LandSpace Bawa China ke Klub Elite Roket Daur Ulang, Saingi SpaceX
Baca dalam 60 detik
- LandSpace berhasil mendaratkan roket Zhuque-3, mencatat sejarah sebagai perusahaan swasta ketiga yang mampu memulihkan booster kelas orbital.
- Keberhasilan ini memperkuat posisi China dalam perlombaan antariksa dan berpotensi mengerek kepercayaan investor menjelang IPO LandSpace di STAR Market.
- Dengan teknologi daur ulang, biaya peluncuran satelit diperkirakan turun drastis, membuka peluang komersialisasi antariksa yang lebih luas, termasuk bagi Indonesia.

China resmi menempatkan diri di jajaran negara penguasa teknologi roket daur ulang setelah LandSpace, perusahaan rintisan swasta, berhasil mendaratkan kembali tahap pertama roket Zhuque-3 di daratan. Prestasi ini menempatkan China sejajar dengan Amerika Serikat yang selama ini unggul melalui SpaceX dan Blue Origin, sekaligus menandai babak baru dalam upaya menekan biaya eksplorasi antariksa.
Misi yang berlangsung pada Rabu (19/8) itu menjadi yang keempat bagi China dalam upaya pemulihan booster orbital. Berbeda dari percobaan sebelumnya yang gagal, kali ini tahap pertama roket berhasil mendarat dengan sempurna menggunakan kaki pendarat di sebuah lokasi di Provinsi Gansu, sekitar 390 kilometer dari landasan peluncuran di Zona Inovasi Komersial Antariksa Dongfeng, China barat laut. Keberhasilan ini sekaligus menjadi yang pertama di China untuk pendaratan berbasis darat dengan sistem kaki.
Zhuque-3, roket setinggi 66,1 meter yang terbuat dari baja tahan karat, dirancang sebagai tandingan Falcon 9 milik SpaceX. Material baja dipilih karena ketahanan panasnya yang lebih baik dan potensi biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan paduan aluminium-litium yang digunakan Falcon 9. Selain itu, Zhuque-3 menggunakan metana dan oksigen cair, kombinasi yang dianggap lebih ramah lingkungan daripada campuran oksigen cair dan minyak tanah pada Falcon 9.
Dengan kapasitas angkut 14,2 ton ke orbit rendah Bumi, Zhuque-3 memang masih di bawah Falcon 9 yang mampu membawa 22,8 ton. Namun, LandSpace menargetkan booster-nya dapat digunakan ulang hingga 20 kali, sebuah langkah yang dinilai akan menekan biaya peluncuran secara signifikan. Sebagai perbandingan, SpaceX meluncurkan Falcon 9 sekitar 150 kali setahun dan telah menggunakan kembali boosternya puluhan kali.
Keberhasilan LandSpace tidak hanya berdampak pada persaingan antariksa global, tetapi juga pada iklim investasi. Perusahaan yang tengah memproses pencatatan saham di STAR Market, bursa khusus teknologi di Shanghai, diperkirakan akan semakin menarik minat investor. Dalam prospektus IPO yang diperbarui pada Juni lalu, LandSpace menyatakan optimisme mencapai titik impas pada 2029. Pendanaan segar itu akan digunakan untuk mengembangkan layanan peluncuran yang dapat digunakan kembali secara komersial.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan biaya peluncuran yang semakin murah, akses ke orbit menjadi lebih terjangkau bagi negara berkembang. Indonesia, yang tengah mengembangkan ekosistem satelit untuk telekomunikasi dan observasi bumi, dapat memanfaatkan layanan peluncuran komersial dari China sebagai alternatif yang lebih ekonomis. Namun, hal ini juga menuntut kesiapan regulasi dan sumber daya manusia dalam negeri agar tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi antariksa.
Sejak Desember 2025, ketika LandSpace menjadi entitas China pertama yang menguji roket daur ulang, China terus menunjukkan kemajuan pesat. Meskipun uji coba tersebut belum berhasil mendaratkan booster, pembelajaran berharga didapat. Beberapa minggu kemudian, Long March 12A milik negara juga gagal dalam pemulihan. Namun, pada Juli lalu, China sukses menguji sistem penangkap jaring di platform laut, menjadi negara kedua yang berhasil mendaratkan roket kelas orbital dengan metode tersebut. Kini, dengan pendaratan darat yang sukses, China memiliki dua teknik pemulihan yang berbeda, memberikan fleksibilitas lebih dalam misi komersial.
LandSpace berencana menggunakan kembali booster yang baru dipulihkan dalam enam bulan ke depan. Jika berhasil, ini akan menjadi fondasi bagi peluncuran berfrekuensi tinggi dengan biaya rendah, sebuah lompatan yang dapat mengubah ekonomi antariksa global. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kedaulatan teknologinya di bidang antariksa?



