Banjir Bandang Chiba: Rekaman Kamera Ungkap Jalan Berubah Sungai, Drainase Kota Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Rekaman kamera keamanan di Ichihara, Chiba, memperlihatkan jalanan permukiman berubah menjadi aliran deras saat hujan ekstrem 13-14 Agustus, dengan dua mobil terjebak dan pengemudi terpaksa meninggalkan kendaraan.
- Curah hujan mencapai 93,5 mm per jam, melampaui kapasitas drainase kota, menyebabkan banjir berulang dua kali dalam semalam dan merendam rumah warga hingga 45 cm di atas lantai.
- Peristiwa ini mengulang banjir serupa pada 2019, memicu tuntutan warga agar pemerintah kota segera meningkatkan infrastruktur drainase dan sistem peringatan dini.

Rekaman kamera pengawas di kawasan permukiman Chiharadai, Kota Ichihara, Prefektur Chiba, Jepang, memperlihatkan jalanan yang tadinya kering berubah menjadi aliran deras dalam hitungan jam. Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah timur Jepang pada 13-14 Agustus lalu memicu banjir yang tidak hanya merendam rumah, tetapi juga menjebak sejumlah kendaraan di tengah arus air berlumpur. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur perkotaan di negara maju pun bisa kewalahan menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.
Menurut rekaman yang diserahkan asosiasi warga setempat kepada Mainichi Shimbun, hujan mulai mengguyur sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Pada awalnya, air tampak biasa saja, marka zebra cross masih terlihat jelas. Namun, intensitas hujan meningkat drastis hanya dalam satu jam. Jalanan berubah seperti sungai, dan kendaraan yang melintas menciptakan gelombang air ke tepian. Sekitar pukul 19.30, sebuah mobil yang mencoba melintasi persimpangan akhirnya mati mesin, memaksa pengemudinya keluar dan meninggalkan kendaraan di tengah banjir.
Hujan sempat mereda pada pukul 20.00, dan warga mulai terlihat berjalan dengan payung. Namun, tak lama kemudian, hujan deras kembali turun dengan intensitas lebih tinggi. Dalam rekaman, air naik hingga menutupi pelat nomor kendaraan, dan arus cokelat berlumpur mengalir deras. Sebuah mobil lain yang mendekati persimpangan juga ikut terjebak. Pola banjir yang datang dua gelombang ini menunjukkan bahwa tanah di kawasan tersebut sudah jenuh air, sehingga air hujan tidak lagi mampu meresap.
Seorang pekerja perusahaan berusia 54 tahun yang tinggal di dekat lokasi menuturkan, rumahnya terendam hingga 45 sentimeter di atas lantai. "Air sempat surut, saya pikir 'syukurlah', tapi kemudian air datang lagi dengan deras. Hujan terus turun, dan yang saya pikirkan hanyalah 'tolong berhenti, cukup sudah'," kenangnya. Data sementara dari alat pengukur hujan kota menunjukkan curah hujan mencapai 93,5 milimeter dalam satu jam hingga pukul 20.00. Angka ini hampir dua kali lipat dari rata-rata curah hujan bulanan di beberapa kota Indonesia, dan jelas melampaui kapasitas drainase lokal.
Pejabat kota mengakui bahwa hujan berkepanjangan melebihi kapasitas sistem drainase, sehingga air menggenang di daerah rendah. Ini bukan pertama kalinya kawasan tersebut dilanda banjir. Pada Oktober 2019, banjir serupa juga merendam rumah-rumah warga. Pemerintah kota sempat menambah jumlah saluran air hujan pada tahun fiskal 2020 sebagai respons. Namun, kejadian terbaru ini menunjukkan bahwa upaya tersebut belum cukup. Warga kini mendesak pemerintah kota untuk melakukan investigasi menyeluruh dan meningkatkan infrastruktur drainase secara signifikan.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, yang kerap menghadapi banjir perkotaan akibat hujan ekstrem. Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain sering mengalami genangan ketika intensitas hujan tinggi, dan drainase yang buruk menjadi keluhan klasik. Peristiwa di Chiba menunjukkan bahwa bahkan negara dengan infrastruktur maju pun bisa kewalahan jika perubahan iklim membuat hujan semakin tidak menentu. Ini menjadi pelajaran bahwa investasi dalam sistem drainase, ruang terbuka hijau, dan sistem peringatan dini harus menjadi prioritas, bukan sekadar respons atas bencana.
Ke depan, pemerintah Kota Ichihara berjanji akan menyelidiki tingkat kerusakan dan mempertimbangkan langkah-langkah penanggulangan. Namun, warga setempat masih trauma dan menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji. Pertanyaannya, apakah perbaikan infrastruktur akan dikejar sebelum musim hujan berikutnya tiba? Atau akankah warga kembali harus berhadapan dengan banjir yang datang berulang? Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim tidak bisa ditunda-tunda.



