Dapur Umum Kemensos di Nagekeo Mulai Layani Korban Gempa: Target 3.000 Bungkus Makanan per Hari
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Sosial mengaktifkan dapur umum di Nagekeo, NTT, dengan kapasitas produksi hingga 3.000 bungkus makanan per hari untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak gempa.
- Bantuan logistik mencakup 1.000 paket sembako, 48 ton beras, serta perlengkapan pengungsian dari Sentra Efata Kupang, dengan total dukungan anggaran mencapai Rp13,2 miliar.
- Pemerintah menyiapkan santunan bagi 54 korban meninggal (Rp15 juta per orang) dan 199 korban luka (Rp5 juta per orang), yang penyalurannya menunggu proses verifikasi.

Kementerian Sosial (Kemensos) mulai mengoperasikan dapur umum di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (17/8), sebagai respons cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan warga yang mengungsi akibat gempa berkekuatan M7,7. Dapur ini menargetkan produksi hingga 1.000 bungkus makanan per kali memasak, dengan peningkatan frekuensi menjadi tiga kali sehari mulai Selasa (18/8).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, dalam pernyataan tertulisnya menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar menjadi prioritas utama selama masa tanggap darurat. โYang paling penting kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Dapur umum kita siapkan, logistik terus kita gerakkan, dan tim di lapangan terus melakukan asesmen,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, TNI/Polri, dan unsur lainnya terus diperkuat untuk memastikan pelayanan berjalan optimal.
Operasional dapur umum di Nagekeo merupakan bagian dari perluasan jangkauan bantuan Kemensos. Sebelumnya, dapur umum telah berdiri di Manggarai dan Sikka, dan direncanakan menyusul tiga titik tambahan di Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Ende. Dengan demikian, total enam wilayah terdampak akan mendapatkan layanan permakanan. Untuk mendukung operasional selama tujuh hari, Kemensos mengalokasikan anggaran indikatif sekitar Rp5,16 miliar.
Selain dapur umum, Kemensos mengirimkan bantuan logistik melalui Sentra Efata Kupang, meliputi tenda, velbed, family kit, selimut, sandang dewasa, makanan anak, serta perlengkapan pengungsian lainnya. Sebanyak 1.000 paket sembako dialokasikan khusus untuk Nagekeo, dan wilayah ini juga menerima jatah dari tambahan 48 ton beras reguler yang disiapkan untuk seluruh daerah terdampak di NTT.
Di sisi lain, Kemensos juga menyiapkan santunan bagi korban jiwa dan luka-luka. Sebanyak 54 korban meninggal akan menerima masing-masing Rp15 juta, sementara 199 korban luka mendapat Rp5 juta per orang. Total santunan mencapai Rp1,8 miliar, dengan penyaluran dilakukan setelah proses pendataan, verifikasi, dan validasi selesai. Gus Ipul menekankan bahwa timnya akan tetap berada di lapangan dan siap menyesuaikan kebutuhan yang muncul.
Langkah Kemensos ini menjadi bagian dari upaya nasional dalam penanganan bencana. BNPB sebelumnya melaporkan 68 korban jiwa teridentifikasi hingga Senin sore, dan infrastruktur di NTT mulai berangsur pulih. Meski demikian, tantangan logistik di daerah terpencil seperti Nagekeo masih menjadi perhatian, terutama dalam memastikan distribusi bantuan tepat waktu dan merata.
Ke depan, efektivitas penanganan bencana akan diuji dari kemampuan koordinasi antarlembaga dan adaptasi di lapangan. Apakah percepatan pembangunan dapur umum di enam wilayah mampu menekan risiko krisis pangan? Publik menanti realisasi bantuan yang tepat sasaran di tengah kondisi darurat yang masih berlangsung.



