Pesan Terakhir Hayden Panettiere: 'Aku Ingin Perdamaian Dunia'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Hayden Panettiere mengirim pesan terakhir kepada sahabatnya, Clayton Johnson, berisi harapan akan perdamaian dunia sebelum ditemukan tak bernyawa di Greenville, South Carolina.
- Ototopsi awal tidak menemukan tanda trauma, namun penyebab kematian masih menunggu pemeriksaan lanjutan; ditemukannya Narcan di lokasi memicu spekulasi keterlibatan obat-obatan.
- Kematian Hayden menyoroti perjuangan panjangnya melawan kecanduan dan depresi pasca melahirkan, serta memicu diskusi tentang pentingnya dukungan kesehatan mental bagi publik figur.

Hayden Panettiere, bintang serial Heroes dan Nashville, menghembuskan napas terakhir pada usia 36 tahun. Sebelum ditemukan tak bernyawa di sebuah kediaman di Greenville, South Carolina, Minggu (16/8), ia sempat mengirim pesan singkat kepada sahabat dekatnya, musisi Clayton Johnson. Isinya bukan soal karier atau rencana, melainkan harapan sederhana: "Jujur, orang menganggap meminta perdamaian dunia itu lelucon, tapi itulah aku."
Pesan itu diungkapkan Johnson dalam unggahan penghormatan di media sosial, sambil memperlihatkan rekaman mereka bernyanyi bersama. "Aku menghabiskan malam tadi untuk mencoba memproses, mencari kata-kata yang tepat, tapi sebenarnya tidak ada. Lebih dari segalanya, aku harap kamu sekarang berdamai dan bertemu kembali dengan Jansen," tulisnya, merujuk pada adik Hayden, Jansen Panettiere, yang meninggal pada 2023 akibat kardiomegali.
Kematian mendadak Hayden masih diselidiki. Layanan darurat menerima panggilan pukul 13.51 waktu setempat dan menemukan aktris tersebut dalam keadaan henti jantung. Tim medis melakukan resusitasi lanjutan, namun Hayden dinyatakan meninggal pada pukul 14.32. Otopsi awal tidak menemukan tanda-tanda trauma yang berkontribusi pada kematiannya, tetapi Kantor Koroner Greenville County menyatakan pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab dan cara kematian.
Rekaman audio dari pusat kendali darurat yang diperoleh media menyebutkan kemungkinan "overdosis" di samping henti jantung, namun pejabat belum memastikan hal tersebut. TMZ melaporkan ditemukannya Narcanโsemprotan hidung berisi naloxone, obat penawar overdosis opioidโdi atas kasur di dalam kediaman. Belum jelas apakah obat itu sempat diberikan kepada Hayden. Deputi kepala koroner Shelton England mengatakan kepada Daily Mail bahwa masih terlalu dini untuk menentukan apakah ada keterlibatan narkoba.
Hayden memang terbuka tentang perjuangannya melawan kecanduan alkohol dan opioid. Dalam wawancara dengan People pada 2022, ia menggambarkan menjaga ketenangan sebagai proses yang berkelanjutan. "Ini pilihan setiap hari, dan aku selalu memeriksa diriku sendiri," ujarnya. "Tapi aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari dunia ini lagi, dan aku tidak akan pernah menganggapnya remeh." Pengalaman itu, bersama depresi pasca melahirkan dan perannya sebagai ibu, ia tuangkan dalam memoar berjudul This Is Me: A Reckoning yang terbit Mei lalu.
Salah satu bagian paling menyentuh dari memoar itu adalah pengakuannya tentang keputusan sulit membiarkan putrinya, Kaya (11), tinggal bersama ayahnya, mantan petinju kelas berat asal Ukraina, Wladimir Klitschko. Dalam wawancara dengan Jay Shetty di podcast On Purpose, Hayden membantah anggapan bahwa ia rela melepas anaknya. "Gagasan bahwa orang berpikir aku akan menyerahkan anakku begitu saja dan merasa baik-baik saja itu memilukan. Jauh dari kebenaran," katanya. "Aku berjuang dengan kesehatan mental, kecemasan, dan postpartum, dan harus berpura-pura baik-baik saja, merasa benar-benar kehilangan diriku sendiri." Keputusan itu diambil saat ia membutuhkan bantuan. "Aku tahu aku harus menempatkannya dulu agar aku bisa mendapatkan bantuan yang kuperlukan dan menjadi ibu yang dia butuhkan," jelasnya. Hayden juga menceritakan komplikasi serius saat melahirkan Kaya, termasuk pendarahan hebat yang membutuhkan tujuh transfusi darah dan operasi.
Kematian Hayden Panettiere mengejutkan industri hiburan dan penggemarnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kisahnya menjadi pengingat bahwa kecanduan dan masalah kesehatan mental bisa menimpa siapa saja, tanpa memandang ketenaran. Di Indonesia, isu kesehatan mental semakin mengemuka, namun stigma masih kuat. Publik figur seperti Hayden yang berani terbuka tentang perjuangannya dapat membantu mengurangi stigma tersebut dan mendorong lebih banyak orang untuk mencari bantuan. Pertanyaannya, apakah industri hiburan dan masyarakat kita sudah cukup menyediakan ruang aman bagi mereka yang berjuang dengan masalah serupa? Kematian Hayden mungkin menjadi panggilan untuk lebih serius menangani kesehatan mental, tidak hanya di Hollywood, tetapi juga di tanah air.



