Museum Bom Atom Nagasaki Berusia 30 Tahun: Kebocoran dan Lift Rusak, Misi Perdamaian Terhambat
Baca dalam 60 detik
- Museum Bom Atom Nagasaki menghadapi kerusakan infrastruktur serius, termasuk kebocoran air yang merusak artefak bersejarah dan lift yang kerap macet.
- Anggaran perbaikan yang terbatas dan desain bangunan yang unik memperparah kondisi museum, sementara pemerintah kota berupaya menyeimbangkan misi pendidikan dan keterbatasan fiskal.
- Tanpa renovasi menyeluruh, kelangsungan museum sebagai pengingat tragedi perang bisa terancam, memunculkan pertanyaan tentang prioritas pemeliharaan warisan sejarah di tengah tekanan ekonomi.

Tiga dekade setelah dibuka untuk publik, Museum Bom Atom Nagasaki justru bergulat dengan persoalan yang tak kalah pelik dari misi kemanusiaannya: infrastruktur bangunan yang menua. Kebocoran air di sejumlah ruangan dan gangguan pada lift telah menjadi pemandangan umum, mengancam kenyamanan pengunjung serta keselamatan artefak bersejarah yang menjadi saksi bisu kehancuran Agustus 1945.
Bangunan museum yang dirancang dengan mengedepankan pencahayaan alami dan kehijauan, ternyata menyimpan kelemahan struktural. Atap kaca pada paviliun melingkar dan area istirahat yang dikelilingi kaca menjadi titik rawan masuknya air hujan. Pada tahun fiskal 2026 saja, kebocoran dilaporkan terjadi di ruang resepsi, kantor direktur, paviliun melingkar, dan area Ikoi no Hiroba. Sebelumnya, masalah serupa juga pernah muncul di pintu masuk utama, kedai kopi, kantor, dan perpustakaan.
Insiden paling memprihatinkan terjadi pada Agustus 2025, ketika hujan deras menyebabkan sedimen menyumbat saluran drainase, sehingga air meluap masuk melalui celah bingkai jendela. Air tersebut merembes ke ruang pameran dan merusak artefak berupa bayangan daun yang tertinggal di dinding kayu hangusโsebuah bukti nyata keganasan bom atom. Artefak berukuran 146,5 sentimeter kali 120,5 sentimeter itu kini memerlukan upaya restorasi khusus.
Di sisi lain, masalah lift juga tak kalah serius. Pada Mei 2026, sebuah lift di depan pintu masuk utama yang dipasang setahun setelah museum dibuka, tiba-tiba berhenti dan menjebak tiga orang selama sekitar 30 menit. Lift tersebut memang telah diperbaiki, namun karena berada di luar ruangan dengan poros kaca, suhu di dalamnya bisa meningkat drastis jika kembali mogok. Pemerintah kota bahkan telah menyiapkan kabinet berisi air minum dan perlengkapan darurat di dalam lift, serta menggelar simulasi penyelamatan.
Lift lain yang menghubungkan area menuju Taman Hiposenter juga telah mati total sejak akhir November 2024 setelah beberapa kali mengalami gangguan. Sebagai gantinya, pengunjung ditawari kursi roda bertenaga listrik, tetapi pemakaiannya minim karena harus dipesan terlebih dahulu. Kondisi ini jelas mengurangi aksesibilitas museum, terutama bagi pengunjung lanjut usia atau penyandang disabilitas.
Persoalan ini menjadi dilema bagi Pemerintah Kota Nagasaki. Di satu sisi, mereka berkomitmen untuk terus menyampaikan pesan perdamaian kepada generasi mendatang. Di sisi lain, anggaran kota sedang tertekan oleh penurunan populasi dan proyek besar seperti pembangunan kembali Balai Kota. Pada April lalu, kota menaikkan tarif masuk berbagai fasilitas wisata, tetapi justru menggratiskan tiket museum bagi pelajarโsebuah keputusan yang menunjukkan prioritas pada misi edukasi, meski berisiko pada pendapatan.
Pemerintah pusat Jepang memang memberikan dukungan dana untuk pembaruan konten pameran yang dijadwalkan mulai September mendatang. Namun, ketika ditanya apakah dukungan serupa akan diberikan untuk perawatan gedung, seorang pejabat Divisi Promosi Perdamaian Kota Nagasaki hanya berkomentar, "Kami perlu mempertimbangkan secara menyeluruh, termasuk konten dan infrastruktur. Belum bisa memberikan rincian, tetapi kami sadar akan masalah ini." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa belum ada kepastian mengenai pendanaan perbaikan fisik museum.
Sebagai perbandingan, Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima yang bangunan utamanya dibuka pada 1955 dan sayap timur pada 1994, mengaku telah melakukan renovasi besar-besaran. Seorang pejabat di sana menyebutkan, "Meskipun masih ada sedikit kebocoran, kondisinya tidak serius." Hal ini menunjukkan bahwa perawatan berkala yang konsisten adalah kunci, sesuatu yang tampaknya belum optimal dilakukan di Nagasaki.
Bagi Indonesia, kisah museum ini relevan dengan upaya pelestarian situs bersejarah, seperti Museum Benteng Vredeburg atau Monumen Nasional. Tanpa perencanaan pemeliharaan yang matang dan alokasi anggaran yang memadai, bangunan bersejarah bisa kehilangan fungsi edukatifnya. Pertanyaannya, apakah pemerintah kota Nagasaki akan mampu menyeimbangkan antara kebutuhan renovasi fisik dan misi kemanusiaan yang diembannya? Atau akankah museum ini justru menjadi monumen kelalaian perawatan di tengah hiruk-pikuk modernisasi?



