AI di Kamera Bus Singapura: Deteksi Pelanggaran Lalu Lintas dan Jalan Rusak Mulai 2026
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) akan menggelar sistem analisis video bertenaga AI yang memanfaatkan kamera bus untuk mendeteksi pelanggaran jalur bus dan kerusakan jalan, mulai kuartal IV 2026.
- Uji coba menunjukkan akurasi rata-rata 90 persen, dan sistem ini akan diperluas ke seluruh rute bus pada 2030, meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum secara real-time.
- Langkah ini beriringan dengan pengumuman fitur pengumuman audio keselamatan otomatis dan peninjauan ulang rute bus untuk mengurangi kelelahan pengemudi, mencerminkan komitmen Singapura pada keselamatan transportasi publik.

Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) mengumumkan rencana penerapan sistem analisis video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memanfaatkan kamera yang sudah terpasang di bus untuk mendeteksi pelanggaran lalu lintas dan kerusakan jalan. Sistem ini dijadwalkan mulai dioperasikan secara bertahap pada kuartal keempat 2026, dengan target perluasan ke seluruh rute bus pada 2030.
Teknologi ini dirancang untuk mengenali berbagai pelanggaran, seperti kendaraan yang masuk ke jalur bus, parkir ilegal di sepanjang jalan, serta mendeteksi kerusakan infrastruktur jalan dan pekerjaan jalan yang tidak sesuai ketentuan. Dalam uji coba yang telah dilakukan, sistem ini mencapai akurasi rata-rata 90 persen untuk berbagai skenario yang diuji. LTA menilai teknologi ini akan memperkuat kemampuan pemantauan di seluruh jaringan bus, memungkinkan tindakan perbaikan atau penegakan hukum yang lebih cepat dan tepat sasaran.
Senior Menteri Negara untuk Transportasi dan Pembangunan Nasional, Sun Xueling, dalam acara Public Transport Safety and Security Awards 2026 di One Punggol, menyatakan bahwa solusi teknologi berperan penting dalam mengurangi beban kerja manual pengemudi bus dan membuka cara baru dalam menilai risiko keselamatan. Ia menambahkan bahwa berkurangnya pelanggaran di jalur bus akan membantu menghindari situasi di mana pengemudi harus mengerem mendadak untuk mencegah tabrakan.
Selain sistem AI, LTA juga akan secara bertahap meluncurkan fitur pengumuman audio keselamatan otomatis di seluruh armada bus mulai akhir 2027, seiring dengan peningkatan Sistem Manajemen Armada Bus. Fitur ini telah diujicobakan pada 11 layanan bus sejak Agustus 2025, mengingatkan penumpang untuk berpegangan pada pegangan tangan sebelum bus bergerak. LTA menyebut fitur ini mendapat respons positif dan akan terus tersedia pada layanan tersebut.
LTA juga bekerja sama dengan operator bus untuk meninjau 54 layanan dengan waktu tempuh lebih dari dua jam. Langkah ini bertujuan mengurangi kelelahan pengemudi dan meningkatkan keselamatan. Pada 10 rute dengan waktu tempuh berlebih, LTA telah memperpendek waktu mengemudi, antara lain dengan menyesuaikan rute atau memperkenalkan pergantian pengemudi di tengah rute. Beberapa layanan loop kontinu juga diubah menjadi rute dua arah. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari rekomendasi yang diajukan oleh Bus Safety Tripartite Taskforce pada Maret 2025.
Selain perubahan operasional, pengemudi bus juga menjalani pelatihan penyegaran. Hingga Juli 2026, 99 persen pengemudi telah menyelesaikan program Bus Captain Drive Safe, yang bertujuan meningkatkan kesadaran keselamatan dan memperkuat praktik mengemudi yang aman. Sun Xueling menargetkan 100 persen pada Oktober 2026, yang menurutnya mencerminkan komitmen kuat operator dan pengemudi terhadap pembelajaran berkelanjutan.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menjadi contoh bagaimana teknologi AI dapat diintegrasikan dalam transportasi publik untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi. Dengan adopsi teknologi serupa, Indonesia dapat mempertimbangkan pemanfaatan kamera yang ada pada armada bus TransJakarta atau angkutan umum lainnya untuk mendeteksi pelanggaran dan kerusakan jalan, sekaligus mengurangi beban kerja pengemudi. Namun, tantangan seperti infrastruktur data dan koordinasi antar lembaga perlu menjadi perhatian.
Ke depan, keberhasilan implementasi sistem ini di Singapura akan menjadi tolok ukur bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam memanfaatkan AI untuk keselamatan transportasi. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengadopsi teknologi serupa untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi publiknya?



