Bioskop Inggris Larang Kacamata Pintar Meta: Ancaman Baru bagi Industri Film
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Bioskop Inggris mengizinkan setiap jaringan bioskop menentukan kebijakan sendiri terkait larangan atau pembatasan kacamata pintar, tanpa aturan seragam nasional.
- Langkah ini dipicu kekhawatiran pembajakan film dan privasi, menyusul larangan serupa di pengadilan Inggris dan gugatan pidana di Jerman terhadap Meta.
- Kebijakan ini berpotensi memengaruhi pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana bioskop mulai ramai dan teknologi wearable semakin populer.

LONDON — Jaringan bioskop di Inggris mulai memasang aturan yang melarang atau membatasi penggunaan kacamata pintar berkamera, termasuk perangkat bertenaga AI milik Meta. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran akan pembajakan film dan pelanggaran privasi, sebagaimana diungkapkan oleh UK Cinema Association, Kamis (20/8).
Keputusan ini muncul di tengah pengawasan ketat terhadap kemampuan merekam dari perangkat wearable. Sebelumnya, pengadilan di Inggris dan Wales pada bulan yang sama telah melarang penggunaan Meta smart glasses di ruang sidang, dengan alasan pembatasan pengambilan gambar dan video. Kini, sektor hiburan pun bergerak serupa, menandakan bahwa teknologi ini mulai dianggap sebagai ancaman serius di ruang publik.
Yang menarik, kebijakan ini tidak diterapkan secara seragam. UK Cinema Association menegaskan bahwa setiap operator bioskop memiliki kewenangan untuk menentukan aturannya sendiri, baik berupa larangan penuh maupun pembatasan tertentu. Pendekatan yang fleksibel ini dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan operasional masing-masing venue, sekaligus menghindari kesan menghambat aksesibilitas bagi penyandang disabilitas yang mungkin memanfaatkan fitur khusus pada kacamata pintar.
Asosiasi tersebut juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan para anggotanya untuk memastikan kebijakan yang diambil "tetap relevan dan proporsional" seiring perkembangan teknologi. Namun, di balik itu, tekanan terhadap Meta semakin nyata. Pada awal Agustus, sebuah kelompok advokasi di Jerman dilaporkan telah mengajukan gugatan pidana terhadap Meta dan pihak lain yang terlibat dalam penjualan perangkat tersebut, dengan tuduhan pelanggaran hukum privasi.
Bagi industri film global, langkah ini menjadi sinyal bahwa teknologi wearable tidak selalu diterima tanpa batas. Meski kacamata pintar menawarkan kemudahan, potensi penyalahgunaan untuk merekam film di bioskop—yang kerap menjadi sumber pembajakan—membuat para pelaku industri bergerak cepat. Di Indonesia, di mana industri bioskop terus tumbuh dan minat terhadap perangkat pintar meningkat, kebijakan serupa bisa menjadi bahan pertimbangan bagi asosiasi bioskop nasional, terutama untuk melindungi hak cipta film yang selama ini rawan bocor.
Para pengamat menilai, langkah Inggris ini mungkin menjadi preseden bagi negara lain. Jika Meta tidak segera merespons dengan fitur keamanan yang lebih ketat—misalnya geofencing yang menonaktifkan kamera di area tertentu—bukan tidak mungkin larangan serupa akan menyebar ke lebih banyak negara. Pertanyaannya, akankah Meta beradaptasi, atau justru menghadapi resistensi yang semakin meluas?



