100 Siswa Sekolah Rakyat Tampil di Istana: Bukti Nyata Program Prabowo atau Sekadar Seremoni?
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 100 siswa dari berbagai daerah tampil dalam upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, menandai kehadiran program Sekolah Rakyat di panggung nasional.
- Tujuh di antaranya adalah peraih medali di bidang sains dan seni, menunjukkan potensi besar yang dimiliki anak-anak dari keluarga prasejahtera.
- Momen ini menjadi ujian bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa Sekolah Rakyat bukan hanya simbol, melainkan solusi nyata atas krisis pendidikan dan kemiskinan.

Jakarta, LyndHub โ Sebanyak 100 siswa Sekolah Rakyat dari berbagai penjuru Indonesia tampil dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Senin (17/8). Kehadiran mereka di tengah rangkaian acara kenegaraan bukan sekadar seremoni; ini adalah panggung pembuktian bagi program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto yang digadang-gadang sebagai jawaban atas persoalan kemiskinan dan akses pendidikan.
Mengenakan seragam safari khas Sekolah Rakyat lengkap dengan baret dan atribut identitas, para siswa itu berdiri sejajar dengan Paduan Suara Gita Bahana Nusantara membawakan lagu "Hari Merdeka". Raisya Putri Ahmad, siswi SRT 4 DKI Jakarta, tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya. "Senang, bahagia, dan excited banget karena kapan lagi bisa ke sini," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi. Ia juga menyampaikan terima kasih langsung kepada Presiden Prabowo yang dinilainya telah memberi ruang bagi anak-anak untuk kembali memimpikan masa depan.
Di balik sorak gembira itu, terdapat narasi yang lebih dalam. Dari 100 siswa yang tampil, tujuh di antaranya adalah peraih prestasi tingkat nasional. Mereka datang dari Bekasi, Palembang, Samarinda, Lombok Barat, Makassar, hingga Jayapura. Akbar Farrel Areva dari SRMA 13 Bekasi, misalnya, membawa pulang medali emas Olimpiade Sains Siswa Nasional (OSSN) bidang Matematika. Ajeng Irma Azil Liyah dari Palembang menyabet emas di Kompetensi Sains Nusantara. Sementara Zahira Al Zahra dari Lombok Barat unggul di cabang pencak silat, dan Ribka Elisabeth Rumpampam dari Jayapura menorehkan prestasi di bidang paduan suara.
Prestasi-prestasi ini menjadi bukti bahwa anak-anak dari keluarga prasejahtera memiliki potensi yang tidak kalah dengan mereka yang bersekolah di institusi elite. Namun, pertanyaannya kemudian: apakah momen ini akan menjadi titik balik bagi Sekolah Rakyat untuk benar-benar mengubah wajah pendidikan Indonesia, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah?
Program Sekolah Rakyat yang digagas oleh pemerintahan Prabowo memang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Sekolah ini menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu, dengan kurikulum yang mengombinasikan pendidikan formal dan keterampilan hidup. Sejak diluncurkan, program ini telah menuai beragam respons. Sebagian memuji sebagai langkah progresif, sebagian lain meragukan efektivitasnya dalam jangka panjang.
Yang menarik, penampilan para siswa ini bukan tanpa persiapan. Mereka menjalani latihan bertahap, mulai dari daerah masing-masing sepanjang Agustus hingga latihan terpadu di Jakarta. Ini menunjukkan komitmen serius dari pihak penyelenggara, sekaligus menjadi ajang promosi yang efektif bagi program tersebut. Namun, publik tentu berharap lebih dari sekadar panggung seremonial. Indikator keberhasilan Sekolah Rakyat seharusnya diukur dari seberapa banyak lulusannya yang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau mendapatkan pekerjaan layak.
"Pak Prabowo Subianto, terima kasih sudah menciptakan Sekolah Rakyat yang bikin kita bisa bangkit lagi dan mulai mimpi kita lagi," ungkap Raisya, mewakili perasaan bangga dan harapan besar dari anak-anak yang selama ini mungkin merasa terpinggirkan.
Bagi Indonesia, momen ini adalah pengingat bahwa masih banyak anak di pelosok negeri yang menanti kesempatan. Pertanyaan yang kemudian mengemuka: akankah Sekolah Rakyat menjadi jembatan bagi mereka untuk meraih mimpi, atau justru menjadi proyek yang hanya berhenti pada janji? Ke depan, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan program ini dengan anggaran yang memadai, pengawasan yang transparan, dan evaluasi berkala yang melibatkan masyarakat. Jika tidak, kehadiran 100 siswa di Istana hari ini hanyalah secercah harapan yang cepat padam.



