Arsenal Kokoh di Puncak Prediksi Premier League 2026-27: 25 dari 28 Pakar BBC Yakin The Gunners Pertahankan Gelar
Baca dalam 60 detik
- Mayoritas pakar BBC (89%) memproyeksikan Arsenal kembali juara Premier League musim 2026-27, berkat stabilitas skuad dan rekrutan Bruno Guimaraes.
- Manchester City dianggap tengah dalam masa transisi pasca-Pep Guardiola, dengan hanya 12% pakar yang meyakini mereka bisa merebut gelar.
- Liverpool dan Chelsea diprediksi bersaing ketat di papan atas, namun masih menghadapi tantangan adaptasi pelatih baru dan keseimbangan skuad.

Liga Premier Inggris musim 2026-27 belum bergulir, tetapi peta persaingan sudah mulai terlihat jelas. Sebanyak 25 dari 28 pakar sepak bola BBC menempatkan Arsenal sebagai kandidat terkuat untuk mempertahankan gelar juara yang baru saja mereka raih setelah penantian 22 tahun. Keyakinan ini bukan tanpa alasan: The Gunners dinilai memiliki keunggulan kontinuitas yang tidak dimiliki rival-rival utamanya.
Konsensus yang hampir bulat ini muncul dari survei yang melibatkan 26 pundit BBC, ditambah prediksi kecerdasan buatan (AI) dan superkomputer Opta. Menariknya, ketiga sumber prediksi tersebut—manusia, AI, dan algoritma—sepakat menempatkan Arsenal di posisi teratas. Padahal, musim lalu hanya 17% prediktor yang berani memilih Arsenal sebagai juara. Kini, tidak ada satu pun yang berani menempatkan mereka di bawah peringkat kedua.
Kunci optimisme terhadap Arsenal terletak pada stabilitas yang mereka miliki. Mikel Arteta masih bertahan sebagai manajer, dan skuadnya tidak kehilangan pemain kunci. Sebaliknya, mereka justru memperkuat lini tengah dengan mendatangkan Bruno Guimaraes, yang langsung tampil impresif di Community Shield. Kombinasi Guimaraes dengan Declan Rice dan Martin Zubimendi membuat lini tengah Arsenal tampak menakutkan. Mantan pemain The Gunners, Theo Walcott, menilai bahwa keunggulan terbesar Arsenal adalah kesinambungan, sesuatu yang tidak dimiliki tim-tim lain yang sedang dalam masa transisi.
Di sisi lain, Manchester City memasuki musim ini dengan tanda tanya besar. Kepergian Pep Guardiola digantikan oleh Enzo Maresca, dan kehilangan sejumlah pemain senior seperti Rodri, John Stones, dan Bernardo Silva menjadi pukulan telak. Meski skuad masih dihuni pemain kelas dunia seperti Erling Haaland, banyak pundit meragukan kemampuan Maresca untuk langsung beradaptasi. Troy Deeney bahkan melontarkan kritik tajam, menyebut Maresca sebagai "versi BTEC dari Guardiola" karena dianggap tidak memiliki fleksibilitas taktik. Namun, ada juga yang optimis, seperti Shay Given yang percaya bahwa kehadiran pelatih baru justru bisa membangkitkan motivasi pemain yang haus gelar.
Liverpool, yang musim lalu menjadi favorit juara di mata 22 dari 35 prediktor, kini hanya didukung oleh empat orang untuk finis di atas posisi ketiga. Andoni Iraola, yang sukses di Bournemouth, dihadapkan pada tantangan besar menggantikan era Jurgen Klopp. Meski memiliki lini depan impresif dengan Alexander Isak dan Florian Wirtz, kekhawatiran utama adalah keseimbangan antara serangan dan pertahanan. Sementara itu, Chelsea justru dipandang sebagai kuda hitam. Tanpa beban kompetisi Eropa, The Blues diyakini bisa fokus penuh di liga domestik. Kehadiran Xabi Alonso sebagai manajer, plus pengalaman Danny Welbeck dan Jordan Henderson, diharapkan mampu memberikan kestabilan yang selama ini kurang.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, dinamika ini menarik untuk diikuti. Banyak pemain yang memperkuat klub-klub tersebut juga menjadi langganan tim nasional, sehingga performa mereka di Premier League sering kali menjadi sorotan. Selain itu, persaingan ketat di papan atas Inggris selalu memengaruhi bursa transfer global, termasuk potensi kedatangan pemain Asia Tenggara ke liga tersebut. Dengan bursa transfer yang masih berjalan hingga 1 September, keputusan akhir klub-klub besar akan menentukan apakah prediksi para pakar ini akan menjadi kenyataan atau justru berakhir mengejutkan.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah Arsenal mampu mengatasi tekanan sebagai juara bertahan, atau justru terpeleset seperti yang sering terjadi pada tim-tim papan atas? Atau mungkinkah Manchester City bangkit di bawah Maresca dan membuktikan bahwa transisi tidak selalu berarti kemunduran? Musim 2026-27 akan menjadi jawabannya.



