Kasus Kekerasan Seksual di Cornell: Mengapa Pencegahan Pemerkosaan Masih Dibebankan pada Ibu?
Baca dalam 60 detik
- Tujuh mahasiswa Cornell University dituduh memperkosa seorang mahasiswi dalam pesta fraternitas; lima di antaranya tetap berkuliah setelah sanksi ringan.
- Kampanye pencegahan kekerasan seksual di media sosial justru banyak digerakkan oleh para ibu, memicu pertanyaan tentang peran ayah dan figur laki-laki.
- Data Office for Students Inggris menunjukkan satu dari tujuh mahasiswa mengalami kekerasan seksual, menyoroti perlunya pendidikan consent sejak dini yang melibatkan semua pihak.

Kasus dugaan pemerkosaan yang melibatkan tujuh mahasiswa Cornell University kembali menyita perhatian publik internasional, bukan hanya karena kekejaman yang dituduhkan, tetapi juga karena respons yang muncul di media sosial: ribuan ibu berbagi nasihat tentang cara membesarkan anak laki-laki agar tidak menjadi pelaku kekerasan seksual. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: mengapa pencegahan pemerkosaan masih dianggap sebagai tugas kaum ibu, sementara para ayah dan figur laki-laki dewasa seolah absen dari percakapan?
Peristiwa yang terjadi pada musim gugur 2024 itu bermula ketika seorang mahasiswi berusia 20 tahun menghadiri pesta di rumah fraternitas. Dalam gugatan yang diajukan kepada para mahasiswa dan Cornell University, ia mengaku dipaksa mengonsumsi obat-obatan dan kemudian diperkosa oleh tujuh pria selama hampir tujuh jam. Salah satu pesan yang dikirim ke grup chat berisi lebih dari 50 orang mengundang teman-teman mereka untuk ikut serta, dengan kata-kata kasar yang merendahkan korban. Meskipun dua dari tujuh mahasiswa dikeluarkan setelah korban melapor ke polisi kampus, tidak ada yang ditangkap; lima lainnya tetap melanjutkan pendidikan setelah menulis esai, menjalani skorsing singkat, dan mengikuti lokakarya. Sementara itu, korban harus putus kuliah dan bergulat dengan masalah kesehatan mental. Pengacaranya menyatakan kondisi kliennya sangat rapuh.
Kasus ini mencuat bersamaan dengan dimulainya tahun akademik di Inggris, memicu kemarahan di kalangan perempuan muda dan menyentuh saraf para ibu yang lebih tua. Di berbagai platform media sosial, para ibu bertukar tips tentang cara mendidik anak laki-laki agar tidak hanya menahan diri dari pemerkosaan, tetapi juga berani mencegah ketika melihat tanda-tanda bahaya. Beberapa saran memang bernas, namun muncul kelelahan dan kemarahan: mengapa beban ini jatuh lagi ke pundak perempuan?
Pertanyaan tentang peran ayah dan figur laki-laki menjadi krusial. Di Inggris, University of Bath tengah menyelidiki dugaan anggota klub olahraga mahasiswa yang membicarakan tentang membubuhi minuman mahasiswa baru. Meski mungkin hanya lelucon, ini bukan hal yang lucu. Pendidikan consent selama satu jam di kampus tidak cukup untuk membongkar pesan-pesan yang telah diserap anak laki-laki selama 18 tahun, termasuk dari lingkungan rumah. Terlalu sering, ibu yang harus memikul tanggung jawab percakapan tentang consent, mungkin karena mereka sudah memulainya sejak usia diniโmengajarkan anak balita untuk menghormati perasaan orang lain, berhenti bermain jika ada yang tidak nyaman, dan tidak mengambil apa pun dengan paksa. Consent pada dasarnya adalah keterampilan sosial.
Namun, yang paling berpengaruh adalah perilaku laki-laki dewasa di sekitar anak. Anak laki-laki belajar dari cara pria yang mereka hormati memperlakukan pasangan, kolega perempuan, dan perempuan di jalan. Mereka memperhatikan bagaimana reaksi ayah terhadap tuduhan kekerasan seksual yang dialamatkan kepada selebritas favorit atau bahkan calon presiden. Dalam pengasuhan, terkadang upaya terbaik tidak cukup, tetapi bukan berarti boleh berhenti mencoba.
"Ini bukan hanya tugas ibu. Ini tugas semua orang tua, dan terutama laki-laki, untuk menjadi teladan dan ikut serta dalam pencegahan."
Di sisi lain, ada tanda-tanda positif. Kampanye media sosial yang diluncurkan oleh gerakan anti-pemerkosaan Generasi Z, Enough, melibatkan pemain rugby mahasiswa untuk menyebarkan pesan bahwa kekerasan seksual bukan hanya isu perempuan. Meskipun Enough pernah dikritik karena mempromosikan alat swab mandiri untuk korban, pendekatan mereka yang melibatkan teman sebaya patut diapresiasi. Di konferensi Partai Buruh di Liverpool, sebuah pertemuan tentang membangun jembatan antara perempuan dan laki-laki dalam menangani kekerasan berbasis gender dipadati peserta hingga meluber ke koridor.
Konteks Indonesia: Kasus serupa juga menghantui kampus-kampus Tanah Air. Data Komnas Perempuan mencatat kekerasan seksual di lingkungan pendidikan masih tinggi, dengan banyak korban enggan melapor karena stigma dan ketidakpercayaan pada sistem. Pendidikan consent yang komprehensif dan keterlibatan aktif tokoh agama, pemimpin komunitas, serta ayah dalam keluarga menjadi kunci. Tanpa perubahan budaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, siklus kekerasan akan terus berulang.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah keadilan akan ditegakkan di Cornell, tetapi bagaimana masyarakat dapat memutus rantai kekerasan seksual dengan mendidik anak laki-laki sejak dini dan menuntut akuntabilitas dari para pelaku. Sudah saatnya para ayah, mentor, dan pemimpin mengambil peran lebih besar, bukan sekadar menyerahkan tanggung jawab kepada perempuan.



