IFAB Bela Wasit, Protes Malaysia ke FIFA Tetap Menggema
Baca dalam 60 detik
- IFAB menegaskan keputusan wasit Nasrullo Kabirov menambah waktu menjadi tujuh menit sah menurut Laws of the Game.
- FAM mengajukan protes resmi ke FIFA meski hasil laga tidak digugat, menuntut transparansi prosedur injury time.
- Dua gol Indonesia di masa tambahan waktu membawa Garuda ke final dan menyingkirkan Malaysia, memicu reaksi keras dari Kuala Lumpur.

Kontroversi durasi injury time laga Timnas Indonesia vs Bangladesh di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (1/10/2026), memasuki babak baru. International Football Association Board (IFAB) menyatakan wasit Nasrullo Kabirov tidak melanggar aturan, sementara Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) tetap mengajukan protes resmi ke FIFA. Insiden ini mencuat setelah ofisial keempat Yusuke Ohashi semula mengangkat papan tambahan waktu dua menit, lalu berubah menjadi tujuh menitโperiode yang membuat Indonesia mencetak dua gol kemenangan 9-2.
Perubahan angka tersebut sontak memantik reaksi. Pelatih Indonesia John Herdman mengaku sempat bertanya langsung kepada Ohashi dan menerima pengakuan bahwa papan dua menit itu keliru. "Setiap orang di stadion tahu itu kesalahan, apalagi setelah beberapa pengecekan VAR," ujar Herdman seusai laga. Meski demikian, IFAB melalui Law 7.3 menegaskan bahwa ofisial keempat hanya mengindikasikan tambahan waktu; wasit berhak menambah, bukan mengurangi. Kabirov pun tidak menghentikan pertandingan sebelum dua menit berlalu, sehingga secara prosedural tidak ada pelanggaran.
Bagi Malaysia, dampak laga ini terasa getir. Kemenangan Indonesia memastikan tiket ke final FIFA ASEAN Cup 2026 dan menyingkirkan Harimau Malaya. FAM pun menyoroti integritas pengelolaan waktu sebagai isu serius. Dalam pernyataannya, mereka menuntut FIFA mengusut tuntas dan menjelaskan dasar perubahan durasi injury time. "Kami tidak mempertanyakan hasil atau kinerja tim, tetapi prosedur kepemimpinan pertandingan harus transparan," tegas FAM. Mereka juga meminta FIFA meninjau ulang insiden ini dan memberikan klarifikasi rinci.
Di sisi lain, Herdman menyebut kejadian ini sebagai pelajaran berharga. Ia mengaku lega karena keputusan akhir tidak merugikan Indonesia. "Kami hanya fokus bermain sampai peluit panjang," tambahnya. Meski begitu, polemik ini menyisakan pertanyaan tentang konsistensi penerapan Laws of the Game, terutama di turnamen dengan teknologi VAR yang seharusnya meminimalkan kesalahan komunikasi.
Bagi publik sepak bola Indonesia, kemenangan dramatis ini memang layak disyukuri. Namun, sorotan terhadap transparansi wasit juga tidak bisa diabaikan. Jika FIFA nantinya mengabulkan protes FAM, bukan tidak mungkin ada evaluasi terhadap kinerja perangkat pertandingan di ASEAN Cup. Sebaliknya, jika protes ditolak, standar baru tentang fleksibilitas injury time bisa jadi preseden di kompetisi lain.
Yang jelas, laga Indonesia vs Bangladesh kini bukan sekadar catatan skor. Ia menjadi ujian bagi kredibilitas pengelolaan pertandingan di level regional. Akankah FIFA memberikan penjelasan resmi dalam waktu dekat, atau justru membiarkan kontroversi ini menguap begitu saja? Publik sepak bola ASEAN menunggu jawabannya.



