Tang See Chim Wafat: Politisi yang Membela Petani Singapura Tutup Usia di 94
Baca dalam 60 detik
- Mantan anggota parlemen Singapura yang dikenal gigih membela petani terdampak relokasi, Tang See Chim, meninggal dunia pada Sabtu (15/8) dalam usia 94 tahun.
- Karier politiknya selama 22 tahun di Chua Chu Kang ditandai dengan perjuangan menunda penggusuran peternakan babi dan memastikan kompensasi yang layak bagi warga.
- Warisan Tang tidak hanya di panggung politik, tetapi juga di dunia hukum, di mana ia menjadi mentor bagi banyak pengacara dan menerima penghargaan tertinggi Law Society.

Singapura kehilangan salah satu tokoh pengabdian publiknya. Tang See Chim, yang mewakili daerah pemilihan Chua Chu Kang selama 22 tahun dan dikenal sebagai pembela gigih warga yang terkena dampak pemukiman kembali, meninggal dunia pada Sabtu (15/8) di usia 94 tahun. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang tentang dedikasi dan empati di tengah derasnya arus pembangunan kota-negara itu.
Tang, yang juga seorang pengacara, memulai karier politiknya pada 1968 setelah memenangkan kursi tanpa lawan dalam pemilihan sela. Selama bertahun-tahun, ia memegang berbagai jabatan penting, termasuk Menteri Negara Keuangan (1970-1972) dan Wakil Ketua Parlemen (1972-1981). Namun, yang paling melekat dari sosoknya adalah perjuangannya untuk para petani di Chua Chu Kang, sebuah daerah yang kala itu masih rural dan tengah menghadapi gelombang pembangunan yang cepat.
Perdana Menteri Lawrence Wong, dalam unggahan Facebook-nya pada Minggu (16/8), mengenang Tang sebagai sosok yang rela meninggalkan karier hukum yang menjanjikan demi pelayanan publik. "Dia melayani Singapura dengan dedikasi dan integritas," tulis Wong. Menteri Perdagangan dan Industri, Tan See Leng, yang juga anggota parlemen untuk Chua Chu Kang GRC, menambahkan bahwa komitmen Tang terhadap konstituennya akan selalu dikenang.
Perhatian Tang terhadap nasib petani mulai terlihat sejak awal kariernya. Pada 1966, ia mengangkat isu fragmentasi lahan pertanian akibat pemukiman kembali di parlemen. Ketika pemerintah mulai menghapus peternakan babi pada 1980-an karena dianggap sangat polutif, Tang melobi Kantor Perdana Menteri dan berhasil menunda rencana tersebut selama tiga hingga lima tahun. Ia juga memperjuangkan kompensasi yang cepat dan memadai bagi para petani yang terkena dampak, menggambarkan pengalaman itu sebagai "traumatis" karena mencabut akar kehidupan mereka.
Dalam salah satu pidato terakhirnya di parlemen pada 1988, Tang menyerukan agar pemerintah bersikap welas asih. "Mari kita melihat masalah ini dengan hati-hati dan memperlakukan masalah pemukiman kembali dengan belas kasih, bukan hanya berdasarkan teori ekonomi," ujarnya. Sikapnya yang teguh membuatnya menolak tawaran pindah ke daerah pemilihan lain pada 1976, karena merasa harus membantu ribuan petani dan warga mencari rumah baru dan mata pencaharian alternatif.
Kiprah Tang tidak berhenti di politik. Setelah pensiun pada 1988, ia kembali ke dunia hukum dan menjadi konsultan di firma David Lim & Partners, serta memimpin komite disiplin Law Society of Singapore dari 1993 hingga 2004. Penghargaan tertinggi Law Society, CC Tan Award, diraihnya pada 2011. Rekan-rekannya di David Lim & Partners mengenangnya sebagai "sumber kebijaksanaan, perspektif, dan dorongan yang tenang", yang menggabungkan penilaian komersial, semangat publik, dan kejelasan moral.
Kisah Tang See Chim menawarkan pelajaran berharga tentang arti pengabdian yang tulus. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang kerap mengorbankan kelompok rentan, ia memilih berdiri di sisi warga kecil. Pertanyaannya, mampukah generasi pemimpin masa kini meniru keteguhan dan empati yang ia tunjukkan? Warisan Tang adalah pengingat bahwa kebijakan pembangunan yang beradab harus selalu diukur dari dampaknya terhadap manusia, bukan sekadar angka pertumbuhan.



