahraga, terutama rugby perempuan di Asia.
Caroline Soerachmat, yang pernah menjadi presenter di NET TV dan VOA, kini juga mengembangkan bisnis di bidang kecantikan dan fesyen. Adapun Karina Basrewan, mantan Miss Earth Indonesia 2022, fokus pada isu lingkungan dan perubahan iklim, bahkan terlibat dalam program pelatihan jurnalisme iklim internasional. Kombinasi latar belakang inilah yang membuat setiap episode In Her View terasa kaya dan tidak monoton.
Fenomena Pancatera juga mencerminkan pergeseran cara perempuan membangun wacana. Alih-alih menunggu ruang yang disediakan, mereka menciptakan platform sendiri. Ini sejalan dengan tren global di mana podcast menjadi medium alternatif untuk menyuarakan perspektif yang terpinggirkan. Di Indonesia, langkah ini terasa relevan mengingat masih minimnya representasi perempuan di ruang redaksi maupun panggung politik.
Meski demikian, publik juga menanti apakah popularitas yang baru didapat ini akan diikuti dengan aksi nyata. Sejauh ini, Pancatera belum secara eksplisit menyatakan agenda politik atau advokasi tertentu. Namun, dengan rekam jejak para anggotanya, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi katalisator perubahan, terutama dalam mendorong kebijakan yang lebih responsif gender.
Pertanyaan yang menggantung: akankah Pancatera tetap bertahan sebagai ruang diskusi yang independen, atau justru semakin terlibat dalam percaturan kekuasaan? Jawabannya akan menentukan apakah mereka sekadar fenomena sesaat atau benar-benar menjadi kekuatan baru dalam lanskap sosial-politik Indonesia.



