Inggris Kunci Puncak Klasemen Medali Aquatics Eropa: Dramatis di Sentuhan Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Tim renang Inggris merebut dua emas di hari pamungkas, memastikan posisi puncak dengan total 14 emas, unggul satu dari Italia.
- Keanna MacInnes memecahkan rekor Skotlandia di 200m kupu-kupu dan menjadi kunci kemenangan estafet medley putri dengan rekor kejuaraan.
- Dominasi Inggris di akuatik Eropa menegaskan kekuatan mereka menjelang Olimpiade Paris 2024, dengan potensi persaingan ketat melawan negara-negara Asia termasuk Indonesia.

Inggris Raya memastikan diri sebagai juara umum Kejuaraan Akuatik Eropa di Paris setelah merebut dua medali emas pada hari terakhir kompetisi, Minggu (23/6). Keanna MacInnes, perenang berusia 24 tahun, menjadi bintang dengan memecahkan rekor Skotlandia di nomor 200 meter kupu-kupu dan turut mengantarkan tim estafet putri meraih emas dramatis di 4x100 meter medley.
Kemenangan di nomor estafet menjadi penentu. Inggris mengungguli Italia hanya dengan selisih sepersepuluh detik, mencatat waktu 3 menit 53,50 detik yang sekaligus memecahkan rekor kejuaraan. Angharad Evans, yang sebelumnya meraih emas di 100 meter dada, memberikan kontribusi luar biasa dengan menjadi perenang gaya dada tercepat dalam sejarah estafet putri. Lauren Cox dan Freya Colbert melengkapi kuartet yang tampil solid di bawah tekanan.
Dengan tambahan dua emas di hari terakhir, Inggris mengoleksi total 14 emas, unggul satu atas Italia yang mengumpulkan 13 emas. Secara keseluruhan, skuad Inggris membawa pulang 26 medali dari Paris, terdiri dari 14 emas, 4 perak, dan 8 perunggu. Dari jumlah tersebut, 14 medali diraih dari cabang renang, sementara sisanya berasal dari loncat indah dan renang artistik.
Dominasi Inggris tidak hanya di nomor renang. Mereka juga memuncaki klasemen medali renang artistik dengan empat emas dan satu perunggu, serta menempati posisi keempat di klasemen loncat indah. Filip Nowacki, perenang muda berusia 18 tahun, turut menyumbang emas di nomor 200 meter dada putra, menunjukkan regenerasi yang sehat di tubuh tim Inggris.
Bagi Indonesia, pencapaian Inggris ini menjadi tolok ukur penting dalam perkembangan olahraga akuatik di Asia Tenggara. Meski belum berada di level elite Eropa, prestasi seperti ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di tingkat internasional. Indonesia sendiri tengah giat mempersiapkan atlet renangnya untuk SEA Games dan event internasional lainnya, dengan harapan dapat menembus babak final di ajang sebesar Olimpiade.
Keberhasilan Inggris juga menyoroti pentingnya pembinaan atlet muda. Filip Nowacki yang baru berusia 18 tahun mampu bersaing dan meraih emas di level Eropa. Ini menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk terus menggenjot program pembinaan usia dini, terutama di cabang renang yang selama ini menjadi andalan di SEA Games.
Dengan Olimpiade Paris 2024 yang tinggal menghitung hari, performa Inggris di kejuaraan ini menjadi sinyal bahaya bagi pesaingnya. Namun, pertanyaan besarnya adalah: mampukah mereka mempertahankan konsistensi ini di panggung Olimpiade? Atau justru akan ada kejutan dari negara-negara Asia seperti Tiongkok dan Jepang yang selama ini menjadi raksasa renang dunia?



