Mogok Makan 16 Hari Berakhir, Pemerintah Jharkhand Batalkan Ujian Rekrutmen: Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Aktivis Devendra Nath Mahto mengakhiri mogok makan setelah pemerintah Jharkhand setuju membatalkan ujian JSSC-CGL dan menyelidiki dugaan kecurangan.
- Protes berlanjut karena demonstran menuntut investigasi CBI, menyoroti krisis kepercayaan pada sistem rekrutmen pegawai negeri India.
- Keputusan ini memicu reaksi dari kandidat yang sudah diterima, dan menjadi pelajaran bagi negara lain, termasuk Indonesia, tentang transparansi seleksi ASN.

Setelah 16 hari menjalani mogok makan, aktivis asal Jharkhand, Devendra Nath Mahto, akhirnya menghentikan aksinya di sebuah rumah sakit di Ranchi, menyusul keputusan pemerintah negara bagian untuk membatalkan ujian rekrutmen yang kontroversial. Namun, para pengunjuk rasa menegaskan demonstrasi akan terus berlanjut hingga badan investigasi utama India, CBI, turun tangan menyelidiki dugaan kecurangan pada ujian-ujian lainnya.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh Kepala Menteri Jharkhand, Hemant Soren, pada Senin malam. Selain membatalkan ujian JSSC-CGL, pemerintah juga mengumumkan pembatalan semua ujian yang diselenggarakan oleh agensi swasta TSR Data Processing Private Limited (TDPL), yang sebelumnya memenangkan tender. Soren juga membentuk komite untuk merekomendasikan reformasi sistem ujian negara bagian. "Banyak fakta mengejutkan yang muncul," ujarnya, seraya menambahkan bahwa penyelidikan masih berlangsung.
Aksi protes yang dimulai pada 25 Juli ini dipicu oleh dugaan kebocoran soal dan manipulasi hasil ujian. Sebelumnya, pemerintah telah membatalkan ujian pendahuluan dan menyerahkan penyelidikan kepada CID, yang telah menangkap sejumlah orang, termasuk kepala Komisi Layanan Publik Jharkhand. Namun, para demonstran tidak puas dan menuntut investigasi oleh CBI, yang dianggap lebih independen.
Fenomena ini bukan hal baru di India. Perebutan kursi pegawai negeri sangat kompetitif, dengan jutaan orang mengikuti ujian setiap tahunnya demi mendapatkan stabilitas pekerjaan. Sayangnya, kasus kebocoran soal dan praktik curang sering kali mencoreng proses seleksi. Bahkan bagi mereka yang lulus, ketidakpastian masih membayangi karena proses rekrutmen bisa berlarut-larut hingga bertahun-tahun.
Di Indonesia, isu serupa juga pernah muncul dalam seleksi CPNS, seperti kasus kebocoran soal di masa lalu. Meskipun saat ini sistem Computer Assisted Test (CAT) telah diterapkan untuk meminimalkan kecurangan, tantangan integritas tetap ada. Keputusan Jharkhand untuk membatalkan ujian secara menyeluruh dan membentuk komite reformasi bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia dalam memperkuat transparansi dan akuntabilitas seleksi aparatur sipil negara.
Para pengunjuk rasa, yang telah berkemah di sebuah stadion di Ranchi sejak 25 Juli, merayakan pengumuman tersebut dengan tarian dan sorak-sorai. Namun, sebagian tetap bersikeras untuk melanjutkan protes. "Sampai tuntutan itu dipenuhi, kami tidak akan beranjak dari sini," tegas aktivis mahasiswa Ravindra Paswan kepada kantor berita ANI.
Tekanan politik pun meningkat. Pemerintah negara bagian yang merupakan koalisi antara Jharkhand Mukti Morcha, Kongres, dan partai lain, kini berada di bawah sorotan. Partai Bharatiya Janata Party (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi, yang berada di oposisi di negara bagian, justru mendukung aksi para pengunjuk rasa.
Di sisi lain, keputusan membatalkan ujian JSSC-CGL memicu reaksi dari kandidat yang telah dinyatakan lulus dan bahkan sudah bekerja. Mereka khawatir posisi yang telah diperoleh akan dicabut. Pemerintah belum memberikan kejelasan mengenai nasib mereka jika investigasi menemukan kecurangan.
Langkah pemerintah Jharkhand ini menunjukkan bahwa tekanan publik dapat memaksa perubahan kebijakan, meskipun harus melalui pengorbanan yang tidak mudah. Bagi Indonesia, kasus ini menggarisbawahi pentingnya menjaga integritas dalam setiap tahap seleksi pegawai negeri. Apakah sistem CAT yang sudah diterapkan cukup untuk mencegah kecurangan, atau perlu ada pengawasan eksternal yang lebih ketat? Jawabannya mungkin terletak pada kemauan politik untuk terus berbenah.



