Antraks Kembali Menyerang Gunungkidul: Empat Warga Positif, Tradisi Mbranu Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Empat warga Dusun Pelem, Semanu, Gunungkidul, terkonfirmasi positif antraks setelah menyantap daging kambing yang mati mendadak.
- Tradisi mbranu—membeli ternak sakit atau bangkai untuk membantu pemiliknya—menjadi jalur penularan yang berulang di wilayah tersebut.
- Dinas Kesehatan setempat telah memberikan profilaksis kepada 47 orang berisiko dan memantau kontak selama 60 hari; hingga kini tidak ada kasus baru.

Empat penduduk Dusun Pelem, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dipastikan terinfeksi antraks setelah mengonsumsi daging kambing yang mati secara mendadak. Konfirmasi ini mencuat dari hasil pemeriksaan PCR yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat, menandai kembali munculnya penyakit zoonosis yang kerap dikaitkan dengan praktik penyembelihan hewan sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengungkapkan bahwa keempat pasien sebelumnya terlibat dalam tradisi mbranu—kegiatan membeli ternak yang sudah mati atau sakit dari warga lain dengan maksud meringankan beban pemiliknya. Daging hewan tersebut kemudian dimasak dan disantap bersama-sama. "Informasinya memang dari kegiatan mbranu, lalu dikonsumsi ramai-ramai," ujar Ismono saat dihubungi, Jumat (2/10).
Kasus ini bermula pada September 2026 ketika sejumlah warga mengalami gejala awal antraks, seperti luka menyerupai koreng pada kulit. Tujuh orang sempat berstatus suspek. Penyelusuran epidemiologi mengungkap bahwa mereka memiliki riwayat kontak langsung dengan kambing yang lemas lalu mati mendadak. Dari tujuh suspek, empat di antaranya dinyatakan positif melalui uji PCR.
Selain empat pasien yang kini dinyatakan sembuh, tim kesehatan menemukan 47 orang lain yang pernah terpapar hewan atau produk dari kambing tersebut. Mereka semua telah diberikan pengobatan profilaksis untuk mencegah munculnya kasus tambahan. "Semua sudah sehat, tidak ada masalah," klaim Ismono. Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap memantau kondisi mereka hingga dua siklus inkubasi berakhir.
"Sampai saat ini tidak ada kasus baru, artinya penanganan di titik ini sudah selesai," tegas Ismono.
Kendati kasus ini dinyatakan terkendali, kejadian serupa berulang kali terjadi di Gunungkidul. Tradisi mbranu, yang sejatinya bernilai sosial-ekonomi, justru menjadi celah penularan antraks. Bakteri Bacillus anthracis dapat bertahan dalam tanah dan bangkai hewan, sehingga menyembelih atau mengonsumsi ternak yang mati tanpa sebab jelas sangat berisiko. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menekankan pentingnya pelaporan segera setiap ada kematian ternak yang tidak wajar.
Dinas Kesehatan telah menggandeng pemerintah desa, Dinas Peternakan, puskesmas, dan pemangku kepentingan lain untuk memperkuat pengawasan. Edukasi mengenai bahaya menyembelih, mengolah, dan mengonsumsi hewan sakit terus digalakkan. Masyarakat diminta tidak mengulangi praktik mbranu, terutama jika penyebab kematian hewan tidak diketahui.
Antraks merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia melalui kontak dengan hewan terinfeksi atau produknya. Di Indonesia, kasus antraks masih endemik di beberapa daerah, termasuk Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sulawesi. Gejala pada manusia bervariasi, mulai dari luka kulit hingga gangguan pernapasan dan pencernaan, tergantung jalur masuknya bakteri. Tanpa penanganan cepat, antraks dapat berakibat fatal.
Ke depan, penguatan sistem deteksi dini dan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci. Apakah tradisi mbranu yang mengakar kuat bisa ditinggalkan demi mencegah wabah yang lebih luas? Pemerintah daerah dituntut tidak hanya responsif, tetapi juga konsisten mengedukasi warganya agar tidak ada lagi korban berjatuhan.



