Gibran Turun ke Sikka: Bantuan Gempa Harus Menyentuh Warga di Pelosok, Bukan Sekadar Seremonial
Baca dalam 60 detik
- Wapres Gibran menegaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak gempa di Sikka, NTT, harus menjadi prioritas utama dalam penanganan darurat.
- Ia meminta jajaran pemerintah daerah dan Forkopimda turun langsung ke lapangan, memastikan bantuan menjangkau wilayah terpencil tanpa hambatan birokrasi.
- Langkah ini menjadi ujian nyata efektivitas respons bencana nasional, sekaligus menekankan akuntabilitas pemerintah dalam situasi krisis.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menginstruksikan jajaran pemerintah pusat dan daerah untuk menjadikan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sebagai prioritas mutlak dalam penanganan pascabencana. Instruksi ini disampaikan saat ia meninjau langsung sejumlah infrastruktur yang rusak akibat gempa di wilayah tersebut, Kamis (20/2/2025).
Dalam arahannya kepada perwakilan pemerintah pusat dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Gibran menekankan bahwa keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan mendesak tidak boleh terabaikan. Ia secara khusus menyoroti warga yang tinggal di permukiman pegunungan yang sulit diakses, menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh luput dari jangkauan bantuan. Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan logistik yang kerap menjadi kendala utama dalam penyaluran bantuan bencana di wilayah kepulauan seperti NTT.
Lebih dari sekadar imbauan, Gibran meminta seluruh kepala daerah dan Forkopimda untuk turun langsung ke lapangan. Ia menegaskan bahwa arahan harus dieksekusi tanpa sekat birokrasi, dengan setiap kendala diidentifikasi dan diselesaikan secara cepat. Setiap permasalahan yang ditemukan di lapangan, menurutnya, akan dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini menunjukkan adanya mekanisme pengawasan ketat dari tingkat pusat, sekaligus memberikan sinyal bahwa pemerintah serius menangani dampak bencana.
Di tengah situasi darurat, Gibran juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang sejak hari pertama kejadian telah bergerak membantu masyarakat. Ia menilai respons cepat dan kerja sama semua unsur di lapangan menjadi kunci dalam memastikan warga terdampak menerima bantuan dan pendampingan yang dibutuhkan. Pengakuan ini menjadi penting untuk menjaga moral para petugas yang bekerja di tengah keterbatasan.
Kunjungan Gibran ke Sikka bukan sekadar agenda seremonial. Sebelumnya, ia juga meninjau tenda-tenda pengungsian, bertemu ibu dan bayi, serta melihat kerusakan pelabuhan yang berdampak pada distribusi bantuan. Rangkaian kunjungan ini menunjukkan perhatian langsung pemerintah terhadap kondisi riil di lapangan, sekaligus menjadi ujian bagi efektivitas koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan bencana.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana, instruksi ini membawa harapan akan respons yang lebih cepat dan merata. Namun, pertanyaan besarnya adalah bagaimana instruksi ini diterjemahkan dalam aksi nyata di tengah keterbatasan sumber daya dan infrastruktur yang rusak. Akankah penanganan gempa Sikka menjadi contoh baru dalam manajemen bencana nasional yang lebih akuntabel dan berorientasi pada warga?



