Kanada Gelontorkan Rp800 Triliun untuk Energi Bersih: Proyek Terbesar dalam Sejarah Amerika Utara
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kanada menandatangani kesepakatan awal senilai C$70 miliar untuk menggenjot listrik tenaga air dan angin di pesisir Atlantik, yang disebut sebagai investasi energi bersih terbesar di Amerika Utara.
- Proyek ini berpotensi memasok listrik ke jutaan rumah di Kanada timur dan mengekspor ke AS timur laut, namun terancam batal jika Parti Quebecois menang pemilu Quebec pada Oktober.
- Jika terealisasi, proyek ini dapat menjadi contoh bagi negara-negara seperti Indonesia yang tengah mempercepat transisi energi, sekaligus menyoroti risiko politik dalam proyek infrastruktur strategis.

Pemerintah Kanada mengumumkan rencana ambisius senilai hampir C$70 miliar (sekitar US$50,5 miliar atau lebih dari Rp800 triliun) untuk memperluas pembangkit listrik tenaga air dan angin di kawasan timur negara itu. Proyek yang dijuluki sebagai investasi energi bersih terbesar dalam sejarah Amerika Utara ini digadang-gadang mampu menerangi jutaan rumah di tiga kota besar Kanada sekaligus membuka peluang ekspor listrik ke Amerika Serikat.
Kesepakatan awal yang ditandatangani pada Senin (17/8) melibatkan pemerintah federal di bawah Perdana Menteri Mark Carney, provinsi Quebec, serta Newfoundland dan Labrador. Fokus utama proyek ini adalah modernisasi stasiun pembangkit Churchill Falls dan pembangunan instalasi hidroelektrik baru di Gull Island, keduanya berlokasi di Labrador, kawasan pesisir Atlantik Kanada. Sebagian listrik yang dihasilkan juga akan disalurkan ke Quebec, yang kemudian akan menjualnya dalam jumlah signifikan ke jaringan listrik AS timur laut melalui Hydro-Quebec.
Namun, di balik megahnya angka investasi, proyek ini menghadapi ketidakpastian politik yang serius. Dalam acara penandatanganan di Newfoundland, Perdana Menteri Quebec, Christine Frechette, secara terbuka mengakui bahwa Parti Quebecois yang beraliran separatis dapat membatalkan perjanjian tersebut jika memenangkan pemilihan provinsi pada Oktober mendatang. Survei terkini menunjukkan partai oposisi itu berpeluang besar menang, sehingga masa depan proyek ini menggantung.
Jika berjalan mulus, Perdana Menteri Carney menyatakan kapasitas listrik yang dihasilkan akan "cukup untuk menerangi, memanaskan, dan mendinginkan rumah-rumah di Toronto, Montreal, dan Vancouver secara bersamaan". Pernyataan ini menegaskan skala proyek yang tidak hanya berdampak pada pasokan energi domestik, tetapi juga memperkuat posisi Kanada sebagai pemasok energi bersih bagi kawasan industri AS.
Langkah ini juga menjadi ujian bagi komitmen lingkungan Carney, yang sejak menjabat tahun lalu kerap dikritik kelompok pegiat lingkungan karena dianggap mengkhianati janji iklim pendahulunya, Justin Trudeau. Salah satu menteri kabinetnya bahkan mengundurkan diri tahun lalu terkait rencana pembangunan pipa minyak baru dari Alberta ke pesisir Pasifik. Kini, dengan proyek energi bersih ini, Carney berusaha menunjukkan arah kebijakan yang lebih sejalan dengan target dekarbonisasi.
Respon positif datang dari Canadian Climate Institute, yang menilai proyek ini menunjukkan "tingkat ambisi yang dibutuhkan untuk mencapai target Kanada menggandakan kapasitas jaringan listrik dengan energi bersih". Presiden lembaga tersebut, Rick Smith, menambahkan bahwa peningkatan pasokan energi domestik akan "meningkatkan keamanan energi dan keterjangkauan di tengah fluktuasi harga energi yang volatil". Ini menjadi sinyal bahwa proyek infrastruktur besar tetap relevan di tengah gejolak pasar energi global.
Bagi Indonesia, kabar ini menawarkan pelajaran berharga. Negara dengan potensi energi panas bumi dan hidro yang melimpah ini tengah berupaya menarik investasi hijau untuk mencapai target net zero emission. Stabilitas politik menjadi faktor krusial, seperti yang terlihat dari kasus Kanada di mana pergantian kekuasaan dapat menggagalkan proyek strategis. Selain itu, kerja sama antardaerah dan antarnegara, seperti yang dilakukan Kanada dengan AS, bisa menjadi model bagi Indonesia dalam memperluas pasar energi terbarukan di kawasan ASEAN.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah proyek ini akan bertahan melewati dinamika politik Quebec. Jika Parti Quebecois benar-benar menang dan membatalkan kesepakatan, Kanada kehilangan momentum sebagai pemimpin energi bersih di kawasan. Namun, jika proyek ini terealisasi, ia bisa menjadi tonggak sejarah transisi energi di Amerika Utara dan inspirasi bagi negara berkembang. Akankah pemerintah Indonesia berani mengambil langkah serupa dengan skala yang lebih ambisius?



