Jalur Udara Jadi Andalan: Polri Evakuasi Lansia dan Ibu Hamil di Sikka NTT
Baca dalam 60 detik
- Dua warga terdampak gempa di Palue, Sikka, diangkut via helikopter karena akses darat-laut terputus.
- Operasi melibatkan Polri, BNPB, dan Polres Sikka; berlangsung sekitar satu jam dengan dua armada udara.
- Langkah ini menegaskan peran aparat keamanan dalam penanganan kemanusiaan pascabencana di daerah terpencil.

Dua warga terdampak gempa di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, akhirnya mendapat pertolongan medis setelah dievakuasi melalui jalur udara, Kamis (20/8/2026). Seorang lansia berusia 71 tahun yang menderita patah tulang dan seorang ibu hamil yang siap melahirkan diangkut menggunakan helikopter dari Lapangan Futsal Karang Mas, Maumere, menuju fasilitas kesehatan yang lebih memadai.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko, menjelaskan bahwa evakuasi ini merupakan respons cepat terhadap kondisi darurat di lapangan. "Dalam kondisi akses darat dan laut yang terbatas, jalur udara menjadi salah satu upaya mempercepat korban mendapatkan pelayanan kesehatan," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta. Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan geografis yang kerap menjadi kendala dalam penanganan bencana di kawasan timur Indonesia.
Kedua korban adalah Maria Noni (71), yang mengalami patah tulang paha kiri bagian bawah akibat tertimpa reruntuhan rumah, dan Maria Angela Ngei (30), yang kondisinya sudah memasuki tahap siap bersalin. Keduanya membutuhkan penanganan medis lanjutan yang tidak tersedia di puskesmas setempat. Proses evakuasi dimulai pukul 10.28 WITA dan rampung sekitar pukul 11.35 WITA, melibatkan dua helikopter: Airbus H125 9292 milik BNPB dan PK-CAY BEII429.
Operasi ini tidak hanya melibatkan Polri, tetapi juga jajaran Polres Sikka yang bertugas memastikan keamanan dan kelancaran proses pemindahan korban. Trunoyudo menegaskan bahwa keterlibatan aparat keamanan dalam penanganan bencana tidak sekadar menjaga ketertiban, melainkan juga menjadi bagian dari upaya kemanusiaan. "Kehadiran personel Polri di lapangan merupakan bagian dari upaya bersama dalam penanganan bencana. Kami membantu memastikan proses evakuasi berlangsung aman, tertib, dan lancar," katanya.
Bencana gempa yang melanda NTT telah memutus akses darat di sejumlah wilayah, menjadikan transportasi udara sebagai satu-satunya cara menjangkau korban. Kejadian ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan logistik dan koordinasi antarinstansi dalam situasi darurat. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana, respons cepat seperti ini menjadi penentu antara hidup dan mati. Polri berkomitmen untuk terus bersinergi dengan BNPB, pemerintah daerah, dan tenaga kesehatan dalam memastikan warga terdampak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana memperkuat infrastruktur evakuasi udara di wilayah terpencil, mengingat ketergantungan pada helikopter yang jumlahnya terbatas. Apakah akan ada investasi berkelanjutan untuk mempercepat respons bencana di Indonesia timur? Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.



