Fasilitas Hunian Senior Pertama di Singapura Dibuka: Menyasar Kelas Menengah Atas dengan Tarif Bulanan Rp 90 Juta
Baca dalam 60 detik
- Perennial Living, kompleks hunian berbatuan dengan fasilitas medis dan rekreasi, resmi beroperasi di Singapura dengan 200 apartemen dan 100 suite perawatan.
- Tarif sewa bulanan mulai dari S$8.000 untuk apartemen dan S$7.600 untuk suite, menargetkan segmen upper-middle class yang membutuhkan perawatan lanjut usia.
- Perusahaan menargetkan tingkat hunian 30% di tahun pertama dan 80% di tahun kedua, dengan ekspansi ke Asia Tenggara, termasuk potensi pasar Indonesia.

Singapura resmi memiliki fasilitas hunian berbatuan (assisted living) pertama yang dirancang khusus untuk lansia, menawarkan kombinasi antara kenyamanan rumah pribadi dan dukungan medis profesional. Perennial Living, yang membentang seluas 195.000 kaki persegi di Parry Avenue, mulai beroperasi pada Selasa (18/8) dengan 200 apartemen dan 100 suite perawatan. Fasilitas ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan akan perawatan jangka panjang seiring menua nya populasi Singapura, dan menyasar segmen menengah atas yang bersedia membayar mahal untuk layanan premium.
Berbeda dengan panti jompo konvensional, Perennial Living dirancang untuk lansia yang masih memiliki kemandirian namun membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari. Setiap apartemen dilengkapi dengan jendela besar, dapur kecil, dan akses lift pribadi, serta fitur keselamatan seperti deteksi jatuh, lampu sensor gerak, dan sistem panggilan darurat. Penghuni dapat mengakses layanan kesehatan tanpa harus keluar kompleks, mulai dari konsultasi dokter umum, rehabilitasi, hingga pengobatan tradisional Tiongkok. Tersedia juga kolam renang, pusat kebugaran, ruang karaoke, dan restoran yang menyajikan menu prasmanan.
Perennial Holdings, pengembang di balik proyek ini, memiliki pengalaman sepuluh tahun di bisnis perawatan lansia di China. Perusahaan menargetkan tingkat hunian 30 persen pada tahun pertama operasi, kemudian naik menjadi 80 persen pada tahun berikutnyaโpola yang serupa dengan proyek mereka di China. Hingga saat ini, hampir 30 calon penghuni telah menyatakan minat yang kuat, termasuk lansia yang tinggal sendiri setelah pasangan meninggal dan mereka yang anaknya menetap di luar negeri. Beberapa di antaranya menggunakan kursi roda atau memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan manajemen khusus, sementara keluarga lain mencari perawatan penuh waktu untuk kerabat dengan demensia atau Alzheimer.
Ketua Eksekutif Perennial Holdings, Pua Seck Guan, mengakui bahwa tantangan terbesar adalah meyakinkan lansia untuk meninggalkan rumah mereka sendiri. Dengan tingkat kepemilikan rumah yang tinggi di Singapura, lansia perlu alasan kuat untuk pindah. "Jika Anda sangat mandiri, jangan datang. Lebih baik tinggal di rumah, menikmati keluarga dan cucu," ujarnya. Namun, ia optimistis bahwa fasilitas ini akan menarik minat, terutama karena menawarkan layanan yang lebih baik daripada rumah pribadi. "Anda harus menyediakan sesuatu yang lebih baik dari rumah mereka," tambahnya.
Tarif yang ditawarkan tidak murah: paket apartemen mulai dari S$8.000 per bulan (sekitar Rp 90 juta), sementara suite perawatan mulai dari S$7.600 per bulan. Biaya tambahan dikenakan untuk penghuni dengan demensia, mulai dari S$1.200 untuk apartemen dan S$1.500 untuk suite. Fasilitas ini juga memiliki taman terapi dengan replika bus warisan, salon rambut vintage, dan bilik telepon untuk merangsang memori penghuni. Perennial menargetkan kelas menengah atas karena biaya lahan dan pembangunan yang tinggi, dan perusahaan mengakui tidak dapat bersaing dengan sektor subsidi pemerintah.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin tren perawatan lansia di kawasan. Dengan populasi lansia yang terus bertambah, kebutuhan akan fasilitas serupa berpotensi besar, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Namun, harga yang tinggi menjadi kendala, sehingga model bisnis yang lebih terjangkau atau kemitraan dengan pemerintah perlu dipertimbangkan. Perennial sendiri berencana memperluas model ini ke Asia Tenggara, dan salah satu mitra potensial telah menyatakan minat setelah mengunjungi fasilitas tersebut, meski identitasnya dirahasiakan.
Perusahaan juga menghadapi tantangan dalam merekrut tenaga kerja, dengan rencana membangun tim sekitar 150 orang dari sektor kesehatan dan perhotelan. Rasio staf terhadap penghuni direncanakan 1:8 untuk apartemen, dan lebih tinggi untuk unit demensia. Pua menekankan pentingnya perawat yang dapat berkomunikasi dalam bahasa dan dialek yang dikuasai lansia. Ke depan, Perennial menargetkan menjadi "juara global dalam perawatan" dalam empat hingga lima tahun, dengan ukuran keberhasilan tidak hanya jumlah tempat tidur, tetapi juga peningkatan kesehatan penghuni, seperti tekanan darah, manajemen diabetes, dan kekuatan otot. "Jika setelah tiga bulan, enam bulan, satu tahun, vitalitas mereka membaik, maka saya adalah juara global," katanya. Pertanyaannya, apakah model mahal ini dapat bertahan dan menjadi standar baru perawatan lansia di Asia?



