Gempa NTT: 100 Tenda Kelas Darurat Dikirim, 177 Ribu Murid Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pendidikan mengirim 100 unit tenda belajar darurat untuk menggantikan ruang kelas yang rusak akibat gempa di NTT, ditargetkan beroperasi pekan depan.
- Sebanyak 1.378 sekolah di tujuh kabupaten terkena dampak, dengan mayoritas beralih ke pembelajaran jarak jauh; pemerintah juga menyiapkan ribuan perlengkapan belajar dan buku.
- Selain infrastruktur, pemerintah memprioritaskan pendampingan psikososial bagi siswa dan guru, serta memantau kebutuhan secara real-time melalui dashboard.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai mendistribusikan 100 tenda ruang kelas darurat ke sejumlah sekolah yang rusak akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan target operasional pekan depan. Langkah ini diambil untuk memastikan proses belajar mengajar tidak terhenti lama setelah bencana yang melumpuhkan sebagian besar infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengungkapkan dalam konferensi pers daring bersama BNPB bahwa tenda-tenda tersebut akan segera difungsikan. "Kami berharap tenda ini bisa digunakan minggu depan untuk belajar anak-anak," ujarnya. Selain tenda, pemerintah juga mengirimkan 5.000 school kit, 1.500 family kit, 3.196 papan tulis, dan 123.522 buku untuk menopang kegiatan belajar di masa darurat.
Data sementara mencatat gempa yang mengguncang NTT berdampak pada 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Sebanyak 177.678 murid dan 21.166 guru serta tenaga kependidikan ikut terdampak. Dari jumlah tersebut, 923 sekolah terpaksa menerapkan pembelajaran dari rumah, 171 sekolah menggunakan pola lain, 35 sekolah memanfaatkan kelas darurat, dan hanya 30 sekolah yang masih melangsungkan pembelajaran tatap muka.
Kemendikdasmen tidak hanya fokus pada pemulihan fisik. Kementerian juga menggandeng himpunan psikologi dan sejumlah perguruan tinggi untuk memberikan pendampingan psikososial bagi para pendidik dan peserta didik. Langkah ini dinilai penting mengingat trauma pascagempa dapat menghambat proses belajar anak dalam jangka panjang.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah juga menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat. Panduan ini memberikan fleksibilitas dalam memilih moda dan materi, dengan fokus pada esensial literasi, numerasi dasar, serta dukungan psikososial. Selain itu, pendataan dampak dilakukan secara real-time melalui dashboard dan pos pendidikan di kabupaten terdampak diperkuat.
Menanggapi situasi ini, pengamat pendidikan menilai respons cepat pemerintah patut diapresiasi, namun tantangan terbesar adalah memastikan kualitas pembelajaran tetap terjaga dalam kondisi serba terbatas. "Tenda darurat memang solusi jangka pendek, tapi yang lebih krusial adalah keberlanjutan pendampingan psikologis dan adaptasi kurikulum darurat," kata seorang analis kebijakan pendidikan yang enggan disebut namanya.
Wamen Atip berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk mitra pendidikan, akademisi, dunia usaha, dan media massa, dapat mempercepat pemulihan sektor pendidikan di NTT. "Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan," tegasnya.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa cepat sekolah-sekolah tersebut dapat kembali beroperasi normal. Dengan bantuan yang terus mengalir dan koordinasi yang baik, diharapkan proses belajar mengajar di NTT dapat segera pulih, meski jalan menuju pemulihan penuh masih panjang.



