NASA Ajak Warga Dunia Foto Awan, Bantu Validasi Satelit PACE
Baca dalam 60 detik
- NASA membuka partisipasi global lewat PACE Clouds Challenge hingga 15 Oktober untuk memotret awan dari Bumi.
- Data visual warga akan dicocokkan dengan pengamatan satelit PACE yang mengorbit di ketinggian 420 mil.
- Inisiatif ini memperluas program GLOBE yang telah menyandingkan 1,75 juta observasi dengan citra satelit.

NASA kembali melibatkan publik dalam riset atmosfer melalui tantangan global bertajuk PACE Clouds Challenge. Lembaga antariksa Amerika Serikat itu meminta siapa pun yang memiliki ponsel pintar untuk memotret awan di langit sekitar waktu satelit PACE melintas di atas wilayah mereka. Partisipasi dibuka hingga 15 Oktober mendatang dan dapat diikuti dari lokasi mana pun di dunia.
Berbeda dari kampanye sains warga biasa, tantangan ini menuntut sinkronisasi waktu yang presisi. Peserta diarahkan mengunduh aplikasi GLOBE Observer, yang akan mengirim notifikasi saat PACE mendekat. Observasi hanya sah jika pengguna membuka fitur Clouds tepat saat satelit berada di atas kepala, karena aplikasi akan mencatat stempel waktu secara otomatis. Dalam jendela lima menit itu, peserta harus mengirimkan enam foto awan sesuai panduan aplikasi.
Satelit PACE sendiri telah mengorbit Bumi sejak 2024 pada ketinggian sekitar 420 mil atau setara 676 kilometer. Satu putaran penuh mengelilingi planet ini memakan waktu sekitar 98 menit, sehingga dalam sehari ada beberapa peluang lintasan yang bisa dimanfaatkan warga di berbagai belahan dunia. Jika PACE melintas dua kali pada siang hari, peserta diperbolehkan mengirim lebih dari satu set observasi.
Ilmuwan NASA, Andy Sayer, menyoroti akurasi deteksi awan sebagai fokus utama proyek ini. Menurutnya, tantangan terbesar satelit adalah mengenali tepi awan dan kondisi langit yang bertutup awan tidak merata, bukan sekadar lapisan tebal yang seragam. Foto dari permukaan Bumi memberi pembanding langsung terhadap apa yang ditangkap PACE dari orbit pada waktu yang nyaris bersamaan.
"Kami ingin tahu seberapa baik PACE bisa membedakan awan, terutama di area transisi dan saat langit tidak sepenuhnya tertutup," ujar Sayer, seperti dikutip dari keterangan NASA.
Bagi peserta yang berhasil menyelesaikan enam foto dalam rentang waktu yang ditentukan, NASA menyediakan sertifikat penghargaan. Selain itu, jika observasi mereka cocok dengan lintasan satelit, peserta akan menerima surel berisi data dan citra satelit dari lokasi yang mereka potret. Ini menjadi umpan balik langsung yang jarang ditemui dalam program sains warga konvensional.
Program GLOBE sendiri bukan hal baru. Sebelum PACE bergabung, platform ini telah lama mengumpulkan data lingkungan dari relawan di berbagai negara. Pencapaian 1,75 juta observasi yang tersandingkan dengan citra satelit menunjukkan skala kontribusi publik yang signifikan. Kehadiran PACE di Agustus lalu memperluas cakupan misi, khususnya untuk studi atmosfer dan kualitas udara.
Bagi Indonesia, partisipasi dalam tantangan semacam ini berpotensi memperkuat basis data iklim lokal. Wilayah tropis seperti Indonesia memiliki dinamika awan yang kompleks, mulai dari awan kumulus di pesisir hingga lapisan stratokumulus di pegunungan. Data pembanding dari satelit bisa membantu peneliti domestik memvalidasi model cuaca dan pemantauan karhutla, terutama saat tutupan awan menghalangi pengamatan visual.
Kendati demikian, tantangan utama tetap pada konsistensi partisipan. Notifikasi lintasan satelit bisa datang pada jam yang tidak selalu nyaman, dan hanya mereka yang benar-benar berada di luar ruangan yang dapat memenuhi syarat. NASA tampaknya ingin menguji seberapa jauh antusiasme publik terhadap sains dapat dipertahankan dalam jendela waktu yang ketat.
Ke depan, model kolaborasi ini bisa menjadi cetak biru bagi lembaga antariksa lain atau bahkan badan meteorologi nasional. Pertanyaannya, apakah cukup banyak warga yang bersedia meluangkan lima menit untuk mengarahkan kamera ke langit demi satu titik data yang membantu kalibrasi satelit?



