Tragedi Dua Titik di India: 15 Jemaah Tewas dalam Kebakaran Hotel dan Desak-desakan di Kuil
Baca dalam 60 detik
- Sedikitnya 15 orang tewas dalam dua insiden terpisah di India timur saat perayaan bulan suci Shravan, delapan di antaranya dalam kebakaran hotel di Tarapith, Benggala Barat.
- Tujuh jemaah lain meninggal dalam desak-desakan di Kuil Ashok Dham, Bihar, yang memicu keprihatinan atas manajemen keramaian di tempat ibadah.
- Pemerintah setempat menjanjikan kompensasi 400.000 rupee per keluarga korban, sementara penyebab kebakaran masih diselidiki.

Sebanyak 15 orang dilaporkan tewas dalam dua insiden terpisah di kawasan timur India saat umat Hindu memperingati bulan suci Shravan, periode yang didedikasikan untuk Dewa Siwa. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan risiko besar yang mengintai di balik ritual keagamaan massal, terutama ketika fasilitas dan pengelolaan keramaian tidak memadai.
Di Tarapith, Benggala Barat, kebakaran melanda sebuah hotel yang menampung para peziarah yang datang untuk berdoa pada Senin terakhir Shravan. Delapan orang tewas dalam insiden tersebut. Sementara itu, di negara bagian tetangga Bihar, tujuh jemaah meninggal dunia dan 19 lainnya luka-luka akibat desak-desakan di Kuil Ashok Dham, distrik Lakhisarai. Kedua kejadian ini terjadi hampir bersamaan, menambah duka di tengah suasana religius yang seharusnya khidmat.
Kebakaran di Tarapith menyoroti lemahnya standar keselamatan bangunan di banyak tempat penginapan yang melayani peziarah. Belum diketahui pasti penyebab api, tetapi kepadatan pengunjung yang ekstrem selama musim Shravan kerap memicu kelalaian prosedur darurat. Kepala Menteri Benggala Barat, Suvendu Adhikari, menyampaikan belasungkawa mendalam, menyebut kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan duka bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta.
Di Bihar, insiden desak-desakan di Kuil Ashok Dham kembali membuka luka lama tentang buruknya manajemen keramaian di tempat ibadah India. Kepala Menteri Bihar, Samrat Choudhary, menyebut kejadian ini memilukan dan mengumumkan kompensasi sebesar 400.000 rupee (sekitar Rp75 juta) untuk setiap keluarga korban. Langkah ini diharapkan meringankan beban, meski tidak dapat memulihkan nyawa yang hilang.
Bagi Indonesia, tragedi ini relevan mengingat tradisi serupa di dalam negeri, seperti pengamanan ibadah di Masjidil Haram atau acara keagamaan besar di tanah air. Pelajaran pentingnya adalah perlunya audit keselamatan menyeluruh, pelatihan evakuasi, dan pengendalian jumlah pengunjung. Tanpa itu, risiko terulangnya peristiwa serupa tetap menganga, baik di India maupun di negara lain dengan mobilitas jemaah tinggi.
Ke depan, pemerintah India perlu mengevaluasi ulang protokol keselamatan di tempat-tempat ziarah, terutama selama festival besar. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah seperti pembatasan kapasitas dan peningkatan infrastruktur darurat akan segera diterapkan, atau justru tragedi ini hanya menjadi catatan duka yang cepat dilupakan?



