Bima Sakti Telan Galaksi Kerdil 11,8 Miliar Tahun Lalu, Jejak Tertua Evolusi Galaksi Kita Terungkap
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru mengungkap tabrakan kosmik pertama yang dialami Bima Sakti dengan galaksi kerdil bernama LKH, terjadi saat alam semesta baru berusia 15 persen dari usianya sekarang.
- Fusi galaksi ini tidak hanya menambah bintang, tetapi juga memicu ledakan pembentukan bintang baru melalui tabrakan gas antargalaksi, sekaligus memperkaya Bima Sakti dengan materi gelap.
- Temuan ini membuka jalan untuk menelusuri asal-usul tata surya dan Bumi, serta menjawab pertanyaan fundamental tentang asal-usul manusia di alam semesta.

Sebuah studi astronomi yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy mengungkap bahwa Bima Sakti, galaksi spiral yang menjadi rumah bagi ratusan miliar bintang termasuk Matahari, ternyata pernah menelan galaksi kerdil sekitar 11,8 miliar tahun lalu. Peristiwa ini menjadi merger galaksi tertua yang pernah tercatat dalam sejarah Bima Sakti, terjadi ketika alam semesta baru berusia kurang dari 15 persen dari usianya saat ini. Temuan ini tidak hanya mengubah pemahaman tentang masa lalu galaksi kita, tetapi juga memberikan petunjuk baru mengenai asal-usul tata surya dan kehidupan di Bumi.
Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh astrofisikawan Davide Massari dari National Institute for Astrophysics (INAF) di Bologna, Italia, menganalisis gugus bintang yang terletak di wilayah pusat Bima Sakti. Dengan menggunakan data dari teleskop luar angkasa Hubble dan Gaia, mereka mempelajari usia, komposisi kimia, dan lintasan ribuan gugus bintang yang masing-masing berisi ratusan ribu bintang. Dari analisis ini, mereka menemukan bukti bahwa bintang-bintang tersebut berasal dari galaksi kerdil yang kemudian dinamai Low-energy-Kraken-Heracles (LKH), yang bergabung dengan Bima Sakti sekitar 2 miliar tahun setelah Big Bang.
Galaksi kerdil LKH diperkirakan memiliki massa bintang setara dengan 500 juta kali massa Matahari, atau sekitar seperempat dari massa Bima Sakti pada saat itu. Meskipun merger ini tergolong damai dari sudut pandang bintang—tanpa tabrakan antarbintang—dari sudut pandang gas, peristiwa ini justru eksplosif. Tabrakan antara gas dari LKH dan gas Bima Sakti memicu pembentukan banyak bintang baru, sebagaimana dijelaskan oleh Massari. "Dari sudut pandang bintang, merger ini cukup damai, tanpa tabrakan bintang ke bintang. Tetapi dari sudut pandang gas, merger ini lebih 'eksplosif'—kemungkinan tabrakan antara gas dari LKH dan gas dari Bima Sakti memicu pembentukan banyak bintang," ujarnya.
Penemuan ini menjawab perdebatan lama di kalangan astronom mengenai apakah pertumbuhan awal Bima Sakti lebih banyak didorong oleh pembentukan bintang internal atau oleh merger dengan galaksi lain. Studi ini menunjukkan bahwa merger LKH menyuntikkan sejumlah besar bintang dan gas antarbintang yang menjadi bahan bakar pembentukan bintang, serta materi gelap yang misterius. Massari menegaskan bahwa "temuan kunci dari penelitian kami adalah penemuan yang tidak ambigu tentang peristiwa merger pertama yang dialami galaksi kita pada masa pertumbuhannya."
Bima Sakti sendiri diketahui telah mengalami setidaknya dua merger besar lainnya setelah peristiwa LKH. Sekitar 1,8 miliar tahun kemudian, galaksi ini menyerap galaksi kerdil Gaia-Sausage-Enceladus, dan dalam 6 miliar tahun terakhir, Bima Sakti terus bergabung dengan galaksi kerdil Sagittarius. Setiap merger ini, menurut Massari, memiliki pengaruh terhadap pembentukan tata surya kita. "Setiap merger ini memiliki pengaruh pada peristiwa yang mengarah pada pembentukan tata surya kita, dan akhirnya Bumi. Inilah mengapa saya pikir merekonstruksi masa lalu Bima Sakti secara efektif berkontribusi untuk menjawab pertanyaan besar: 'Dari mana kita berasal?'"
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki resonansi yang mendalam. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, pertanyaan tentang asal-usul alam semesta sering kali dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual. Namun, sains menawarkan perspektif yang berbeda: dengan memahami sejarah kosmik, kita dapat lebih menghargai posisi kita di alam semesta yang luas. Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya investasi dalam sains dasar dan astronomi, yang sering kali dianggap kurang relevan dibandingkan dengan riset terapan. Padahal, penemuan seperti ini tidak hanya memperluas wawasan manusia, tetapi juga dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menekuni bidang sains dan teknologi.
Ke depan, para astronom akan terus mencari jejak merger LKH di dalam Bima Sakti, meskipun debu antarbintang di wilayah pusat galaksi membuat pengamatan menjadi sulit. Massari menyebutkan bahwa banyak bintang yang berasal dari galaksi kerdil tersebut mungkin masih tersembunyi di wilayah dalam Bima Sakti, termasuk di dalam gugus bintang. Dengan semakin canggihnya teleskop dan metode analisis, bukan tidak mungkin kita akan menemukan lebih banyak bukti tentang masa lalu galaksi kita. Namun, satu pertanyaan tetap menggantung: apakah ada galaksi kerdil lain yang belum terdeteksi yang juga pernah ditelan oleh Bima Sakti? Jika ya, apa dampaknya terhadap evolusi galaksi kita? Penelitian lebih lanjut akan menjadi kunci untuk mengungkap misteri ini.



